Kecerdasan Emosional (EQ)


Kecerdasan Emosional (EI)
oleh Ila Violeta Yayank pada 13 Maret 2011 jam 1:48

Kecerdasan Emosional atau Emotional Intellegence adalah kecerdasan yang meliputi kemampuan mengenali emosi diri sendiri, mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat, serta kemampuan mengenali emosi orang lain dan juga dalam bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil tindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali dan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan menanggapinya secara tepat.

Nah..setelah memahami pengertian tentang kecerdasan emosional itu..apakah Anda merasa bahwa Anda sudah memiliki kecerdasan emosional? dimana nota bene nya…diklaim bahwa kecerdasan emosional ini lebih berperan utama dibandingkan dengan kecerdasan Intelektual (IQ) dalam meraih kesuksesan dalam pekerjaan. Hal ini tak terbantahkan dengan adanya penelitian yang menemukan bahwa kecerdasan Intelektual (IQ) hanya berperan sebesar 4-25 % dalam kesuksesan pada pekerjaan. Mengapa bisa terjadi demikian?

Coba kita perhatikan…Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di sinilah kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan yang lebih jauh.

Terkadang orang yang pintar secara intelektual kurang memiliki kematangan secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat cerdas, memiliki kemampuan analisa yang kuat, serta kecepatan belajar yang tinggi. Namun jika harus bekerja sama dengan orang lain dia akan mengalami kesulitan. Begitu pula jika dia harus memimpin maka akan cenderung memaksakan pendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya kecenderungan sulit diatur.

Orang seperti ini mungkin saja akan melejit jika bekerja pada bidang yang menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang lain. Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah tim yang unggul.

Tentu saja kecerdasan emosional ini bukan hanya penting dalam dunia pekerjaan, melainkan juga dalam kehidupan bermasyarakat serta berinteraksi dengan orang lain karena menurut perkataan Daniel Goleman bahwa orang-orang yang sering bertindak ceroboh, tanpa berfikir panjang, tidak memiliki empati dan kurang bersabar merupakan orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. Hal ini tentunya tidak hanya membawa petaka bagi dirinya sendiri, tetapi juga sangat membahayakan orang lain dan lingkungannya.

Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia , ketika dia mengambil keputusan tidak jarang keputusan yang diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionya (akalnya), karena seluruh keputusannya memiliki warna emosional. Jika kita memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosinya daripada akal sehatnya. Tragisnya, semakin banyak saat ini orang yang memiliki tingkat emosional yang rendah. Daniel Goleman juga mengatakan bahwa yang menentukan sukses dalam kehidupan manusia bukanlah kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan emosional.

Kecerdasan Emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri itu disebut sabar.Menurut Jalaluddin Rakhmat, orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia memiliki empati yang tinggi, tanggap terhadap lingkungan sosialnya, berdisiplin dan bertanggung jawab. Ia berhasil mengatasi berbagi gangguan dan tidak memperturutkan emosinya. Ia dapat mengendalikan perilakunya dan emosinya. Oleh karena itu, marilah kita memperkaya kecerdasan emosional kita dengan menjadi orang yang sabar sehingga dapat bermanfaat bagi kita smua..amiennn…