Penantian Tak Berujung


Manokwari Selatan, 1 Juli 2019

Berdasarkan Program Nawacita kelima Pemerintah Republik Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang salah satunya adalah pemerataan kebutuhan pendidikan di daerah terpencil, maka Kementrian Pendidikan bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Aparatur negara menghadirkan terobosan mengirim tenaga pendidik melalui Program Guru Garis Depan (GGD). Pemerintah telah berhasil mengirimkan Guru Garis Depan Tahap I tahun 2015 sebanyak ± 786 tenaga pendidik yang tersebar dan mengabdikan diri di pelosok negeri. Kehadiran mereka telah memberi warna dan nafas baru bagi kebangkitan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah tertinggal.

Program Guru Garis Depan Tahap I telah berhasil mengurangi permasalahan tenaga pendidik di daerah terpencil. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu untuk menambah jumlah Guru Garis Depan yang siap mengabdikan diri dalam upanya menyelesaikan pemerataan pendidikan daerah terpencil, sehingga dilaksanakanlah perekrutan Program Guru Garis depan tahap II pada tahun 2016.

Pelaksanaan tersebut sudah pasti menghabiskan anggaran yang sangat besar, kemudian hal tersebut telah menjadi harapan yang sangat besar bagi setiap peserta.

Apresiasi tertinggi kami sampaikan kepada pemerintah yang telah melakukan pemerataan pendidikan hingga daerah terpencil untuk turut mewujudkan Nawa Cita Presiden Tersebut.
Kami yang berusia 35 tahun ke atas telah memiliki masa kerja yang sesuai dengan klasifikasi perundang-undangan untuk pengangkatan CPNS sehingga kami pun diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi administrasi dan kompetensi dasar yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilaksanakan pada bulan September 2016.
Namun, sangatlah disayangkan ketika pengumuman rilis pada bulan Juni 2017 (setelah menunggu 9 bulan lamanya), nama kami ada di daerah pilihan namun tak ada sekolah penempatan. Hal ini membuat kami mulai khawatir dan bertanya kepada pihak Pemerintah Kabupaten sasaran (daerah pilihan kami) dan rupanya pihak Pemkab tak paham tentang kondisi ini dan menyerahkan ke pemerintah pusat untuk penjelasannya (dalam hal ini pihak KEMDIKBUD, KEMENPAN DAN BKN).

Namun dari rangkaian perjalanan pengaduan yang kami alami, telah terjadi sebuah permainan tarik ulur antara pihak terkait yang membuat kami kecewa, malu, sedih dan kehilangan semangat. Terlebih lagi, ada beberapa dari rekan kami yang berjumlah 40 orang telah mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) karena dianggap telah lulus CPNS. Kami terombang-ambing dalam ketidakjelasan status antara LULUS atau TIDAK LULUS. Kami pun telah ditanyai oleh kerabat, sahabat dan handai taulan tentang ‘mengapa kami belum berangkat ke daerah 3T’. Semua perasaan ini kami pendam dan kami rawat dengan sebuah harapan akan ada perhatian lebih terkait kejelasan nasib kami dari pihak KEMDIKBUD orangtua yang telah membesarkan dan merawat kami.

Padahal dari keseluruhan regulasi dan mekanisme perekrutan CPNS GGD tahap ll ini sudah kami ikuti dan laksanakan sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang jika dari 6296 orang itu sudah dinyatakan lulus dan berhak untuk bisa menjadi CPNS tentunya jika dilihat dari program afirmasi pemerintah pusat dan masuk program Nawacita presiden RI.

Dua tahun lebih lamanya kami bersabar dan menantikan kabar gembira, namun tak jua kunjung ada secercah sinar harapan. Oleh karena itu, kami yang berjumlah 40 orang akhirnya dengan modal nekad dan tekad yang kuat, kami memberanikan diri mengunjungi beberapa kementerian terkait permasalahan kami.

Secara manusiawi, kami sangat memohon dengan penuh kerendahan hati agar kami dapat merasakan kebahagiaan sebagai CPNS GGD 2016 untuk mewujudkan impian dan kebahagiaan keluarga terutama orang tua, suami/istri, dan anak-anak kami (bagi yang sudah berkeluarga). Penantian selama 2 tahun bukanlah waktu yang lama jika dibandingkan dengan masa 20 tahun bahkan lebih yang telah kami jalani dalam pengabdian sebagai tenaga sukarela di mana ketika ada pengangkatan K1 dan K2 pun kami terpinggirkan karena keterlibatan beberapa oknum yang lebih mendahulukan kelurga walaupun masa kerja mereka belumlah layak memenuhi persyaratan.

Sehubungan dengan kejadian tersebut, maka kami telah mengajukan surat pengaduan pertanggal 21 Juni 2019.

Untuk melengkapi pengaduan tersebut, maka berikut ini kami menyampaikan kronologis permasalahan yang telah kami alami sebagai berikut:

1. Pada saat pendaftaran GGD 2016 di bulan Agustus terdapat persyaratan umum pada poin 1 yaitu berusia antara 18 – 35 tahun pada tanggal 18 Agustus 2016. Bagi pelamar yang berusia lebih dari 35 tahun dan kurang dari 40 tahun pada tanggal tersebut harus memiliki masa kerja terus-menerus sejak 1 April 1997 pada instansi pemerintah dan atau lembaga swasta yang berbadan hukum yang menunjang kepentingan nasional. Hal ini terdapat pada nomor : 30660/A3/KP/2016 tentang Penerimaan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) Kemendikbud Tahun 2016 (data terlampir). Hal inilah yang mendasari besarnya harapan kami agar kami dapat pula diangkat sebagai CPNS GGD 2016 dengan mempertimbangkan masa pengabdian kami yang bahkan ada yang sudah melebihi 20 tahun.

2. Pada tgl 15 – 18 September 2016 diadakan SKD CAT oleh Kemdikbud dimana sebelumnya kami telah mengirimkan berkas persyaratan sebagai bagian dari kelulusan seleksi administrasi.

3. Pada bulan Desember 2016, Kemdikbud mengundang seluruh potensi CPNS GGD 2016 (6296 orang) untuk mengikuti Bimtek PKB di Jakarta dalam beberapa tempat yang dikelompokkan sesuai daerah kabupaten pilihan masing-masing dimana pada surat undangan tersebut dengan jelas dikatakan bahwa sambil menunggu pengumuman kelulusan.

4. Setelah menunggu kurang lebih 9 bulan akhirnya baru diumumkan pada bulan Juni 2017 dimana pada saat pengumuman nama kami yg berusia 35 thn ke atas terdapat pada hasil kelulusan seleksi CAT di kabupaten pilihan kami namun tidak mendapatkan sekolah penempatan sehingga kami tidak memperoleh NIP dan tanpa pemberitahuan yang jelas kepada kami padahal Kemdikbud menyatakan pada media cetak dan di websitenya bahwa sebanyak 6296 peserta GGD lulus dan ditempatkan di 3T (data terlampir), di sini kami merasa dianaktirikan dan tidak dipedulikan serta diberikan harapan yang tidak jelas.

5. Sebelum tahap penetapan NIP berlangsung maka pd tgl 03 Juli 2017 kami mengirim perwakilan teman usia 35 ke atas untuk membawa surat perihal menanyakan kejelasan akan nasib kami pada Biro Kepegawaian Kemdikbud dan diberikan jawaban bahwa sesungguhnya Kemdikbud sangat ingin merekrut kami karena daerah 3T masih sangat kekurangan guru namun semua keputusan ada pada Kemenpan-RB. Namun kami diminta untuk bersabar menunggu hasil konfirmasi dari KeMenpan setelah Penetapan NIP selesai (25 Juli 2017) dan dikatakannya bahwa kami mungkin akan diarahkan menjadi PPPK(Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak) karena terbentur pada PP No.11 tahun 2017 tentang Manajemen Kepegawaian.

6.Karena memperoleh jawaban dari twitter pak Harry Setyawan (Staf KeMenPan) yang ketika ditanya tentang nasib kami dan dijawab oleh beliau bahwa silakan menunggu formasi P3K(PPPK). Lalu kami pun menanyakan kembali kapan perekrutan P3K kemudian beliau menyatakan bahwa belum ada rencana. Karena penantian kami tak kunjung memperoleh hasil yang menggembirakan akhirnya Pelapor mengajukan Pengaduan kepada Ombudsman.

7. Pada tanggal 7 Agustus 2017, kembali perwakilan teman-teman mengutus dua orang untuk menghadap kepada Kemdikbud yaitu menemui staf Biro Kepegawaian pada sub bagian perencanaan dan pengadaan GTK yaitu ibu Ifah dan diarahkan untuk menemui staf di Biro Kepegawaian KeMenPan yaitu Bapak Haris dan dinyatakan bahwa kami terbentur PP No.11 thn 2017 terkait Manajemen Kepegawaian dan menunggu P3K yang saat itu payung hukumnya masih dalam proses sehingga kami tak ada regulasi untuk diangkat menjadi CPNS. Dan sekitar seminggu setelah itu, maka kami dikirimkan surat balasan terkait pengaduan kami bahwa kami menunggu payung hukum P3K dilegalkan yang ditargetkan paling lambat akhir tahun 2018.

8. Setelah menunggu beberapa bulan dan sambil terus menggali informasi mengenai keberlanjutan penyelesaian masalah kami, maka kami melakukan pengaduan melalui telepon pada tanggal 28 November 2018 di nomor pengaduan Kemdikbud yaitu di (021) 57903020, 57903017 dan oleh operator telepon di kantor ULT KEMDIKBUD, kami diarahkan untuk menghubungi nomor dari Ditjen GTK yaitu di nomor 081310001841. Kemudian pada keesokan harinya, kami menghubungi nomor tersebut dan menceritakan tentang permasalahan kami dan dijawab bahwa untuk pengangkatan PNSnya dikembalikan ke daerah masing-masing. Lalu kami menjawab bahwa kami telah menanyakan ke daerah namun mereka pun tidak tahu tentang bagaimana menyikapinya. Setelah berdialog cukup lama dan tidak ada kejelasan akhirnya dialog di telepon ditutup. (rekaman telepon terlampir)

9. Pada Desember 2018, kami mengirim sebuah surat terbuka melalui email kepada Kementerian PAN-RB, Kemendagri dan juga Kemdikbud. Dari Kemdagri dibalas bahwa pengaduan kami tersebut akan diteruskan kepada Kemdikbud. Kami pun melakukan komunikasi melalui WA Pribadi staf Dirjen GTK yaitu Bapak Tagor Alamsyah Harahap dan beliau menyarankan kami untuk bersurat ke Sekretariat Negara, Kemdagri dan juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sambil menunggu informasi balasan email kami, maka kami membuat sebuah laporan ke laman lapor.go.id pertanggal 21 Desember 2018 dan mendapat balasan bahwa laporan kami tersebut telah didisposisikan ke Kemdikbud. Setelah didisposisikan ke Kemdikbud kemudian Kemdikbud mendisposisikannya ke KeMenPAN-RB, lalu dari KeMenPAN-RB diteruskan ke Panselnas CPNS.

10. Lalu pada bulan Mei 2019, Panselnas menyarankan untuk membuat surat secara resmi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Kepegawaian Negara.

11. Karena kami merasa terkatung-katung akhirnya kami datang langsung menanyakan laporan sebelumnya di line pengaduan ULT Kemdikbud, yaitu pada tanggal 24 Juni 2019. Setelah menunggu beberapa jam, maka kami dipanggil dengan nomor antrian M007 dan petugas di loket pengaduan memberikan gagang telepon pada kami untuk berbicara dengan petugas yang sekiranya bisa memberikan penjelasan terkait pengaduan kami sebelumnya. Sesungguhnya kami agak kecewa karena sudah hadir langsung ke pengaduan Unit Layanan Terpadu namun hanya diberikan kesempatan untuk berbicara di gagang telepon bahkan kami sempat mengatakan bahwa jika cara penanganannya hanya seperti ini maka apakah ada bedanya dengan mengadu melalui telepon dari Papua Barat sana? Di ujung telepon suara seorang ibu yang menanyai saya terkait apa yang ingin kami keluhkan, lalu pelapor ( Irawati) menyampaikan kronologis kejadiannya dari awal seperti yang ada pada kronologis ini. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah setiap laporan yang masuk melalui telepon bisa direspon ataukah setidaknya dicatat keluhannya karena laporan kami tersebut sudah berkali-kali kami sampaikan. Kemudian jawaban ibu tersebut bahwa beliau kurang paham dengan kasus kami, katanya “koq ada yang seperti itu ya?”. Beliau pun meminta untuk berbicara dengan petugas di loket, setelah mereka berbicara lalu gagang telepon kembali diberikan pada saya. Ternyata yang berbicara dengan saya adalah orang yang lain lagi karena itu saya kemudian diminta untuk menceritakan ulang permasalahan kami..Ya Allah, mengapa harus seperti ini? Kami seakan-akan dioper kesana kemari. Setelah menceritakan kembali, si ibu tersebut berkata bahwa minta maaf ibu, saya kurang paham tentang permasalahan ibu. Jadi ada baiknya ibu menanyakan langsung ke bagian Guru dan Tenaga Kependidikan. Nah, ibu bicara dengan beliau nih…setelah saya berbicara lagi dengan petugas tersebut (yang merupakan orang baru/ketiga) lalu saya mulai mengatakan bahwa mengapa saya harus berbicara dengan banyak orang seperti ini di telepon? Apakah tidak lebih baik jika kami bertemu langsung saja supaya bisa lebih jelas? Lalu ibu tersebut mengatakan, baiklah ibu, karena kebetulan ibu ada di Kemdikbud maka kami sarankan ke Biro Kepegawaian Kemdikbud dan boleh saya catat nomor telepon ibu? Lalu saya menjawab, baik silakan dicatat..mungkin kalau dicari di buku laporan ULT nomor saya sudah tercatat banyak kali karena saya sudah dimintai beberapa kali pula. Di akhir pembicaraan saya meminta nama dari petugas yang melayani kami tersebut, jadi akhirnya saya bisa mengetahui nama dari petugasnya yaitu ibu Yusna.

12. Setelah dari ULT Kemdikbud, maka sesuai arahan dari petugasnya, kami langsung menuju ke lantai 5 untuk menuju ke Biro Kepegawaian Kemdikbud. Di resepsionis, kami diminta ke dalam untuk menemui ibu Ifah yang duduk di meja Sub Perencanaan dan Pengadaan GTK. Ibu Ifah ini adalah orang yang sama yang ditemui pada saat pengaduan pertama kali di bulan Agustus 2017. Lalu beliau menjelaskan bahwa beliau selalu berkoordinasi terkait permasalahan kami dengan direktur Masyarakat SM-3T Indonesia (MSI), Akhiruddin, S.Pd., M.Pd.,Gr. yang selama ini menaungi kami selaku alumni SM-3T. Beliau pun menyampaikan bahwa untuk persoalan/masalah kami ini sudah dianggap selesai karena adanya pembatasan usia. Saya pun bertanya, koq bisa demikian bu? Padahal Tenaga Kesehatan (dokter dan bidan PTT Kemenkes) yang pernah mengalami nasib yang sama dengan kami telah diangkat sebagai CPNS dan memeroleh SK. Lalu beliau menjawab bahwa kabar itu belum pasti dan saya dengar-dengar bahwa Keppres tersebut dicabut kembali. Namun saya menjawab bahwa teman kami di Aceh dan Buton (Sulawesi Tenggara) menyampaikan demikian karena sahabatnya yang permasalahannya sama dengan kami dari bidan PTT sudah diangkat dan diberikan SK.

Karena saya merasa sedih dan kecewa dengan jawaban beliau yang mengatakan bahwa permasalahan kami sudah ditiadakan, serta merta saya mengatakan bahwa Kemdikbud telah berlaku tidak adil pada kami, kami merasa dianaktirikan. Bu Ifah pun menjawab, tidak ibu..jangan bicara seperti itu, kami tidak pernah menganaktirikan ibu dan teman-teman. Lalu saya menjawab, maaf bu, itu adalah jawaban spontan yang disebabkan rasa sedih dan kecewa ketika ibu mengatakan bahwa masalah kami dianggap sudah tidak ada pdahal dulu ibu sendiri yang bersurat bahwa kami harus menunggu paling lambat Desember 2018 dan payung hukum P3K dilegalkan. Namun kenyataannya sampai saat ini pun tidak ada berita. Beliau menjawab, “iya bu, tapi ibu juga tidak memaksakan untuk diangkat menjadi PNS karena sudah tak ada lagi pengangkatan PNS yang ada hanyalah P3K dan kedepannya juga untuk guru dan tenaga kesehatan hanya akan merekrut P3K.
Setelah memperoleh kejelasan dari ibu Ifah bahwa kami tidak bisa diangkat CPNS melalui quota kami di GGD 2016 lalu seperti bidan PTT dan P3K pun tidak serta merta dapat diangkat maka kami mohon pamit untuk selanjutnya menuju ke Kementerian PAN-RB. Lalu beliau menyarankan untuk menemui Bapak Haris staf di bagian pengisian E-Formasi Kebutuhan CPNS dan P3K.

12. Di gedung Kementerian PAN-RB, kami diarahkan untuk menuju ke lantai 5 dan menunggu selama kurang lebih 2 jam lebih karena beliau (Bpk Haris) sedang rapat. Setelah beliau selesai rapat dan tiba di ruang tunggu lantai 5, maka kami pun meminta waktu beliau untuk menanyakan perihal kedatangan kami. Lalu kami sampaikan bahwa kami hendak memohon penjelasan beliau terkait kelanjutan dari hasil seleksi CPNS GGD 2016. Beliau menjawab bahwa, “ Apalagi yang mau ditanyakan,Bu? Bukankah sudah jelas dari awal bahwa regulasinya tidak ada sehingga ibu tidak bisa diangkat sebagai CPNS.!” Lagi-lagi saya harus menjadikan KEPPRES untuk Bidan PTT sebagai acuan kami. Saya menanyakan bahwa mengapa kalau seandainya kami tidak bisa diangkat, lalu mengapa bidan PTT bisa? Bukankah dengan jelas sudah dinyatakan oleh Menpan RB bahwa CPNS Guru Garis Depan merupakan formasi khusus yang memperoleh afirmasi dan perssetujuan dari Presiden serta merupakan bagian dari Program Nawacita ke-3 dan ke-5 beliau. Kami pun telah mengikuti Bimtek Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan di Jakarta dan dibagikan perlengkapan berupa Rompi, Topi dan Tas bertuliskan Guru Garis Depan.
Akan tetapi, pertanyaan kami tersebut dibalas oleh beliau seperti ini, “ Lha koq nanyanya ke saya, saya kan gak tahu…” jadi saya pun menjawab, “Maafkan kami Pak! Kami sudah memberikan beban pertanyaan ke Bapak” Lalu, kira-kira kalau kami hendak menempuh jalur seperti yang telah dilakukan oleh KeMENKES untuk memperoleh KEPPRES Pengangkatan CPNS Dokter dan Bidan PTT ke Presiden, apakah bisa dan kira-kira bagaimana caranya?”
Pak Haris menjawab dengan nada agak kesal (mungkin pengaruh lelah) “ Nggak tahu,.maaf ya…saya masih banyak pekerjaan. Jadi saya sampaikan seperti tadi bahwa kalian 40 orang itu sudah dianggap selesai kasusnya, tunggu aja P3K dan bersaing dengan pendaftar lain yang ada di daerah”. Lalu, Conny (teman saya) pun bertanya, Pak..apakah kami tidak bisa diprioritaskan dan diberi semacam surat rekomendasi dari MENPAN-RB yang dapat ditujukan ke daerah untuk diprioritaskan? Beliau menjawab, “Ya gak bisa seperti itu dong! Kalian harus tetap mengikuti seleksi P3K.
Lalu saya pun memohon maaf untuk mengakhiri percakapan kami disamping beliau pun memang juga lagi sibuk menurut pengakuannya ( padahal saya sebenarnya kecewa dengan pernyataan beliau yang seakan-akan menutup jalan bagi kami untuk kami mempertanyakan CPNS GGD ini).

13. Karena belum puas dengan pak Haris, akhirnya kami menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Bapak Arizal, Asisten Deputi Perencanaan dan Pengadaan SDM Aparatur di KeMENPAN-RB. Kebetulan beliau sedang berbincang-bincang dengan dua orang tamu sehingga kami menunggu waktu yang tepat untuk dapat menyampaikan permasalahan kami.
Dan beliau berbaik hati meluangkan waktunya untuk mendengarkan permasalahan kami. Setelah kami menceritakan kronologis masalah kami dari awal, beliau menyarankan pada kami untuk membuat semacam surat permohonan kepada Menteri PAN-RB yang ditembuskan kepada KEMDIKBUD. Dan pada tanggal 28 Juni 2019, kami memasukkan surat yang dimaksud.

14. Pada Hari Senin, 1 Juli 2019 kami mengajukan pengaduan pula ke kantor Badan Kepegawaian Negara di bagian Layanan Kepegawaian Terpadu yang diterima oleh bagian WASDA. Respon beliau sangat mencerahkan. Beliau mengatakan bahwa memang pada tahun 2017 BKN melakukan audit terkait CPNS GGD dan sudah tidak ada permasalahan lagi walaupun dikatakannya bahwa memang terdengar bahwa ada 40 orang yang usianya sudah lewat dari 35 tahun namun tidak dinyatakan dalam audit bahwa kami (40 orang)ini tidak diangkat sebagai CPNS ataupun dipending. Kami menyikapi bahwa pernyataan beliau tersebut merupakan pengakuan bahwa sejumlah 6296 CPNS Guru Garis Depan telah ditempatkan di 183 daerah 3T yang bersumber dari website Kemdikbud di http://www.kemdikbud.go.id (salinan terlampir).
Sebagai tanggapan dari pihak Layanan Kepegawaian Terpadu, maka beliau menerima surat dan beberapa file pendukung termasuk siaran pers dari BKN sesuai dengan pernyataan tersebut di atas (file terlampir). Kemudian beliau pun menyarankan kepada kami untuk bersurat ke KEMENPAN-RB, KEMDIKBUD dan SETNEG sebagai upaya agar permasalahn kami ini bisa ditindaklanjuti oleh para pemangku kebijakan untuk bisa memperoleh hak kami.

Kami, peserta CPNS GGD 2016 yang jumlahnya 40 orang ini sangat kecewa dengan kebijakan dari pusat yang kelihatannya mempersulit kami dengan dasar / dalih ( kami yg berusia di atas 35 tahun terbentur UU ASN tahun 2014 dan PP Manajemen Kepegawaian tahun 2017 (tanpa melihat program nawacita presiden RI dan pengalaman perekrutan CPNS GGD tahap 1).

Jika kita bertolak pada dasar dari GGD 1(2015) sebelumnya dimana mereka telah lulus sebagai PNS di 3T dan ikut serta menjalankan program Presiden sebagai bagian Nawacita ke 3 dan 5) padahal UU ASN telah terbit jauh sebelum perekrutan GGD 1 (April 2015) dan jika dikatakan terbentur pada PP terkait Manajemen Kepegawaian No.11 tahin 2017, bukankah kami direkrut pada tahun 2016..mengapa kami harus mendapat imbasnya? Begitupula dengan persyaratan kelulusan yang harus memenuhi passing grade tertentu, namun nilai yang sangat minim bahkan ‘0’ pun diluluskan. Bukankah ini sangat tidak adil bagi kami?

Sungguh, hati kami sangat tersakiti dan merasa dikecewakan karena telah diberi angin segar dan harapan akan diluluskan karena GGD ini adalah FormASI KHUSUS. Begitupula dengan pemberitaan di berbagai media yang menyatakan kelulusan seluruh peserta. Belum lagi rasa malu yang harus ditanggung oleh kami karena ada yang sudah resign dari tempat kerja ketika mendapat undangan Bimtek PKB dan adapula yang sudah diberhentikan pada saat itu.
Jika saja kami akan diangkat sebagai P3K yang belum jelas payung hukumnya maka akankah nasib kami menjadi pegawai kontrak seumur hidup? Apakah kami tidak berhak menjadi CPNS seperti mereka yang berusia di bawah 35 padahal kinerja kami pun tak kalah dengan mereka? Apakah faktor usia harus membatasi pengabdian kami dengan tidak jelas?Namun kami tetap bersikukuh pada perolehan hak kami yaitu menjadi CPNS Guru Garis Depan melalui penetapan NIP dan pemberian SK sesuai formasi di kabupaten yang telah kami pilih tersebut.

Para Pemangku Jabatan yang terkait!

Mohon maaf jika ada tutur bahasa maupun ada kalimat kami yg kurang berkenan di hati. Namun kami menyerahkan harapan kami agar dapat memperoleh bantuan untuk bisa menyelesaikan permasalahan kami sehingga nasib kami bisa setara dengan Dokter Ahli dan Bidan PTT dimana mereka telah memperoleh SK Pengangkatan sebagai CPNS melalui KEPPRES No.28 Tahun 2018 sehingga kami dapat melanjuttkan pengabdian dan memperoleh hak konstutisi kami sebagai warga Negara Republik Indonesia.Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan banyak terima kasih.

Salam Hormat,

Irawati, S.Pd., Gr.

Advertisements

#INAElectionObserverSOS apakah itu?


Saat ini di dunia media sosial lazim terlihat sebuah tagar yang bertuliskan #INAElectionObserverSOS

Tagar tersebut dituliskan di kolom komentar ketika ada sebuah berita ataupun pernyataan menyangkut keberhasilan, keunggulan, prestasi dari salah seorang calon presiden yang ditampilkan oleh media berita online.

Lalu, apakah sebenarnya makna dan tujuan dari tagar #INAElectionObserverSOS tersebut? apakah seluruh kaum netizen sudah memahami betul pengertian dari tagar itu sendiri atau hanya sekedar membuat penandaan untuk dapat dikatakan sebagai seorang netizen kekinian yang paham betul akan permasalahan/topik yang sedang hangat dalam masa-masa panas kampanye menjelang Pilpres 2019? dan apapula tujuan dibuatnya tagar tersebut? Hmm…let’s see!

Baiklah, mari kita bahas bersama tentang tagar #INAElectionObserverSOS tersebut. Tagar ini

The Right Man on the Right Place


“Orang yang tepat pada tempat yang tepat” Begitulah kira-kira arti dari judul tulisan di atas.

Pada beberapa tempat yang merupakan pelayanan umum, sering kita menemukan ketidakpuasan akan pelayanan dari petugas di tempat tersebut.

Sebagai contoh, di sebuah instansi pemerintahan dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah sedang mengadakan sebuah proses rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Untuk proses penerimaan dokumen fisik yang dimasukkan melalui BKD tentu saja diperlukan beberapa orang sebagai Panitia Pelaksana Penerimaan CPNS.

Semua pasti berharap agar proses rekrutmen ini berjalan dengan baik dan sesuai prosedur (ini akan terjadi jika orang yang bekerja di dalamnya adalah orang yang tepat).

Pada sebuah kasus di beberapa tempat, terjadi ketidaksinkronan antara Jika saja

Nasabah adalah Raja


Dahulu, istilah ini masih sangat diagung-agungkan oleh rakyat Indonesia khususnya bagi para pekerja-pekerja di bank ataupun di tempat umum (nasabah diganti pelanggan/tamu). Namun saat ini yang terjadi adalah adanya pertukaran tempat dari kalimat “nasabah adalah raja” menjadi “petugas adalah raja”.

Mengapa saya menyatakan demikian? Hal ini didasari pada banyak kasus laporan/pengaduan pada beberapa tempat umum yang mengeluhkan akan ketidakpuasan pengunjung/pelanggan akan pelayanan petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. Keluhan serupa sering ditemukan pada beberapa bank yang kredibilitas perusahaannya tidak diragukan lagi.

Pada dasarnya keluhan yang timbul ini bukan karena manajemen dari bank tersebut tidak baik akan tetapi kembali pada ‘person’nya.

Seorang pekerja bank yang telah digembleng, dan diberikan ilmu dan instruksi untuk menghadapi nasabah dengan ramah, baik, sopan dan menyenangkan tentunya diharapkan agar dapat bersikap seperti yang diinginkan atasan untuk menciptakan iklim kerja yang baik serta pelayanan yang memuaskan. Akan tetapi, sedalam apapun hal itu ditanamkan kepada mereka tetap saja akan tidak berfungsi dengan baik jika dari hatinya tak menghendaki adanya kebaikan dan ketulusan untuk menciptakan pelayanan yang memuaskan tersebut.

Sebagai contoh, Becce (bukan nama sebenarnya) di bank B telah mengikuti training dan diklat untuk peningkatan mutu pelayanan *kantor (*baca bank) selama 1 bulan.

Setelah itu dia pun kembali melaksanakan tugas yang seharusnya sesuai dengan tupoksinya terlebih lagi Becce telah mengikuti diklat, namun apa yang terjadi? ternyata ketika dia didatangi Acce (bukan pula nama sebenarnya) yang merupakan nasabahnya, tak dihiraukannya dan malah asyik memencet gawainya (baca hape).

Nah, sebagai manusia biasa tentu saja perlakuan seperti ini dianggap Acce sebagai sebuah pembiaran, suatu bentuk pelayanan yang tak memuaskan dari Becce sebagai seorang pegawai bank.

Apakah Becce mengetahui perasaan Acce? mungkin ya dan mungkin pula tidak. Jika jawabannya ya, maka hal ini dikarenakan Becce tak mengindahkan sebuah prinsip “Nasabah adalah Raja”. Sebagai seorang nasabah selayaknyalah Acce dilayani dengan baik, didengarkan keluhannya dan direspon apa yang menjadi keinginannya sehingga Acce merasa dipedulikan, dan puas dengan pelayanan Becce. Sehingga sekembalinya dari bank dia akan memiliki persepsi positif dan baik tentang bank tersebut. Tapi kenyataannya berbanding terbalik kan?

Lalu jika jawabannya ‘tidak’, apakah penyebabnya? Tentu saja karena Becce terlalu asyik dan sibuk dengan gawainya sehingga tidak menyadari bahwa ada nasabah yang sedang menantikan pelayanannya. Dia pun mengabaikan segala bentuk pelatihan dan diklat yang telah diterimanya. Jika ini terjadi maka takkan dipungkiri lagi bahwa tentu saja Acce akan menganggap dirinya tak dihiraukan dan tidak dilayani dengan baik sebagai seorang nasabah.

Prinsip ‘Nasabah adalah Raja’ telah pudar. Dan bagaimana dengan kenyataan yang ada saat ini? Lagi-lagi, saya mengatakan bahwa semua itu ‘back to the person’ kembali pada orangnya. Bukan banknya, atau lembaganya.

Mengapa saya menyatakan demikian? Saya pernah mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Acce tersebut. Kala itu, saya memasuki sebuah teras bank ‘Anu’ yang tidak jauh dari tempat tinggal saya dan ketika bertanya tentang pemotongan gaji suami saya, Baco selaku rekan Becce melayani saya dengan baik dan ramah lalu mengatakan bahwa untuk pengaduan dan keluhan seperti ini ditangani oleh Becce, silakan ibu menuju ke mejanya. Singkat cerita, saya pun menuju ke meja Becce tapi rupanya dia hendak keluar (padahal kedatangan saya adalah jam kerja), lalu saya mengatakan padanya tentang keluhan saya dan tanpa menghiraukan saya, dia bergegas menuju ke motornya pun tanpa memberikan sepatah dua kata. Lalu saya mengikutinya dari belakang dan bertanya, ‘Bu, apakah saya harus menunggu Ibu atau bagaimana?”. Dia tetap diam sambil menghidupkan mesin motornya dan setelah itu sambil membelokkan motor, Becce mengatakan “masuk saja ke dalam, bertanya pada Baco”, kemudian sambil setengah berteriak (karena motornya sudah mulai menjauh), saya berkata “justru pak Baco yang mengarahkan saya untuk bertemu Ibu”.

Hmm…sayang sungguh sayang! Suara saya hanya didengar oleh angin lalu. Becce dengan keangkuhannya telah menjauh dari bank. Tinggallah saya dengan kekecewaan yang tersisa karena pengaduan saya tidak dilayani olehnya. Namun walaupun demikian, saya tidak menyalahkan banknya yang tidak melayani saya dengan baik, akan tetapi saya hanya kecewa dengan sikap Becce yang menurut saya maaf *kurang etika yang baik sebagai seorang pegawai bank.

Nah dengan ulasan yang panjang kali lebar kali tinggi ini akan menjadikan disiplin setiap aparatur kantor terutama di bidang pelayanan publik akan menjadi lebih baik dan bermutu. Semoga prinsip “Nasabah adalah Raja” akan tetap membudaya dalam masyarakat Indonesia.

PENTINGNYA KECAKAPAN LITERASI BACA-TULIS ABAD KE-21


 

Literasi berasal dari bahasa Latin yaitu “litteratus (littera)”, dalam bahasa Inggris kata ini sebanding dengan kata “letter” yang bermakna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Sedangkan dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Berbicara tentang kualitas hidup erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan teknologi. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah berada pada abad ke-21 dimana dalam meningkatkan kualitas hidup tersebut dibutuhkan berbagai kecakapan, diantaranya adalah kecakapan Literasi Baca-Tulis. Kecakapan Literasi Baca-Tulis ini merupakan fondasi literasi yang bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat untuk mampu memaknai informasi dalam membaca, memahami dan menggunakan bahasa tulisan. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Hal ini sejalan dengan deklarasi UNESCO yang menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia yang menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Abad ke-21 merupakan era teknologi informasi. Kita dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan.  Oleh karena itu, diperlukan kecapakan untuk memiliki kemampuan membaca dalam memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif. Dengan kemampuan yang baik dalam membaca dan memahami tulisan, maka tentu saja tidak akan menyesatkan kita dalam berperilaku dan bertindak. Mengapa? Karena dengan pemahaman yang baik tersebut akan membuat kita mudah melakukan sebuah tindakan yang sesuai dengan hasil analisis dan refleksi dari teks yang dibaca tersebut. Sebagai contoh, ketika di sebuah media sosial terdapat berita hoaks atau berita palsu yang dibuat seolah-olah benar adanya dengan judul bacaan yang ditulis secara menarik, nah bagi masyarakat awam yang kurang/tidak memiliki kecakapan baca-tulis maka serta merta berita hoaks tersebut langsung dibagikan ke khalayak ramai tanpa membaca keseluruhan isi berita dan juga tidak menganalisanya dengan cermat. Bukankah hal ini telah menjadikan kita sesat dalam bertindak? Tanpa berpikir panjang langsung bertindak dan tidak lagi memperhatikan unsur kebenaran berita yang dibagikan tersebut.

Kejadian tersebut di atas merupakan salah satu akibat dari kurangnya kecakapan literasi baca-tulis yang dimiliki oleh seseorang. Lalu, apakah ada dampak buruk dari tindakan yang telah dilakukan bagi seseorang yang kurang memiliki kecakapan dalam literasi baca-tulis? Tentu saja ada! Dengan tersebarnya berita hoaks alias palsu tersebut kepada orang lain yang juga kurang/tidak memikili kecakapan literasi akan mengakibatkan mereka meyakini bahwa berita yang dibacanya adalah betul-betul terjadi. Hal ini pun bisa jadi menyebabkan pertentangan, perselisihan pendapat karena kurangnya pemahaman akan informasi yang telah mereka peroleh tanpa dianalisa dan direfleksikan dengan baik.

Saat ini kita berada di dalam kehidupan yang serba canggih. Perkembangan teknologi yang pesat akan membuat kita ketinggalan dan menjadi ‘udikan’ ketika kita tidak membarenginya dengan kemampuan membaca dan menulis yang baik. Sesederhana dan semudah apapun alat komunikasi yang kita miliki akan menjadi tak berguna ketika kita tak bisa mengoperasikannya karena petunjuk penggunaannya tak bisa kita pahami apatah lagi jika alat komunikasi tersebut merupakan alat yang canggih yang memerlukan pemahaman akan beberapa petunjuk pemakaian alat/benda tersebut.

Literasi baca-tulis merupakan kunci untuk membuka pintu pengetahuan. Muara pendidikan sepanjang hayat terletak pada literasi baca-tulis. Hal ini erat kaitanya dengan peserta didik seperti yang tertuang dalam buku ‘Design Induk Gerakan Literasi Sekolah’,  menurut ‘Word Economic Forum (2016)’ dijelaskan bahwa peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad 21 di antaranya adalah literasi dasar yaitu baca-tulis. Kedua kemampuan ini memiliki hubungan yang erat dalam penguasaan kosa kata dan juga kemampuan berbahasa. Seorang peserta didik dapat memeroleh ide ataupun gagasan melalui membaca dan setelah itu ide tersebut dapat dikeluarkan melalui sebuah tulisan. Tulisan yang baik tentu didukung oleh sebuah gagasan yang menarik dan diperkaya dengan kosakata yang saling terkait dan mudah dipahami. Peserta didik yang terbiasa membaca dan menulis akan dengan mudahnya menemukan pilihan kata atau istilah yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal sehingga akan membuat komunikasi dapat berjalan dengan baik pula.

Jika peserta didik dapat memiliki kecakapan literasi baca-tulis ini maka mereka akan dapat menyerap informasi dari bacaan serta meningkatkan imajinasi dan kreativitas yang semakin luas karena terbentuknya pola pikir yang lebih tajam dan terstruktur sehingga mereka mampu memahami sumber bacaan dengan lebih simpel dan menarik. Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang mumpuni maka akan mampu membentuk karakter yang mulia sehingga tidak mudah terombang-ambing dalam gejolak beragam informasi yang muncul begitu saja di hadapan kita , baik melalui media cetak online dan offline ataaupun audio visual. Selain itu, dengan kecakapan literasi baca-tulis yang memadai maka mereka akan mudah meraih kemajuan dan kesuksesan serta keunggulan kualitas diri. Maka tidaklah mengherankan ketika UNESCO menyatakan bahwa kemampuan literasi baca-tulis merupakan titik pusat kemajuan. Seperti yang ditegaskan di dalam Vision Paper UNESCO (2004) bahwa kemampuan literasi baca-tulis menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis dan ekonomis pada zaman modern.

Setelah memahami pentingnya kecakapan literasi baca-tulis yang tersebut di atas, maka kita patut untuk memacu diri dan peserta didik untuk lebih meningkatkan kecakapan literasi baca-tulis tersebut agar dapat menjadi insan yang unggul, berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain.  Bukan sebagai insan yang hidup dalam keterbatasan dan bahkan menghadapi banyak persoalan yang tak mampu diselesaikan. Kualitas hidup yang baik dapat ditumbuhkan dengan adanya kemampuan baca-tulis. Oleh karena itu, mari kita memperkenalkan, menanamkan dan membiasakan kecakapan literasi baca-tulis dalam kehidupan sehari-hari. (2019)