Guruku…


Seorang guru adalah suri tauladan yang pantas untuk ditiru, seorang guru sangat dibutuhkan manusia untuk menuntun jalan kehidupan, seorang murid bisa pandai karena belajar, dan belajarnya adalah dari seorang guru.  Guru merupakan sumber inspirasi. Sungguh Agung dan Maha Terpuji Engkau Ya Allah, telah menciptakan sosok yang namanya “guru” bagi umat-Mu yang dulunya bukan apa-apa sehingga menjadi apa-apa.

Apakah semua guru yang ada di dunia ini memiliki sosok seorang guru yang pantas untuk dijadikan panutan?

Ilmu, amal dan keikhlasan adalah tiga hal pokok yang perlu diperhatikan oleh para pendidik.  Ketiga hal ini sangatlah mendukung dalam membuka cakrawala ilmu agar lebih berguna dan bermanfaat.  Namun, sayangnya,  masih banyak tenaga pendidik yang belum mengerti, sehingga ilmu yang mereka ajarkan kurang berbekas di hati para muridnya.

Sebagai seorang guru yang saat ini juga sekaligus sebagai seorang murid, saya ingin mengatakan bahwa seorang guru yang baik haruslah memiliki kriteria yang patut dikembangkan dan dilaksanakan untuk menginginkan hal tersebut di atas tercapai.  Adapun kriteria tesebut adalah sebagai berikut :

Ikhlas; Dalam memulai tindakannya, entah itu sebelum berangkat dari rumah menuju ke sekolah atau saat akan memulai pelajaran, seorang guru sudah harus menanmakan rasa ikhlas di hatinya.  Ikhlas dalam hal ini adalah hanya mengharapkan Ridha Allah semata. Sehingga anak didik kita akan ikut merasakan keikhlasan tersebut, dan mereka pun akan menerima pelajaran dengan rasa ikhlas pula.  Dan apa yang ingin dicapai untuk menciptakan manusia yang berbudi pekerti luhur akan terpenuhi dengan sukses, amien…

Jujur dan dapat dipercaya; Seorang guru yang baik dalam kehidupan sehari-harinya haruslah memiliki hati yang jujur.  Karena seorang guru adalah panutan bagi murid-muridnya dan juga masyarakat di sekitarnya, shingga nantinya akan menghasilkan pula generasi yang jujur dalam upaya menciptakan manusia manusia tangguh dan bertanggung-jawab.  Sebagai contoh, jika seorang guru berkata bohong dan ketahuan oleh muridnya bahwa dia berbohong, pastilah sang murid berkata” guru kita saja suka bohong, gimana muridnya? pasti nggak apa-apa kan?” Guru kencing berdiri, Murid Kencing berlari.” (Yah…’gak bersih-bersih dong…).

Seorang guru harus memberikan contoh yang baik dalam ucapan maupun tingkah lakunya; Jika guru menginginkan muridnya untuk rajin belajar, guru pula lah yang terlebih dahulu menerapkannya, agar tidak kewalahan dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh muridnya nantinya. Jangan sampai guru melarang siswanya berbuat kejahatan, namun, justru dia sendiri yang melanggarnya.

Ya, Allah, berikanlah aku guru yang adil, berakhlak mulia, tidak sombong dan rendah hati. Hadirkanlah di hadapan kami guru yang sabar, yang bisa mengerti segala kekurangan dan kelebihan kami sehingga kami bisa menjadi anak yang berguna bagi orang tua, bangsa dan negara. Do’a ini adalah do’a seorang murid.* Jadi, saya rasa poin tersebut bisa dimasukkan ke dalam kriteria seorang pendidik yang didambakan muridnya. Jika, seorang guru telah memiliki sifat tersebut, maka akan nampaklah rasa kebersamaan, keterbukaan dan keakraban.

Seorang pendidik yang telah memenuhi berbagai kriteria tersebut akan dapat mencetak generasi yang unggul dan berprestasi, Insya Allah….

Dan begitupula seorang anak didik yang baik akan senantiasa mendo’akan gurunya dan mengaplikasikan apa yang telah dibeikan oleh guru yang disebut dengan pengamalan.  Nah, ilmu yang baik hanya akan bermanfaat jika diamalkan dengan keikhlasan.

Ada sebuah puisi yang ingin kupersembahkan bagimu guru….

       Wahai…engkau guruku..

       yang ada di ambang senja,

       pernahkah engkau merasa lelah

      saat mengajar kami mengeja huruf satu persatu?

                          Wahai guruku….

                          pernahkah engkau merasa bosan,

                          ketika engkau mengajarkan

                          satu ditambah satu sama dengan berapa?

      Wahai guruku…….

      aku tahu engkau lelah, tapi engkau tak pernah bosan

                         namun….

                         yang tak kutahu

                        adalah….

                        Adakah balasan atas jasa-jasamu????

                                    “ENGKAULAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

      Gowa, 16 April 2008

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s