Mengapa hasil Ujian Nasional belum sesuai dengan yang diharapkan ?


Apa sih sebenarnya Ujian Nasional itu?

Ujian Nasional adalah sebuah bentuk tes tertulis yang diberikan kepada seluruh siswa yang ada pada tingkat Satuan Pendidikan di Indonesia. Di mana semua soal-soal yang diberikan pada tingkat SMP dan SMA atau yang sederajat adalah sama dengan yang diberikan pada tingkat pusat atau dengan kata lain, soal yang ada di daerah perkotaan sama dengan yang diberikan pada daerah pedesaan / terpencil.

Mengapa pemerintah memilih Ujian Nasional?

Jika saja kita semua mengetahui secara mendalam apa tujuan pemerintah untuk memilih Ujian Nasional, mungkin saja tingkat kelulusan yang ada di Indonesia tidak akan serendah itu.

Kalau menurut saya, tujuan pemerintah untuk mengadakan Ujian Nasional adalah agar tidak terjadinya suatu kerancuan dalam memberikan penilaian terhadap siswa lulusan nantinya. Dan mungkin saja, pemerintah menginginkan agar sistem penilaian yang digunakan oleh praktisi pendidikan sama dan menyeluruh di setiap daerah ataupun propinsi.

Apakah tujuan ini bisa tercapai?

Jelas saja tujuannya telah tercapai karena seluruh sekolah yang mengadakan Ujian Nasional telah melakukan prosedur sesuai dengan yang diharapkan.

Apakah hasilnya bisa menggembirakan??

Nah…yang menjadi persoalan di sini adalah ketika adanya pengumuman di tingkat SMP/MTsn dan SMA/MA/SMK dan yang sederajat telah ditemukan adanya tingkat kekecewaan yang sangat tinggi pada sebagian siswa yang berprestasi namun tidak lulus.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Hal ini disebabkan oleh adanya kesamaan soal ataupun ujian pada semua daerah dan sistem pemeriksaan lembar jawaban siswa.

Walaupun kita patut mengacungkan jempol atas usaha pemerintah untuk melibatkan informasi dan teknologi di era globalisasi sekarang ini, namun seharusnya mereka patut mempertimbangkan banyak faktor.

Faktor penyebab yang paling utama yang bisa kita prediksi adalah kesamaan soal. Perlu Anda ketahui bersama, walaupun kurikulum yang kita pergunakan dalam dunia pendidikan adalah sama namun kita juga harus mengingat bahwa negara Indonesia terdiri dari gugusan pulau-pulau, daratan yang terdiri dari daerah yang masih jauh dari sumber informasi dan teknologi itu sendiri.

Ketika lembar jawaban siswa diperiksa dengan menggunakan sistem komputerisasi, otomatis diperlukan beberapa petunjuk pengerjaan soal dengan tepat. Hal ini memerlukan waktu yang relatif panjang bagi siswa untuk terbiasa dengan sistem tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tidak semua siswa / anak didik di Indonesia mengenal yang namanya komputer. Lantas????

Ingat Bapak dan Ibu!! Masih banyak daerah-daerah tertinggal di belahan nusantara tercinta ini. Lengkapilah sarana dan prasarana mereka sehingga apa yang telah dicita-citakan oleh Anda semua akan terlaksana dengan baik.

Apa sih tujuan kita sehingga kita harus sekolah?

Sesuai dengan cita-cita kita bersama yang berlandaskan pada agama, yaitu utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan jalan bersekolah, maka kita akan mencapai cita-cita tersebut.

Jadi saya simpulkan bahwa, walaupun siswanya tidak lulus dalam ujian nasional namun mereka telah cerdas, itu berarti bahwa apa yang telah dicita-citakan tersebut telah tercapai.

 

 

Pengaruh Pendidikan Gratis di Kabupaten Gowa bagi peningkatan efektifitas pembelajaran siswa


Dengan adanya program Pendidikan Gratis di Kabupaten Gowa, sudah banyak anak usia sekolah yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Terlebih lagi dengan orang tua mereka.  Seakan-akan, apa yang telah lama diimpikan oleh rakyat kecil terpenuhi. Sehingga setelah mereka selesai menempuh ujian akhir, telah tersusun rapi di benak mereka untuk mendaftar di sekolah favorit masing-masing.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah program pendidikan gratis ini mampu menghasilkan anak didik yang berkompeten dan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan keTuhanan Yang Maha Esa??

Karena seperti yang kita lihat pada realita yang ada di masyarakat sekarang ini, jika terdapat suatu barang yang murah (dengan kata lain “obral”), maka mereka akan berbondong-bondong untuk mendatanginya tanpa mempertimbangkan mutu dari barang yang akan dibeli tersebut.

Nah…Jangan-jangan… Tujuan pemerintah untuk meratakan pendidikan pada semua kalangan malah akan menghasilkan barang rongsokan. (maaf, jika saya mengatakan hal ini). Mengapa saya mengatakan seperti itu? Cobalah lihat ke dalam 14 poin (kalau tidak salah) kesepakatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk tidak memaksakan pemakaian seragam ataupun foto, dan juga beberapa poin lain secara mendetail.

Dalam poin tersebut(mengenai baju seragam), saya sebagai seorang warga merasa prihatin mendengar keputusan seperti itu. Coba Anda bayangkan, seragam sekolah adalah bentuk atau symbol yang menandakan bahwa mereka adalah sekelompok anak sekolah yang sedang duduk di tingkat Sekolah Dasar ataupun SLTP. Dan seragam itu pula yang membedakan mereka dengan lingkungan sekitar mereka bahwa mereka adalah anak didik. Jadi…bisa Anda bayangkan, jika sekarang ini di Kabupaten Gowa, kita tidak lagi bisa mengenali manakah yang termasuk peserta didik dan dari tingkatan manakah mereka saat ini. Karena sebagian dari peserta didik yang pada dasarnya memang tidak menyukai seragam, hanya mengenakan setelan celana pendek dan baju kaos oblong sesuka mereka. Mereka akan merasa pongah dengan ketetapan pemerintah Gowa yang telah memasukkan poin tersebut. Jika ada yang melakukan teguran, boleh jadi anak tersebut akan melaporkan gurunya kepada Bapak Bupati dengan alasan Sang Guru telah melakukan kekerasan kepada siswanya. Wah?????

Kemudian, jika dilihat dari penanaman nilai-nilai moral yang diberikan kepada peserta didik. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi mereka. Karena melakukan suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan secara terencana merupakan jalan untuk membina kedisiplinan. Bukankah kedisiplinan adalah suatu hal yang dianggap penting dalam usaha untuk mencerdaskan bangsa??? Belum lagi, jika dalam suatu kelas terdapat beberapa siswa yang tidak menggunakan seragam, maka hal ini akan menarik perhatian dari teman-teman mereka.Mereka akan mengeluarkan pendapat mengenai siswa yang tidak menggunakan seragam ataupun hal lainnya yang dapat mengganggu temannya. Sehingga hal ini otomatis akan mengganggu efektifitas pembelajaran.

Nah…selanjutnya adalah yagn akan saya tanyakan adalah apakah pemerintah di kabupaten Gowa telah memperhitungkan pengaruh dari Program Pendidikan Gratis itu sendiri? 

 

 

 

rindu


Mungkin Anda sudah tidak asing lagi mendengar kata ini. Rindu, aku artikan sebagai sebuah perasaan kepada seseorang yang sudah lama tidak dijumpai. Adapula yang mengartikannya sebagai sebuah perasaan yang sangat takut kehilangan.

Bagaimana rasa rindu ini dapat menjangkiti seseorang?

Ya…seseorang akan mengetahui bahwa apa yang dirasakannya itu adalah rindu jika dia baru menyadari bahwa dia sepertinya telah kehilangan orang tersebut.  

i enjoy this life


I really enjoy this life although there are some little bit.

Life is beautiful. Full of senses…need some soft touches…a tenderness…but also need a hard struggle..

If you can survive you will be a winner…

but…if you cann’t you will be a loser…

Now…I am the survivor…I want to be a winner because I believe that

Dream will come true!!!

 

hukum di Indonesia


Apabila kita berbicara tentang hukum,  maka yang akan muncul di pikiran kita adalah keadilan. Karena hukum dan keadilan tidak bisa dipisahkan. Mereka merupakan satu kesatuan yang saling terikat. Jika Anda membutuhkan keadilan, maka hukumlah yang harus menentukannya. Begitupula sebaliknya, jika Anda memperlakukan hukum, maka kita harus berlaku berlaku adil terhadap orang yang membutuhkannya. Alangkah indahnya, jika hukum dan keadilan dapat berjalan selaras dan seimbang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak akan terjadi lagi yang namanya kesewenang-wenangan. Lantas…bagaimanakah hukum yang ada di negara kita saat ini??

Hukum yang ada di Indonesia boleh dikata memiliki landasan yang sangat kuat dan menguntungkan seluruh lapisan masyarakat “jika betul-betul berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara” (tapi jangan lupa, Al Qur’an dan Hadits adalah landasan yang paling kuat untuk itu semua.

Akan tetapi, masih banyak diantara kita yang menemukan adanya ketimpangan dalam masalah penegakan hukum yang ada di Indonesia. Padahal, sebagai manusia yang selalu menginginkan terciptanya kedamaian dan keadilan di muka bumi ini khususnya di Indonesia pastilah dibutuhkan hukum yang berdiri dengan tegak dan dapat  melihat ke segala aspek.

Terdapat banyak kasus yang memperlihatkan bukti bahwa di Indonesia hukum belum berjalan dengan sebagaimana maunya (bukan mestinya). Sebagai contoh kecil pada saya saja, mengalami beberapa masalah yang berkaitan dengan hukum dan pada akhirnya membuktikan bahwa hukum masih dapat dibayar dengan uang. Mungkin ini merupakan suatu hal yang tidak mengenakkan jika saya memberikan contoh sebuah kasus, dimana saudara sepupu saya membeli sebuah kendaraan beroda dua pada seseorang yang mengatasnamakan instansinya (teganya dia memakai instansi yang berlembagakan hukum). Sebut saja namanya si Enting (karena dia cewek), dengan berdasarkan pada sebuah kwitansi yang diberi stempel instansi tersebut, sepupu saya yakin saja dengan penjualan ataupun penyerahan barang tersebut, sehingga dia menyerahkan uang senilai harga motor tersebut dan sisanya setelah BPKB diterima. Setelah memakai motor tersebut selama kurang lebih 5 tahun (2003-2008)tanpa menerima BPKB tersebut(karena si Enting selalu berdalih untuk memberikan BPKBnya), ternyata motor tersebut diambil secara paksa dari tangannya saat dikendarai di sebuah tempat yang agak sunyi dari keramaian oleh seorang pegawai dari sebuah finance yang ada di Makassar(tentunya dia memperlihatkan bukti penarikan dan tunggakan dari pemakaian kendaraan tersebut). Walaupun sebelumnya, sepupu saya selalu berusaha untuk menanyakannya langsung pada pihak finance tersebut. Tapi mereka juga menjawab bahwa nama sepupu saya tidak tercantum sebagai pihak peminjam.

Setelah berusaha ke sana – ke mari, dengan mendatangi pihak Finance, mereka mengatakan bahwa sebenarnya jumlah motor yang dikeluarkan oleh pihak Finance tersebut sebanyak 15 ribu buah.  Wow…bayangkan!!!hanya seorang Enting, ternyata dia mampu mengecoh sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang finance. Ini berarti ada sekitar 15 ribu orang yang terancam akan mengalami hal yang sama dengan sepupu saya. Siapakah dalang yang ada dibelakang si Enting???

Wahai para penegak hukum, berlaku adillah dalam menentukan sesuatu…santunlah dalam bersikap dan jujurlah terhadap dirimu terlebih dahulu kemudian terapkanlah semuanya itu kepada orang lain, sehingga warga Indonesia merasa diayomi, nyaman dan tenteram…

Kalau bukan sekarang, kapan lagi…kalau bukan Anda siapa lagi,

If you do the best you will get the better than today!!! Ayou tegakkan Hukum yang adil di negeri tercinta kita ini……