PARADIGMA PENDIDIKAN DI INDONESIA KINI


pialaq

Mengutip dari beberapa tulisan online, saya tergugah dengan keadaan pendidikan di Indonesia saat ini, dimana guru sebagai motivator sangat kehilangan arah dalam mengembangkan kurikulum yang saat ini sedang beredar (maaf, kalau saya menggunakan kata “beredar”) karena, saya yakin… tidak lama berselang, akan muncul kembali edaran tentang sebuah kurikulum baru yang promosinya lebih bagus daripada yang sebelumnya.

Saya sangat setuju dengan sebuah tulisan pada sebuah blog yang menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini dititikberatkan pada pendidikan berideologi “Liberal”.

Berikut ini adalah tulisan tersebut yang saya copy dari :

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”color\:black\;”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

http://pendidikankritis.wordpress.com/2008/06/16/ideologi-liberal-pendidikan-kita/

“Melihat pada realitas pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan dasar, maka secara umum ideologi pendidikan Indonesia sekarang ini berkecenderungan pada ideologi pendidikan liberal. Hal tersebut terlihat dari beberapa kebijakan yang relatif liberal.

Pertama, pengacuan pendidikan lebih menitikberatkan pada penguasaan kompetensi, sedangkan kompetensi yang dimaksid selalu mengacu pada kebutuhan dunia kerja kapitalis. Dengan kata lain pendidikan pada akhirnya hanyalah menjadi sekrup kecil dari roda-roda kapitalisme. Seakan persepsi yang didesakkan pada peserta didik, dunia pendidikan, dan bahkan masyarakat luas adalah, “pendidikan untuk bekerja”.

Sedikit banyak memang benar, tapi pada akhirnya hal itu justru menjadikan perspektif memandang pendidikan kian sempit dan menafikan dimensi lain pendidikan, yakni dimensi kemanusiaan. Jadi pembelajaran tidak banyak diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai manusia secara utuh seperti untuk aktualisasi diri, sebagai manusia yang merdeka dan berdaulat dengan dirinya sendiri untuk berproses menjadi manusia. Mereka dikooptasi oleh orientasi kerja, kerja, dan kerja. Di sinilah dalam ranah sosial timbul yang dinamakan dehumanisasi pendidikan; pendidikan tidak menghasilkan manusia yang manusiawi, melainkan manusia-manusia robot, mekanistis, individualis. Kehalusan budi, sopan santun, akhlak muliah, kerendah hatian, tidak diasah dalam pendidikan yang berideologi liberal yang mengabdi pada kapitalisme an sich.

Kedua, pendidikan berideologi liberal menitikberatkan proses pembelajaran pada peserta didik, sementara guru sekadar sebagai motivator, pengarah, bukan aktor utama dalam proses pembelajaran, bukan satu-satunya sumber pembelajaran. Yang dituju adalah aktualisasi diri siswa sepenuhnya. Hal ini artinya merombak tradisi pembelajaran yang telah mendarah daging selama ini di lembaga pendidikan, yakni guru adalah pusat pembelajaran di kelas, yang di-gugu lan ditiru (diiyakan petuahnya dan dianut keteladanannya). Kebijakan ini tidak serta merta menjadikan pembelajaran dan siswa dapat sepenuhnya mengaktualisasikan diri hingga berprestasi menggembirakan.

Guru banyak yang masih konservatif dan tidak dapat memerankan diri sekadar sebagai motivator pembelajaran. Di sisi lain siswa pun belum dapat menerima kehadiran guru sekadar sebagai motivator, siswa masih saja pasif dalam proses pembelajaran. Siswa belum dapat mandiri dan menjadi kritis sebagiamana diharapkan oleh paradigma dan/atau pendidikan liberal. Hal itu terjadi karena mereka masih kentalnya kultur belajar teacher centered selama ini. Yang terjadi selanjutnya adalah gagap proses pembelajaran dalam memadukan antara idealisme sebagaimana kebijakan pemerintah melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang student centered dengan realitas pembelajaran di lapangan yang belum dapat melepaskan diri dari konsep teacher centered.

Ketiga, desentralisasi pendidikan yang satu paket dengan otonomi daerah sebagai kebijakan yang dikeluarkan pascareformasi dengan agenda politik demokratisasi. Demokrasi sebagai anak dari liberalisme dalam konsepsi politik melahirkan kebijakan desentralisasi pengelolaan pemerintahan yang juga berimbas dengan kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan. Pada dasarnya kebijakan ini bertujuan untuk memberrikan kewenangan untuk mengelola secara mandiri bagi daerah dan satuan pendidikan masing-masing.

Kebijakan ini pada akhirnya menuai masalah, terutama ketika pemerintah ngotot memberlakukan ujian nasional (UN) dengan acuan standar nasional, padahal di sisi lain pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kebebasan pada masing-masing daerah dan institusi pendidikan untuk memberikan proses pembelajaran optimal namun menyesuaikan dengan kemampuan dan lokal. Akhirnya timbul protes ketika dilaksanakan UN yang mengacu pada standar nasional yang belum tentu sesuai dengan standar lokal masing-masing daerah dan satuan pendidikan. Terjadi semacam ketidakadilan dan kerancuan paradigmatik di mana masing-masing satuan pendidikan diberi kebebasan menyusun proses pembelajaran sesuai dengan kekhasan, potensi, dan kemampuan yang ada dengan tanpa menafikan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, namun di sisi lain kebebasan tersebut dirampas oleh adanya standarisasi nasional UN sebagai penentu kelulusan siswa. Standar inilah yang seringkali tidak dapat dijangkau oleh satuan pendidikan di daerah yang relatif terbelakang. Pelaksanaan UN ini pun pada akhirnya berakibat pada banyak kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaannya.

Konsepsi ideologis yang menghegemoni pemikiran dan kebijakan pendidikan pada akhirnya memberi warna cukup beragam untuk dunia pendidikan kita. Selayaknya dalam gerusan globalisasi, neoliberalisme, dan kapitalisme sekarang ini semua stakeholder dunia pendidikan, terutama pemerintah dan Depdiknas memiliki konsep yang jelas, tegas, dan kuat secara ideologis untuk menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tepat, hingga tidak terlalu berisiko menimbulkan problem paradigmatik dan implementatif. Jika tidak, maka agaknya selamanya dunia pendidikan kita akan selalu disibukkan untuk mengatasi masalah-masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi jika pemerintah memiliki landasan ideologis pendidikan yang jelas dan sesuai dengan konteks keindonesiaan.

Beberapa pendidik kritis Indonesia telah memulai langkah besar menggali filosofi dan ideologi pendidikan kita, H.A.R Tilaar dengan pedagogik transformatifnya, (alm) Mansour Fakih dengan pendidikan partisipatoris-emansipatorisnya, Y.B Mangunwijaya dengan SD Mangunan yang humanisnya, Winarno Surakhmad dengan paradigma Gurunya, Mochtar Buchori, Darmaningtyas, dan lainnya, tapi di antara beliau-beliau sudah meninggal dan tua, lalu siapa yang mesti meneruskan perjuangan itu jika bukan kaum muda?”


Nah…sebagai seorang calon guru ataupun telah menjadi seorang pendidik, apapun kurikulum yang berlaku, janganlah kebingungan, terapkanlah apa yang sedang berlaku tanpa mengabaikan hati nurani masing-masing. Jadikanlah peserta didik kita sebagai sebuah subyek sekaligus obyek yang akan menjadi teman kita dalam mencari ilmu. Karena ilmu itu bagaikan lautan yang luas, tak ada seorang pun yang dapat dikatakan pintar. Jadi jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah diperoleh.

MARI MENJADI GURU YANG BAIK BUAT PARA SISWA!!!

2 thoughts on “PARADIGMA PENDIDIKAN DI INDONESIA KINI

  1. saya akan bingung jika saya sudah melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik tapi tidak ada penghargaan untuk itu sehingga paradigma lama kembali berlaku dan dianggap benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s