Akankah Guru Honorer di Angkat menjadi PNS???


Setelah membaca blog yang ditulis oleh saudara Faisal Saleh pada : http://cpnsindonesia.wordpress.com tertanggal 27 Januari 2010, maka sebagai seorang guru honorer, saya cukup bahagia karena masih memiliki sedikit harapan untuk diangkat menjadi CPNS tanpa seleksi (walaupun saya siap 100 % jika melewati seleksi tersebut..hehehehe…).

Kemarin ertanggal 26 Mei 2010, saya berkunjung ke BKD untuk menanyakan posisi saya sebagai tenaga honorer apakah sudah terdata ataupun belum..namun ternyata…hasilnya..nama saya tidak ada dalam database 2005. Akhirnya, rasa bahagia itu pun menipis..apalagi mengingat jawaban dari pegawai tersebut ketika saya tanyakan tentang bagaimana dengan status saya..dan kapan lagi ada pendataan untuk database tersebut, mengingat saya menjadi tenaga honorer sejak 2003 hingga sekarang…pertanyaan dalam benak saya…akankah guru honorer diangkat menjadi CPNS..Berikut ini adalah hasil postingan Saudara Faisal yang telah membesarkan hati saya…tinggal bagaimana Anda menanggapinya…selamat membaca!
Jakarta- “Semua guru honorer harus diangkat menjadi CPNS. Hal itu menjadi salah satu rekomendasi rapat gabungan Komisi II, Komisi VIII, dan Komisi X DPR RI bersama Mendiknas M Nuh, Menag Surya Dharma Ali, Menpan EE Mangindaan, dan kepala Badan Kepegawaian Negara di DPR, kemarin (25/1). Sementara itu, guru honorer yang tidak dibiayai APBN dan APBD juga harus diperhatikan. Terutama menyangkut kesejahtaraan mereka..
Rapat gabungan yang dipimpin Ketua Komisi VIII Burhanuddin Napitupulu itu menyepakati persoalan guru honorer harus segera dituntaskan menyusul segera disahkannya rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang pengangkatan guru honorer. Untuk mempercepat itu, segera dibentuk panita perja (panja) yang anggotanya gabungan Komisi II, Komisi VIII, dan Komisi X.
Tugas panja memberi masukan untuk RPP agar tidak ada diskriminasi terhadap guru honorer. Masa kerja panja adalah satu bulan. Dalam rapat itu juga disepakati bahwa kesejahteraan guru juga menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah seperti gubernur, bupati, dan wali kota. “Guru yang sudah menjadi CPNS namun belum diangkat harus segera ditetapkan menjadi PNS tanpa seleksi, melainkan cukup dengan verifikasi administrasi,” terang Burhanuddin.
Para wakil legislatif meminta persoalan kesejahteraan guru hendaknya menjadi fokus dalam pengangkatan guru PNS, sebab syarat pengangkatan guru PNS adalah berkualifikasi S-1 dan berusia maksimum 46 tahun. Wakil Ketua Komisi II Taufik Effendi mengatakan, pengangkatan seorang guru harus memerhatikan faktor status dan kesejahteraan. “Kalau secara status tidak memungkinkan diangkat, harus melihat aspek kesejahteraannya. Tidak harus menjadi PNS bisa juga menjadi pegawai tidak tetap,” ujar Taufik.
Dia menjelaskan, pengangkatan guru honorer menjadi masalah sejak terbitnya PP Nomor 48/2005 jo PP Nomor 43/2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS. Berdasarkan PP tersebut, sejak November 2005 tidak diperkenankan lagi mengangkat tenaga honorer baru. Semua tenaga honorer yang bekerja di sekolah negeri akan diangkat menjadi CPNS paling lama Desember 2009.
Ketua Komisi VIII Abdul Kadir Karding menambahkan, agenda penting lainnya yang dibahas panja adalah pengangkatan CPNS untuk mengakomodasi hasil keputusan DPR pada pertemuan Juli 2008 dan Oktober 2009. Juga akomodasi guru swasta yang tidak dibayar APBN/APBD di sekolah negeri maupun swasta. “Nasib guru swasta ini tetap tidak boleh dilupakan,” ujarnya.
Politisi asal PKB itu menunjuk contoh nasib para pengajar honorer di madrasah mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga aliyah. “Peran mereka juga tidak bisa diacuhkan begitu saja,” tandasnya.
Sementara itu, Mendiknas M Nuh menjelaskan, sebelum terbit PP 48/2005, dari 900 ribu guru, ada sekitar 104.000 guru yang belum diangkat menjadi PNS. Menurutnya, hal itu terjadi karena ada yang tercecer. Juga terjadi pembengkakan jumlah tenaga honorer. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), jumlah guru bukan PNS di sekolah negeri pada akhir 2005 ada 371.685 orang. Namun pada akhir 2009 naik menjadi 524.614 orang.
Nuh mengatakan, pengangkatan guru dibutuhkan untuk mengkaver guru yang pensiun. Juga pemerataan distribusi guru ke daerah terpencil yang rasionya masih dibawah standar. Kendati demikian, pengangkatan guru harus tetap memerhatikan substansi, seperti harus berkualifikasi S-1. Tujuannya untuk memenuhi standar kualitas guru.
Mantan rektor ITS itu juga sepakat agar gaji guru minimal harus sama dengan UMR. “Yang penting, persyaratan substansi guru harus dipenuhi. Jika belum S-1 bisa bekerja sama dengan pemda untuk merampungkan pendidikan akademiknya,” jelas Nuh. Namun, kata dia, untuk guru honorer yang tidak dibiayai oleh APBN maupun APBD tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada negara. Menurutnya, gaji mereka sebagian bisa dibiayai sekolah atau yayasan.
Sementara itu, menurut Menpan Everett Ernest Mangindaan, pemerintah akan mengurangi pengangkatan tenaga kerja honorer pada 2010. Persentase penerimaan tenaga kerja honorer tersebut menurun dari 65 persen pada 2005 hingga 2009 menjadi 30 persen tahun ini.
Alasan penurunan tersebut, kata Mangindaan, sebagian besar tenaga kerja honorer telah diangkat menjadi pegawai tetap. “Kita tidak mau pegawai kita tidak berkualifikasi. Kita butuh SDM yang segar,” ujarnya usai rapat.
Dia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian PAN, sejak 2005-2009, tenaga kerja honorer yang telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) mencapai 899.196 orang dari 920.702. Karena itu, Menpan berharap, tahun ini sekitar 70 persen tenaga kerja yang masuk berasal dari tenaga baru. Menpan bakal mengalokasikan 30 persen untuk tenaga honorer dari alokasi tenaga kerja nasional. “Kita butuh tenaga segar,” ujarnya.
Di awal-awal rapat, sempat terjadi perdebatan perlu-tidaknya pertemuan dilanjutkan. Hal itu dipicu karena Menkeu Sri Mulyani yang diundang ternyata absen dalam rapat tersebut. Menurut sejumlah anggota parlemen, ketidakhadiran Menkeu tersebut menjadi salah satu indikasi ketidakseriusan pemerintah menuntaskan masalah honorer di negeri ini.
Selain Menkeu, Mendagri Gamawan Fauzi dan Menkes Endang Rahayu S juga tidak hadir. “Ini memang menjadi pertanyaan, mengapa para menteri itu tidak datang, padahal rapat itu sangat penting,” ujar Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso saat memberi pengantar awal rapat gabungan.
http://cpnsindonesia.wordpress.com/2010/01/27/asyiiik-guru-honorer-harus-di-angkat-jadi-pns/

Using E-Dialogue Journal to Improve the Students’ Writing Skill


CHAPTER I
INTRODUCTION
A. Background
The International language that is used by most people in the world is English. In Indonesia, it is taught at school from the Elementary level up to the University as the first foreign language. Nowadays, the present curriculum for English lesson in the English Curriculum 2006 is directed to develop language skills in order the students are able to communicate and also could make discourse in certain level of literacy. Based on the English Curriculum 2006, there are four literacy levels, namely performative, functional, informational, and epistemic. As the Junior High School graduates, they are expected to reach at the functional level. In this case, they are expected to be able to communicate or participate in their creation of text in spoken and written in their daily life. In short, at Junior High School level, learners are expected to learn daily expressions (Depdiknas, 2006).
The purpose of teaching English for Junior High School students is to develop communicative competence in spoken and written form to achieve the literacy level which can be realized through four language skills; listening, speaking, reading, and writing. The Junior High School students are expected to be able to create many kinds of functional text and monolog in the form of procedure, descriptive, recount, narrative, and report (Depdiknas, 2006:278).
Related to learning English, there are four language skills including listening, speaking, reading, and writing which should be mastered by language learners. Writing is placed on the last stage among the four skills. The stage of the skill shows that students have to be familiar with the first three skills. Byrne (1990:4) states that writing is the most difficult activity for most of people, both in mother tongue and in foreign language due to three headings, namely: psychological, linguistic and cognitive problems.
Writing is the act or art of forming letters and characters on paper, wood, stone, or other material, for the purpose of recording the ideas which characters and words express, or of communicating them to others by visible signs (brainyquote:2008). In other words, in writing, a writer communicates his/her ideas by considering a known or unknown reader who will get their ideas and their meanings in the form of correct written text but also the reader who will read the text. As state by Oshima (1998:2) that whenever a writer writes, he/she has to consider the people who will read what she/he has written. By knowing the reader, it will help the writer to communicate clearly and effectively.
According to Byrne (1990:3), there are some difficulties related to writing. Firstly, there is psychological difficulty in which the writer has to decide what information the reader needs and how best to express this. It means that there is no immediate interaction between the writer and the reader. Secondly, there is linguistic difficulty in that the language used in written language is different from that used in speech. In this case, the writer has to know the conventions of written language. Thirdly, there is cognitive difficulty in which that the students have to organize their thought on paper. Sometimes, they lose ideas when they are obliged to write and they do not know what to say.
The reality shows that the majority of students dislike writing. When faced with a writing task, most students will react with negative comments. A teacher who does not try to see the real message behind these comments could easily become discouraged. Eventually, both the teacher and the students will hate writing. To prevent this from happening, the teacher should consider what students actually mean boring, and the possibility that students are actually expressing their insecurity and lack of confidence in completing the task.
From the preliminarily observation then, the researcher concluded that there were two main causes: from teacher and students. Firstly, the teacher still used traditional strategy in which she only demanded the students’ writing language rules. The students were seldom trained to make a better writing by using varied technique. The techniques used are monotonous. The teacher asked the students to write in a certain topic. The time given was limited. They sometimes lost their ideas, so they could not continue their writing. They also thought that time for writing was limited. Because of these they got difficulties in writing and the result of their writing were still far from what were expected.
This problem appeared at the students of SMP Negeri 2 Sungguminasa where the writing skill of the students was still low especially in writing narrative. Some techniques and approaches have been employed in teaching writing, nevertheless it was still less to give interest to the students in teaching writing.
The students would usually enjoy new things, especially with the computer, where they can explore a lot of things with it. Students are very comfortable with computers and are very receptive to any learning activities that involve computers (Warschauer,1996). Dialogue journal writing is one of the activities in writing that can provide students with the opportunity to explore and experiment with language. The emergence of microcomputer technology has given endless and remarkable enhancement in language teaching instruction. By using E-dialogue journals, the teacher can engage in multifaceted interactions with her students. Ideas, feelings and concerns can be shared in a private way.
Based on the explanation above the researcher is interested in carrying out research about writing entitled “Using E-Dialogue Journal to Improve the Students’ Writing Skill”.
B. Problem Statement
Regarding to the title of the research and explanation on the background above, the writer formulates a question as follows:
“Does the E-Dialogue Journal improve the students’ narrative writing skill?”
C. Objective of the Research
The aim of conducting of this research is at finding out whether using E-Dialogue Journal is able to improve the skill of the students of SMP Negeri 2 Sungguminasa to write narrative.

D. Significance of the Research
This research attempts to address the following matters to be useful strategy to increase the teachers’ knowledge of English and share experiences in improving the students’ skill to write narrative English using E-Dialogue Journal, encourage the teachers’ colleagues in doing research in improving their teaching as the professional practices, and also give any contribution to the general public in increasing knowledge and get any reflective for being perfection.
This research not only will increase the students’ knowledge in language skill but also to develop the Information Technology and Communication knowledge for them.
E. Scope of the Research
This research limited to the teaching of English at ninth grade special class IX-1 SMP Negeri 2 Sungguminasa using E-Dialogue Journal to improve students’ skill to write Narrative English. The writer will focus attention on improving the students’ skill in writing Narrative through E-Dialogue Journal by using Facebook.

Buku Harian Nanda


Buku Harian Nanda…
Setahun yang lalu…O7 Mei 2009…
Mulai bosan gw ma tulisan kaya’ gini…udah ah…back to myself again…
Kalo aQ mo heboh, gak usah aneh-aneh..Just be myself and trust myself…(yupz…spirit!)

10 May…
Oh God! So got bored….I can’t do anything since a month ago! Wanna go to shopping but…my money was…??sembarang aza deh…gak tw tuh duitnya kemana???melayang kalee…

11..12…13…May…
Semuanya terlewatkan tanpa ada sesuatu yang bisa membuatku berubah…dari sedih menjadi bahagia…harus Q nikmati semuanya dengan sewajarnya….

15 Mei – 05 Juni 2009…
Q tlah meninggalkan “H” tanpa perasaan…tak pernah Q jenguk dan tak pernah Q tengok…biarkan saja dia…sendirian…bosan dan mengeluh seperti aQ yang mengalaminya saat ini…..

06 Juni 2009…
Duh…please deh…it’s not funny! I’m so bored now…
Mo gambar…pensil ilang smua…
Mo nulis…gak tw nulis apa,,,
Mw tidur…sakit perut mo…uuuhhhh…
Mo masak…gak ada bahan…
Mo santai…malaaaazzz…
Duuhhh…anjRitt….!!!

Somewhere …different time…(at night)
…kepikiran jg seh…pengen belajar bahasa laen…selain Inggris…Q kan mw go Internasional….huaahahahahaah..,.segitu peDenya….tapi…biarin aza deh…ne khan cita-cita…Q mw menggantungkan cita-citaku stinggi langit…asal gak tergantung…key???
Heehehehe…..kaya’nya Q tuh…really…really crazy ya??Ah…gak koq…dalam soal cowok…ternyat selera aQ gimana ya??hehehehehe…ssstt….jgn bilang2 ya…kamu liat aja dulu type aQ ntu kaya’ gimana….sebagai cowok idaman…dia ntuw harus….
– pinter mainin alat musik…(alat musik apa yach?)
– pinter dalam pelajaran…(bener gak ya?)
– cakep, putih or item manizt ya?
-tinggi n ndag terlalu kurus…hihiiieeee…
– minimal punya motorlah…( kalo cewek gak matre…gak bakal bisa bertahan kalee…)
…..tapi dalam hal ini…aQ tuh baeg…paling cuman minta antar jemput aza…hehehehehhee…maunya….Udah ah…dah larut…bobo’ dulu….zapa tw aja ntar ketemu ma my Charming Prince…wkwkwkwkwkkwwkkk…syukur dah!…