METODE PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK ANAK DIDIK


METODE PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK ANAK DIDIK
( Kupersembahkan tulisan ini buat sahabatku, para guru yang sering mengalami masalah dalam dunia pendidikan )
Pendidikan menentukan perilaku seseorang. Orang yang berpendidikan lumayan baik akan tampak pada sikap, ucapan, dan pergaulannya. Demikian pula masyarakat yang berpendidikan rendah, maka sikap, ucapan, dan perbuatannya hanya sesuai dengan kemampuan pendidikannya. Oleh karena itu, sebagai seorang guru, aku mempertanyakannya pada diriku sendiri bahwa “apakah aku telah berhasil menjadi seorang pendidik?”
Kita semua pastinya menyadari bahwa betapa besar tanggung jawab seorang pendidik dalam pendidikan anak, baik berkenaan dengan iman, moral, mental, fisikal, spiritual ataupun sosial. Sehingga tak diragukan lagi bahwa tanggung jawab seorang pendidik yang terbesar adalah pembentukan anak karena pastinya setiap orang tua akan merasa gembira jika mereka melihat buah hatinya bergerak di jajaran manusia sebagai manusia yang sesungguhnya. Namun, apakah aku telah berhasil menjadikan mereka sebagai manusia yang sesungguhnya? Apakah aku telah berhasil menjadi seorang pendidik?
Tentu saja jawaban ini belum bisa aku dapatkan, karena dalam proses pembentukan peserta didik menjadi manusia yang sesungguhnya begitu banyak kendala yang harus aku lalui. Terkadang hati kecilku bertanya..bagaimana upaya yang harus aku lakukan untuk membentuk personalitas anak didikku dan mempersiapkan mereka menjadi manusia secara utuh dalam kehidupan?
Oleh karena itu, aku selalu mencari tahu langkah apa yang harus aku lakukan dalam membentuk dan mempersiapkan anak didik? Aku sangat berterima kasih kepada temanku yang telah meminjami aku bukunya yang berjudul “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam” karya DR. Abdullah Nashih Ulwan.
Dalam buku tersebut kutemukan inti dari metode pendidikan yang efektif dalam membentuk dan mempersiapkan anak, diantaranya adalah:
a. Pendidikan dengan keteladanan
b. Pendidikan dengan adat kebiasaan
c. Pendidikan dengan nasihat
d. Pendidikan dengan memberikan perhatian
e. Pendidikan dengan memberikan hukuman.
Dalam tulisan ini akan aku uraikan tiap metode pendidikan tersebut secara ringkas. Terlebih dahulu aku akan membahas tentang poin a, yaitu:

a. Pendidikan dengan Keteladanan
Keteladanan yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana seorang pendidik memberikan contoh terbaik dalam pandangan anak (aku teringat dengan ucapan dosenku ketika masih kuliah dulu bahwa “guru adalah seorang artis yang akan selalu ditiru oleh anak didiknya”). Pendidik akan dengan mudahnya ditiru oleh anak didiknya, baik itu berupa tindak-tanduknya, dan tata santunnya dan bahkan mungkin juga cara jalannya. Hal ini disadari ataupun tidak, bahkan tercetak pula dalam jiwa dan perasaan tentang gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan.
Masalah keteladanan adalah faktor penting hal baik-buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan juga menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh menjadi anak yg jujur pula serta akan terbentuk akhlak mulia. Begitupula sebaliknya, ketika pendidik berusaha keras untuk mempersiapkan mereka demi kebaikan, namun tidak menunjukkan keteladanan buat anak didiknya, maka amatlah sukar bagi anak untuk melaksanakan berbagai metode tersebut.
Ada sebuah syair yang melontarkan kecaman yang pedas terhadap pengajar yang tindak tanduknya bertentangan dengan ucapannya, yaitu:
Wahai orang yang mengajar orang lain
Kenapa engkau tidak juga mengajari
Dirimu sendiri
Engkau terangkan bermacam obat bagi segala penyakit,
Agar yang sakit sembuh semua
Sedang engkau sendiri ditimpa sakit
Obatilah dirimu dahulu
Lalu cegahlah agat tidak menular
Kepada orang lain
Dengan demikian engkau adalah
Seorang yang bijak
Maka apa yang engkau nasihatkan
Akan mereka terima dan ikuti
Ilmu yang engkau ajarkan
Akan bermanfaat bagi mereka.
Dalam Islam, kita pun telah diberikan contoh tentang keteladanan Rasulullah, S.a.w. dalam menyebarkan agama Islam, serta dalam memberikan panutan kepada umatnya. Sesungguhnya Rasulullah adalah seorang pendidik yang mulia yang telah memberikan teladan yang baik kepada umatnya.
Sebagai seorang pendidik, hendaknya kita memberikan teladan yang baik, teladan tentang pentingnya arti tolong menolong, pengorbanan dan mendahulukan orang lain, serta tidak berfoya-foya atau bergaya hidup mewah dan juga memiliki kerendahan hati.
Seorang pendidik hendaknya selalu memberikan salam kepada anak didiknya, memperhatikan secara serius terhadap pembicaraan mereka, dan tidak pernah menganggap mereka rendah jika mereka ingin anak didiknya melakukan hal yang sama. Pendidik pun harus bisa memberikan contoh tentang kesantunan jika menginginkan anak didiknya bertatasantun, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Begitu juga jika menginginkan anak didik untuk berani mengemukakan pendapat, pendidik harus memberikan teladan yang baik dalam mengeluarkan pendapat.
Sebagai kesimpulan dalam penjelasan ini adalah bahwa keutamaan akhlak harus diwujudkan dalam sebuah keteladanan yang baik, sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap jiwa dan hati. Oleh karena itu, teladan yang baik harus ada demi berhasilnya pendidikan dan memberikan kepada orang lain contoh yang baik pula, akhlak mulia, perilaku yang baik, sifat-sifat terpuji, sehingga dapat menjadi penerang kebaikan dan kebenaran. Para pendidik harus selalu tampil di depan anak didiknya dengan penampilan yang bisa dijadikan sebagai teladan yang baik, dalam segala hal. Sehingga anak didik sejak usia kecil sudah mengenal akhlak yang luhur. Dengan demikian, diketahui oleh para orangtua dan pendidik bahwa pendidikan dengan memberikan teladan yang baik adalah penopang dalam upaya meluruskan kebengkokan anak, bahkan merupakan dasar dalam meningkatakn keutamaan, kemuliaan dan etika sosial yang terpuji.
Tanpa memberikan teladan yang baik, pendidikan terhadap anak-anak tidak akan berhasil, dan nasihat tidak akan membekas. Karenanya, bertakwalah kepada Allah, dan sadarilah bahwa mendidik mereka adalah tanggung jawab yang dibebankan atas pundak kita.

b. Pendidikan dengan Adat Kebiasaan
Anak adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Seperti yang dikutip dalam wasiat Ibnu Sina tentang pendidikan anak-anak bahwa hendaknya bersama seorang anak kecil dalam pergaulan sehari-hari, karena anak-anak kecil dengan anak kecil lebih membekas pengaruhnya, satu sama lain akan saling meniru terhadap apa yang mereka lihat dan perhatikan.
Jika manusia berada pada pendidikan dan lingkungan yang baik, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan. Hal ini dapat kita lihat bahwa manusia manapun yang hidup lama dalam lingkungan sesat dan rusak, sehingga masyarakat telah merasakan kejahatannya lalu tiba-tiba datang seorang saleh yang menjadi temannya sebagai pendidik yang berpengaruh dan membekas, sebagai juru dakwah yang tulus, yang membawanya ke lingkungan yang penuh dengan kemuliaan dan kebaikan, maka setelah ia hidup lama dengan dosa, maka ia menjadi seorang yang muttaqin terkemuka. Begitupula dengan dunia binatang, jika kita memelihara binatang buas, namun karena dibiasakan, akhirnya ia menjadi jinak.
Imam Al-Ghazali berkata bahwa “Anak-anak adalah amanah bagi kedua orangtuanya, dan hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Karenanya, jika dibiasakan pada kebaikan dan diajarkan kebaikan kepadanya, maka ia akan tumbuh pada kebaikan tersebut, dan akan berbahagialah di dunia dan di akherat…..
Sebagai pendidik, hendaknya kita mengajarkan kata-kata “Laa Ilaha Illa ‘l-Lah”. Sehingga secara praktis dari upaya ini akan dapat menyediakan dan membiasakan anak agar berimaan dengan sepenuh jiwa dan hatinya, bahwa tidak ada pnecipta, tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Suci.
Jika pendidik mendapatkan anak didiknya mengerjakan perbuatan munkar atau berbuat dosa, seperti mencuri, atau mengeluarkan kata-kata kotor, hendaklah diperingatkan dan dikatakan kepadanya bahwa ini perbuatan munkar, keji, busuk dan hukumannya haram.
Jika pendidik mendapatkan anak didiknya mengerjakan kebaikan, atau berbuat ma’ruf, seperti sedekah atau memberikan pertolongan, hendaklah didukung dan didorong untuk terus mengerjakannya. Dan katakan kepada mereka bahwa perbuatan tersebut adalah baik dan halal. Dengan demikian, ma’ruf dan kebaikan dikenalkan kepadanya didorong untuk selalu mengerjakannya, sehingga menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan.
Oleh karena itu, pendidikan dengan pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan, dan metode paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya. Sehingga tidak diragukan bahwa mendidik dan membiasakan anak sejak kecil adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil.

c. Pendidikan dengan Nasihat
Nasihat adalah sebuah pembuka mata anak-anak pada hakekat sesuatu, mendorongnya menuju situasi luhur dan menghiasinya dengan akhlak yang mulia. Nasihat yang tulus, berbekas, dan berpengaruh, jika memasuki jiwa yang bening, hati terbuka, akal yang bijak dan berpikir, maka nasihat tersebut akan mendapat tanggapan dan meninggalkan bekas yang mendalam.
Metode pendidikan dengan nasihat pun tertuang dalam AlQur’an yang penuh dengan ayat-ayat yang menjadikan metode nasihat (memberikan pengajaran) sebagai dasar dakwah, jalan menuju perbaikan individu, dan memberi petunjuk kepada berbagai kelompok. Adapun metode pendidikan dengan nasihat memiliki ciri seperti berikut ini:
1. Menyeru untuk Memberikan Kepuasan dengan Kelembutan atau Penolakan
2. Metode Cerita dengan disertai Tamsil Ibarat dan Nasihat
Penasihat yang sadar, pendidik yang bijaksana, dan da’i yang berpengaruh dapat menyampaikan kisah dengan gaya bahasa dan struktur yang sesuai dengan daya tangkap orang-orang. Dengan alasan tersebut, hendaklah para pendidik berusaha menggugah emosi dan perhatian anak-anak, ketika menyampaikan cerita.
d. Pendidikan dengan Memberikan Perhatian
Ketika siswa kita mengalami permasalahan, maka kita hendaknya mencari tahu apa yang sedang dialami oleh siswa tersebut agar dapat memberikan perhatian yang sedikit lebih dari biasanya. Karena pada dasarnya, siswa kita membutuhkan perhatian seperti ketika mereka berada dalam lingkungan rumah. Hendaknya, perhatian itu tak akan pernah berkurang sehingga para peserta didik kita merasakan bahwa kita ada untuk mereka di saat mereka membutuhkan kita.

e. Pendidikan dengan Memberikan Hukuman
Ketika ada peserta didik yang melakukan kesalahan yang berakibat fatal, maka tidak ada salahnya jika kita memberikan hukuman ataupun sanksi yang sesuai dengan perbuatannya. Hal ini untuk menunjukkan kepada mereka bahwa segala perbuatan di dunia itu akan mendapatkan ganjaran, baik itu perbuatan buruk maupun perbuatan baik.

Semoga metode pendidikan dalam membentuk anak didik ini dapat bermanfaat bagi kita semua sebagai tenaga pendidik, khususnya saya sebagai guru di sebuah sekolah dasar.Amien..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s