Aku Kembali…ISTIMEWA (Ingin Selalu Tahu Ilmu dan MEmbagikannya kepada sisWA)


Pukul 07.30…

Setelah melewati sesi cipika-cipiki dengan rekan-rekan guru selama beberapa menit (eitz…yg perempuan dengan perempuan lho…hehehhee) akhirnya bel tanda masuk pun berbunyi. Sesi melepas kerinduan pun telah berlalu. Para guru yang bertugas mengawas segera masuk ke ruangan kelas. Kami bertiga duduk di ruangan guru dan mencari tempat duduk masing-masing. Aku segera memilih meja yang berdekatan dengan Pak Yesra Kandami yang saat ini bertugas sebagai guru bahasa Inggris. Aku melihat di meja tersebut masih terdapat tempat tisu yang aku jadikan sebagai tempat pulpen dan bertuliskan “Irawati,S.Pd. SM-3T jilid I”. Hahahaa…dengan bangganya aku memperlihatkan tempat pulpen tersebut kepada Theo dan mengatakan bahwa masih terdapat sisa kenangan yang membuktikan bahwa aku pernah betul-betul akrab dengan sekolah ini. Yaa..sekolah ini telah mengukirkan berbagai pengalaman dan kenangan (sebenarnya aku ingin menggunakan kata ‘berjuta kenangan’ namun aku takut akan ada yang mengatakan bahwa aku terlalu berlebih karena waktu yang aku miliki selama berada di sini terbilang singkat..hanya setahun :D).

Aku melihat ke sekeliling ruangan ini..tak banyak yang berubah…posisi meja dan kursinya masih di tempat yang sama. hmm…hanya lemari yang sepertinya ada penambahan jumlah karena di sudut kiri menghadap ke luar terdapat 4 (empat) buah lemari. Aku bersyukur dalam hati karena sekolah ini mengalami perkembangan yang pesat ditandai dengan bertambahnya ruangan kelas dan laboratorium.

Aku segera berjalan keluar untuk memperhatikan suasana halaman sekolah yang hingga kini belum diratakan. Aku ingat ketika kami baru menempati sekolah ini pada sekitar bulan Mei 2012, kami Srikandi SM-3T dan juga rekan-rekan guru yang lain mengarahkan siswa untuk bekerja bakti setiap sekali seminggu. Walaupun di halaman sudah tak terdapat lagi pepohonan yang besar dan tinggi tetapi rumput-rumputnya terlihat agak lebat. Mungkin karena kesibukan mereka belajar sehingga agenda bekerja bakti setiap seminggu sekali sudah ditiadakan. Dan sampai sekarang pun belum terlihat tiang bendera merah putih yang menunjukkan bahwa di sini sudah pernah diadakan upacara bendera setiap hari senin ataupun perayaan hari-hari bersejarah nasional lainnya..hmmm…sepertinya ini yang harus segera berubah. Ketika aku menanyakan hal ini kepada rekan-rekan dan juga kepala sekolah, beliau mengatakan bahwa bagaimana mereka bisa melaksanakan upacara bendera sedangkan jika mereka berbaris saja akan ada yang terlihat lebih tinggi ataupun lebih pendek karena halaman sekolah masih dipenuhi gundukan-gundukan tanah dan juga beberapa lubang bekas pohon yang habis ditebang. Yah…halaman sekolah kami hingga saat ini masih belum rata dan yang sering upacara adalah sapi-sapi yang bebas berkeliaran di halaman karena sekolah kami ini belum memiliki pagar. Semoga saja apa yang menjadi harapan kami dan anak-anak bahwa setiap hari Senin akan ada upacara bendera sehingga mereka dapat mengerti dan merasakan nilai-nilai kebangsaan bukan hanya dalam teori namun juga dalam praktik dapat tercapai jika halaman sekolah sudah mengalami perbaikan (tanahnya diratakan).

Ahh…pandanganku seketika dibuyarkan oleh suara bel sekolah tanda istirahat untuk UAS jam pertama yang dibunyikan di sampingku…”belnya masih sama seperti dulu…disaat kami masih mengabdi di sini,” gumamku dalam hati.

Semoga kehadiranku di sini bersama teman-teman alumni SM-3T dan juga rekan-rekan guru yang ada di sekolah ini dapat membawa perubahan dalam memajukan pendidikan untuk kabupaten Manokwari Selatan dan tentu saja sekolah ini khususnya. Amiin…

Pukul 11.30…

Aku bergegas ke rumah untuk segera masak karena di sekolah tak ada lagi kegiatan. Aku tak ingin terlambat masak karena itu berarti bahwa kami pun akan terlambat untuk makan dan jika demikian maka berhati-hatilah…malaria akan mengintai. Begitu berjalan ke dapur dan hendak mengambil panci untuk mencuci beras, ternyata di meja , ada rice cooker yang sudah terisi nasi yang sudah matang..hehehee…rupanya Theo bergerak lebih lincah daripada aku…tadi katanya dia bersegera untuk memasak mumpung genset dihidupkan. Inilah keuntungan memiliki tempat tinggal yang dekat dari sekolah…setiap ada waktu luang (jika memiliki keperluan di rumah) bisa segera ke rumah. Hebat ya??di tengah keterbatasan lingkungan, sarana dan prasarana, kami masih dapat menikmati kecanggihan dengan memasak menggunakan rice cooker yang notabenenya konsumsi minyak tanah untuk hari ini bisa dikurangi. Alhamdulillah…dengan begitu, kami bisa menggunakan minyaknya untuk menghidupkan pelita di malam hari mengingat listrik di rumah kami belum ada.

Aku bersegera memasak sayur dan mengolah ikan ‘Pallu Ce’la’ (Ikan Sale) yang aku bawa dari rumah dengan memotong daging ikan menjadi kecil-kecil (disuwir-suwir) dan aku menamainya abon ikan istimewa…hehehee….yahhh..tak ada yang tak istimewa dalam kehidupan kami..semua serba istimewa…karena kami adalah orang-orang istimewa…hahaha…kalian tahu apa itu ISTIMEWA? (Ingin Selalu Tahu Ilmu dan MEmbagikannya kepada sisWA).

Siang hingga sore hari…

Karena kelelahan telah bercuap-cuap (hehehe…) di kantor dengan rekan-rekan guru dan juga sebagian siswa yang datang berkunjung ke honai, aku memutuskan untuk beristirahat dengan memilih tidur siang sebagai kegiatan yang lebih efektif, tidak mengeluarkan biaya dan menyenangkan…wkwkwkwk…

Tidur dulu ahhh…aku yakin…sebentar sore aktivitas kami sebagai tim pemburu air kali akan tetap berlangsung karena hingga saat ini kami belum memiliki penampungan air…zzzzzzhhhzzzzz…tidur yukkk!….zzzhhhhhzzzz…

Sore hari…pukul 15.05 WIT…

Aku terbangun…begitupula dengan Theo dan juga Idhan…hmmm….sepertinya kami sudah memiliki alarm hati yang bunyinya bertepatan untuk bergegas menunaikan kewajiban. Theo membuang rasa malunya dengan berjalan ke arah profil tank adik-adik SM3T Jilid 3 dan berteriak dari luar untuk meminta air yang hendak dipakai berwudhu. Sementara aku berjalan ke belakang untuk melihat-lihat, eh…lebih tepatnya mencari-cari botol ataupun kaleng yang bisa dimanfaatkan untuk dibuat pelita sebagai penerangan kami di malam hari. Idhan yang penasaran dengan kegiatan yang aku lakukan segera bertanya dengan logat Luwuknya yang dominan menunjukkan kalau dia orang Manado, “bikin apa ngana di situ,Ira?”. Lantas aku menjawab “lagi cari-cari botol kosong sama kaleng”. “Mau ba apa ngana dengan kaleng deng botol?”, lalu aku mengatakan hendak membuat pelita…dan lagi-lagi dengan logatnya yang tak bisa hilang dia mengatakan,”ngana bilang kamari jo,supaya kita bikin itu pelita.” Eheeheheh….dan akhirnya kami menemukan botol M-150 yang berada di sekitar rumah kami. Awalnya heran juga sih, kami bisa menemukan botol tersebut di sini,mengingat tak ada rumah di sekitar sini. Namun aku langsung teringat bahwa mungkin saja para pekerja yang dulunya mengerjakan rumah ini yang setelah mengkonsumsinya lalu membuang botol minuman suplemen tersebut di sini.

Idhan bilang kalau kita tidak bisa membuat pelita karena tak ada sumbu…

Aha…Idhan belum tahu bahwa kesigapan, kemandirian dan ketahanmalangan telah melekat di diri kami anak-anak SM-3T begitupula dengan diriku. Aku segera membantu Idhan dengan mengambil sumbu yang telah kami beli ketika baru tiba di kota Manokwari kemarin. Dan akhirnya…pelita sederhana kami telah selesai dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar kami. Kaleng minuman yang terbuat dari aluminium kami gunakan sebagai batang sumbu. Karena penasaran, aku segera mengisinya dengan minyak tanah pinjaman (lagi-lagi dari adik tetangga kami yaitu Herman, Ancu dan Amin= personil SM-3T Jilid 3).

Dan akhirnya…waktu berburu air telah tiba…

Ke kali…dengan membawa ember…mandi dan pulang dengan bersimbah keringat begitu sampai di rumah kembali.

Dan malampun kini telah tiba…pelita baru kami kini sudah dapat digunakan untuk menerangi rumah. Idhan sengaja membuat 3 (tiga) buah pelita di rumah kami. Masing-masingnya digunakan di kamar dan 1 di luar. Malam ini aku segera tidur agar segera bangun keesokan harinya…zhhzhzhzhzhhhh….

Rabu, 12 Maret 2014….

Pagi ini aku terbangun dengan badan yang terasa segar karena semua kelelahan kemarin telah hilang oleh istirahat tidur semalam. Aku segera ke kamar mandi untuk buang air kecil dan betapa kagetnya aku ketika *maaf…meludah ke lantai..ternyata warnanya hitam…aku ketakutan dan segera menyelesaikan urusan di kamar kecil untuk memeriksa apa yang terjadi dengan diriku pagi ini. Begitu aku masuk di kamar,aku melihat ke arah Theo dan dia bertanya apa yang sedang terjadi denganku. Tapi aku tak segera menjawabnya, aku malah balik bertanya kepadanya mengapa ada coretan hitam di bawah hidungnya..hahahaa….dia tertawa dan menunjuk pula ke arah hidungku. Dikatakannya kalau akupun memiliki coretan di atas hidung…ohhh…rupanya asap pelita itulah penyebabnya…itupulalah yang menyebabkan ludahku berwarna hitam..hmmm…sebentar malam kami sepakat untuk tidak menyalakan pelita di dalam kamar.

Dan hari ini…semua aktivitas berlangsung dengan normal dan baik-baik saja hingga malampun datang menjemput lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s