Jeritan Ninang Membuatku Kembali


Hari itu Rabu tepatnya tanggal 21 Desember 2011 pukul 05.30 WITA adalah awal dimulainya perjalananku untuk ikut ambil bagian dalam upaya mencerdaskan anak bangsa dalam sebuah program yang bernama SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dilaksanakan oleh DIKTI dan dinaungi Kemdiknas kemudian diberangkatkan oleh LPTK UNM .
Aku menuju bandara Hasanuddin diantar oleh keluarga tercinta…mereka melepaskanku dengan penuh kesedihan dan do’a serta nasehat dan juga petuah-petuah selama aku berada di sana nantinya.
Ketika tiba di bandara, beberapa teman yang juga akan berangkat dengan daerah tujuan yang sama telah berada di sana untuk menunggu pesawat Express Air yang akan mengantar kami ke Manokwari. Yeah…daerah sasaran SM-3T untuk aku dan teman-teman adalah Manokwari dan nantinya kami akan disebar di berbagai distrik setelah berada di Manokwari…semoga daerah yang akan aku tuju tidaklah seseram yang aku bayangkan (pintaku dalam hati).
Tepat pukul 09.28…(kami menunggu sekitar 2 jam dari waktu yang ditentukan..)pesawat Express Air kemudian lepas landas menuju Sorong.

Setiba di bandara Rendani, kami yang semula hanya berjumlah 3 orang mendapatkan satu orang teman lagi yang nantinya akan aku beri gelar menjadi “4 Wanita Penakluk Oransbari”…heheheeheh…terdengar seram ya??qqqq…biarin…karena memang kami, khususnya aku belum tau betul akan kondisi daerah yang akan kami tuju (hendak jadi apa dan bagaimana kami di sana, semua itu masih menjadi tanda tanya besar dalam benakku)..tapi yang pastinya…yang aku tahu dan yakinkan dalam hati bahwa ketika kami di sana, kami akan menjadi seorang pengabdi masyarakat..di bidang pendidikan dan juga di bidang kemasyarakatan…semoga pula di semua bidang dan kami akan menaklukan segala hal yang kurang bagus di Oransbari…amiin…

Dalam perjalanan, dua orang temanku (Kristin dan Chairiah) sudah mulai mabuk..(seperti peminum saja…hehehee..maaf ya friends!), lalu Umrah yang mungkin karena kecapaian akhirnya tertidur sehingga hanya aku, dan kepala sekolah saja yang terlihat seperti penumpang sementara sopirnya mengemudikan mobil dengan sangat hati-hati karena jalanan yang kami lewati berkelok dan sangat gelap. Di sisi kiri dan kanan jalan, aku hanya melihat pepohonan yang lebat dan sesekali terlihat babi dan anjing yang melintasi jalan. Di kegelapan malam ini, aku merasakan seperti berada di sebuah tempat yang pernah aku kunjungi sebelumnya sehingga batinku membisik..semoga perasaan yang aku miliki ini akan membawaku ke dalam suasana nyata…semoga aku akan berada dalam sebuah lingkungan yang bias menerima aku dan ketiga temanku…semoga!

Satu jam perjalanan kami (pukul 19.23 WIT)….
Aku melihat dalam remangnnya cahaya lampu mobil, di sisi jalan ada serombongan warga yang berjalan dengan mengenakan beraneka corak pakaian yang terkesan akan menuju kesebuah tempat sambil membawa sebuah buku…Ya Allah… aku betul-betul telah berada di kampung orang…mereka terlihat beda dengan aku dan kami…aku telah melihat penduduk asli Papua, dari perawakan mereka, cara berpakaiannya menyadarkan aku bahwa inilah Papua..yang begitu alami… aku yang penasaran, akhirnya memberanikan diri untuk mulai mengobrol dengan bapak kepala sekolah…aku menanyai beliau tentang penduduk pribumi yang sedang berjalan di malam hari itu…beliau bilang kalau mereka hendak ke gereja.ohh…aku baru ingat bahwa sekarang sudah tanggal 21 Desember 2012..Natal hampir tiba…
Hihihiihiii,…(pasti kamu heran,mengapa aku tertawa seperti ini)…iyalah…aku kurang mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kepala sekolah….mungkin karena selain telingaku yang budeg oleh suara mesin mobil, medok Jawanya beliau membuat aku agak kesulitan pula menangkap dengan cepat apa yang dikatakan oleh beliau. Sehingga dalam perjalanan aku lebih banyak mengucapkan kata “oohh”, dan juga “iya kah,Pak?”. Yang sempat aku tangkap dari pembicaraannya adalah tentang banyaknya rumah-rumah penduduk yang kosong karena ditinggalkan oleh pemiliknya, padahal pemerintah telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk rumah tinggal yang layak huni buat mereka. Begitu pula dengan penerangan yang mereka gunakan, di pinggir jalan terlihat adanya tiang listrik dan juga telepon umum serta fasilitias internet namun mereka tidak memanfaatkannya dengan baik. Bahkan ada sebuah perkampungan yang memiliki beberapa deretan rumah sederhana yang tidak berpenghuni. Alasan utamanya adalah karena mereka takut “Suwanggi”..aku yang juga lumayan penakut, langsung menengok ke kiri dan ke kanan sambil membayangkan bahwa “Suwanggi” itu adalah sebuah makhluk raksasa yang akan menelan mentah-mentah manusia yang ditemuinya…(betulkah itu???)…kita liat aja nanti..karena aku tidak berani membahasnya lebih jauh lagi…

Pukul 20.15 WIT…
Bapak kepala sekolah menoleh ke belakang dan mengatakan kepada kami (tepatnya aku, karena ketiga temanku sudah terlelap) bahwa beliau akan singgah di warung untuk mengambil kunci rumah. Alhamdulillah…bisikku lirih…akhirnya perjalanan panjang ini akan berujung jua. Aku berkesimpulan bahwa rumah yang akan kami tuju sepertinya sudah tidak jauh lagi dan ternyata dugaanku benar. Dalam cahaya malam, aku melihat bahwa jalanan yang kami lewati lumayan lebih ramai dibandingkan dengan jalanan yang dilewati sebelumnya..namun ketika mobil kami berbelok ke arah kiri dan masuk menyusuri jalanan yang sedikit berbatu dan lumayan gelap, aku mulai membangunkan teman-temanku dan membisikkan kepada mereka bahwa kami akan segera sampai.
Kristyn, Chairiah dan Umrah agak tersentak dan langsung melihat keluar…mereka berbisik…”Kak…hendak kemana kita ini?jalanannya gelap sekali dan sunyi”… aku berusaha menenangkan mereka dan diriku sendiri bahwa kita akan menuju tempat tinggal kita nantinya yang terasa begitu damai,tenang dan sejuk…(padahal dalam hati aku agak galau..hehehehehe..Ila..kamu berpura-pura berani ya???).

Lalu kami memasuki pekarangan sebuah rumah yang memiliki lumayan banyak pepohonan yang terlihat berdaun lebat. Pak Kepala Sekolah yang bernama Pak Subari meminta kami untuk menurunkan barang bawaan kami…lalu kami masuk ke rumah tersebut..hmmm…lumayan bersih, adem, nyaman dan tidak menyeramkan..pikirku…aku pasti akan betah di sini. Namun karena melihat kami kelelahan, Pak Subari mengajak kami untuk beristirahat di sebuah penginapan yang terletak di pinggir jalan yang kami lewati tadi…dan akhirnya…pada pukul 20.55 WIT.. aku baru bisa merebahkan alias meluruskan punggungku di sebuah tempat tidur yang lumayan empuk…malam itu kami menyewa 2 buah kamar tidur dengan tariff 100 ribu rupiah per malamnya…yahh…sama empuknya dengan kamar yang kami huni…hehehehehe….Lalu aku bergegas ke kamar mandi dan menyikat gigi kemudian selanjutnya menelpon ke rumah untuk mengabarkan bahwa aku telah tiba dengan selamat di tempat tujuan…dan…zzz..zz….zz….zzzzz…zzzzz….”Selamat bobo Ila, Selamat berpetualang di Oransbari…”

Hari Pertama di Oransbari….22 Desember 2011..
Lagu “Rindu Setengah Mati” milik D’Masive mengalun dengan volume yang lumayan tinggi …aku tersentak dan segera meraba hape yang aku taruh di dekat bantal kepalaku.. sudah pukul 05.00…bisikku dalam hati (karena aku menyetel alarm di hapeku pada waktu seperti itu). Namun aku tidak bergegas bangun karena dingin yang menyelimutiku pagi ini…tidur lagi ahhh…sambil mencari-cari selimut di sampingku..tapi..hey..aku koq tidak menemukannya…aku segera bangun dan meneliti dengan seksama di sekelilingku…aku kaget karena di sampingku berbaring seseorang yang aku agak asing dengannya dan di luar ternyata terlihat sudah mulai terang. Aku segera ‘memperbaiki diri’ (maksudnya mengingat kembali dimana aku dan siapa yang aku temani tidur semalam)…hmmmm…dasar pikun…heehehee… ternyata aku sedang tidak berada di rumah dan yang aku temani tidur adalah Kristyn temanku dari Makassar. Huuffthh…artinya sekarang sudah pukul 06.00 WIT…(pantesan sudah mulai terang).Niatku untuk tidur lagi, aku urungkan dan segera menuju ke kamar mandi.

“Jalan-jalan yuk!”,ajak Kristyn yang telah melihatku selesai merapikan tempat tidur, aku mengiyakannya. Lalu, kami segera keluar kamar dan disambut oleh senyuman ibu pemilik penginapan. Beliau menawari kami minuman hangat yang telah disuguhkan di meja yang terletak di ruang tamu. Lalu aku mengucapkan terima kasih dan segera mencicipinya…
Masya Allah…indahnya Oransbari di pagi hari..aku menyusuri jalan raya yang terlihat begitu bersih dan di ujung jalan terlihat dekat sebuah gunung yang diselimuti kabut (pantesan dingin sekali)..aku dan Kristyn terus berjalan lurus menuju ke arah gunung tersebut..mobil-mobil pun sudah mulai lalu lalang. Di sisi kiri dan kanan jalan rumah-rumah penduduk berjejer rapi. Lalu sekitar 400 meter dari penginapan aku melihat sebuah pasar yang belum ada isinya..tempat ini terasa begitu damai,hijau dan indah…tapi aku belum menemukan seorangpun penduduk asli selama dalam perjalanan. Karena sudah mulai merasa letih, aku mengajak Kristyn untuk segera kembali ke penginapan. Nah,ketika dalam perjalanan pulang ini, aku sudah mulai melihat penduduk asli yang mengendarai motor dengan 3 orang di belakangnya (mungkin anak dan istrinya)..lucu..rambut mereka (yang perempuan) dikuncir dua..hehehehe…sehingga lebih terlihat *maaf.. seperti tanduk karena rambutnya pendek dan kaku..kemudian muncul lagi yang lainnya masih dengan kendaraan yang sama dan membawa beberapa bakul..mungkin mereka akan ke pasar..pikirku.
Akhirnya setelah tiba kembali di penginapan, kedua temanku, Umrah dan Chairiah telah bangun pula. Mereka duduk di ruang tamu menikmati teh dan aku segera bergabung dengannya. Aku mengajak mereka untuk memikirkan apa langkah selanjutnya yang akan kami lakukan di tempat ini. Lalu Kristyn mengatakan bahwa kita harus segera ke belakang untuk menjenguk barang-barang yang ada di rumah baru..oh iya…aku hampir lupa kalau kami hanya menginap untuk satu hari di tempat ini..Kemudian aku, Chairiah, Kristyn dan Umrah segera mempersiapkan barang-barang yang akan kami pakai di ‘rumah baru’ karena kami akan tinggal di rumah tersebut selama kami berada di tempat ini..(semoga)…

Pagi yang cerah di Oransbari…
Aku mengajak adik-adikku berjalan-jalan di pagi hari menuju ke pasar untuk mencari pengganjal perut. Hmm…suasana yang sangat indah..pagi yang sejuk dan kami berpapasan dengan warga Oransbari yang menebarkan senyumannya. Kami pun tak lupa membagi senyuman terindah kami buat mereka yang terdiri dari berbagai suku namun satu dalam distrik Oransbari.

Setelah pulang dari pasar, kami mempersiapkan diri untuk ke sekolah siang harinya karena ini adalah perkenalan pertama kami dengan siswa-siswi Oransbari. Namun, aku sudah siap terlebih dahulu karena ditawari oleh Ibu Sukarti (Ibu Kost) untuk mengajar bahasa Inggris di SD Negeri Sidomulyo dari pkl. 07.30-12.05 yang juga merupakan hari pertama mengajar di sekolah tersebut.

Pukul 12.30-18.00
Aku segera bergegas menuju ke sekolah setelah berganti pakaian dan Ishoma selama 20 menit. Untung saja sekolah tempat kami mengajar letaknya hanya di sebelah tempat kami tinggal (karena ruangannya masih menumpang di SMP Negeri Oransbari) sehingga aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk menuju ke sekolah karena bel masuk sekolah adalah pukul 13.00.

Hari pertama kami di sekolah adalah hari perkenalan. Belum ada proses belajar mengajar karena mereka baru saja selesai Ujian Semester Gasal. Dari 5 kelas (kelas X,XI IPA, XI IPS dan XII IPA, XII IPS) yang menurut data dari absen siswanya berjumlah kurang lebih 150 orang, namun yang hadir hanyalah sebanyak 40 orang.
Dan jumlah siswa yang paling sedikit hadir adalah siswa kelas XII IPS yang hanya ada 2 orang siswa saja, kemudian disusul oleh siswa kelas XI IPS yang hadir hanya berjumlah 5 orang. Dan ketika aku memperhatikan dengan baik nama-nama mereka di absen, sebagian besar dari mereka adalah penduduk pribumi. Sehingga untuk sementara waktu aku dapat menyimpulkan bahwa kelas IPS didominasi oleh penduduk pribumi dan banyak yang tidak sering ke sekolah.

Hmm…sebenarnya hari yang panas…tapi aku tetap menunjukkan wajah ceria dan bersemangat buat mereka. Kesan pertama harus menggoda..hehehehe…karena aku sangat berharap agar mereka semuanya dapat hadir dalam proses belajar mengajar. Aku dan ketiga adik-adikku mulai memperkenalkan diri satu persatu dan memberitahukan maksud dan tujuan kami ada di Oransbari.

Aku sebagai yang tertua, memberikan kesempatan kepada adik-adikku untuk memperkenalkan diri mereka secara detail terlebih dahulu karena sepertinya di awal aku telah terlalu banyak berceloteh…hehehehe…
Ketika Umra memperkenalkan dirinya sebagai guru Fisika namun akan mengajar Kimia, siswa-siswa terlihat senang karena katanya akan diajar oleh guru baru. Begitupula dengan perkenalan Chae, mereka terlihat antusias karena akan ada yang mengajar TIK dan mempraktikkannya secara langsung karena menurut mereka selama ini hanyalah belajar secara teori saja tanpa pernah memegang komputer ataupun laptop. Dan selanjutnya adalah kesempatan Tytin sebagai guru Ekonomi. Anak IPS yang sejak tadi terlihat diam langsung mengangkat muka dan mengatakan “kalo torang pu guru ekonomi, tong mau ke sekolah setiap hari ne”. Sungguh suatu awal yang luar biasa!

Dan aku pun kemudian maju memperkenalkan diri sebagai guru bahasa Inggris dan Seni Budaya. Wow..respon mereka sungguh di luar dugaanku…ada yang berkata kalau mereka pasti akan lebih susah belajar bahasa Inggris karena gurunya dari jauh…malu katanya..namun aku berjanji pada mereka bahwa Insya Allah, kedatangan kami ke Oransbari bukan untuk membuat mereka malu belajar namun akan membuat mereka bangga dan selalu ingin belajar..
Di akhir perkenalan, siswa meminta kami untuk menunjukkan kebolehan kami…hmm…rupanya mereka juga pintar berinteraksi dan menciptakan feedback antara guru dan siswa…hehehehe…aku menodong ade Chae untuk menyanyi sebagai perwakilan dari kami..hihiiii…dan rupanya mereka begitu terkesan dengan suara ibu guru barunya…asyiikkk…tong pu guru baru..

Setelah perkenalan perdana kami di kelas secara bersamaan, maka kami mengarahkan mereka untuk segera memasuki ruangan kelas masing-masing. Untuk hari ini, aku mendapat tugas untuk mengajar di kelas XII IPS, Chae di kelas XI IPA, Tytin di kelas XI IPS dan Umra di kelas XII IPA.

Aku yang mengajar kelas XII IPS hanya berhadapan dengan 2 orang siswa saja..huffthhh…karena siswanya hanya berdua dan mereka juga telah selesai ujian semester gasal, maka aku memanfaatkan waktu dengan berkenalan dengan mereka yaitu Andreas dan Anis. Andreas tinggalnya di sekitar pelabuhan yang jaraknya kurang lebih 5 km dari sekolah dan biasanya dia berjalan kaki ke sekolah kalau tidak menemukan pembonceng sementara Anis tinggal di Kompleks A yang jaraknya sekitar 2 km dari sekolah. Dan ketika aku menanyakan siswa-siswa yang lain, mereka berdua menjawab kalau biasanya kelas hanya diisi oleh paling banyak 7 orang dari 23 siswa saja..wahhh…suatu hal yang butuh penanganan luar biasa..semangat! dan alasannya didominasi oleh karena mereka berpikir bahwa lebih baik mati bodoh daripada mati makan…mereke lebih menyempatkan diri untuk bekerja mencari uang daripada belajar atau datang ke sekolah…ckckcckkk…aku akan berjuang untuk ini…mereka harus cinta sekolah..tekadku dalam hati.

Setelah istirahat dan masuk di kelas selanjutnya (kelas XII IPA), aku kembali mencari tahu alasan ketidakhadiran mereka di kelas…dan masih dengan alasan yang sama..lebih baik mati bodoh daripada mati makan…pola pikir mereka harus berubah…dan aku ingin agar ini dapat berubah dalam jangka waktu yang dekat..minimal sebulan kami di sini…mereka sudah mencintai sekolah…dan aku yakin…aku pasti bisa…

Sebelum pulang..aku meminta mereka untuk mengabarkan kepada teman-temannya yang belum sempat datang ke sekolah agar nanti pada semester depan mereka sudah hadir semuanya karena mereka sudah ada guru baru…
Pukul 18.00
Kami segera bergegas pulang ke rumah karena hari sudah mulai terlihat gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 bel pulang sekolahpun tlah dibunyikan…
Hmmmm….kesan pertama di sekolah…banyak PR yang harus kami selesaikan…dan tunggu kami di semester depan..SM3T akan membawa perubahan..kami Srikandi SM3T di Oransbari akan berjuang untuk itu!

Hari kedua siswa kelas XII IPS yang hadir berjumlah 7 orang. Alhamdulillah sebuah perkembangan yang bagus, mungkin promosi perkenalan kami kemarin betul-betul memberi kesan yang menggoda sehingga membawa dampak yang menggembirakan. Hari itu aku memulai pembelajaran dengan melakukan perkenalan dalam bahasa Inggris sebagai langkah awal untuk membuat mereka bisa mengenal gurunya dan bisa menyenangi bahasa Inggris karena berdasarkan survei mendadak (ehhehehe) yang telah aku lakukan bahwa hampir 99 % siswa SMA Negeri Oransbari tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris dengan alasan bahwa bahasa Inggris itu sangat sulit. Lalu aku mengatakan pada mereka bahwa tak kenal maka tak sayang begitupula dengan bahasa Inggris ini, karena kalian tidak mengenalinya maka kalian tak menyukainya sehingga mengatakan bahwa ini sulit. Aku tak berhenti memotivasi mereka bahwa bahasa Inggris bukanlah bahasa sehari-hari kita jadi wajar jika kalian tak langsung bisa memahaminya namun kalian harus sadari bahwa banyak hal yang kalian lakukan tanpa disadari sebenarnya melibatkan bahasa Inggris di dalamnya,contohnya belajar TIK, hape yang kalian miliki banyak yang menggunakan bahasa Inggris, SMS (Short Message Send) yang tanpa kalian sadari itu adalah bahasa Inggris yang berarti mengirim pesan singkat.

Hal pertama yang aku lakukan adalah membuat mereka cinta sekolah dengan melakukan pendekatan intern terhadap tiap siswa sehingga terjalin kedekatan dengan aku dan mereka. Dengan begitu mereka akan selalu merindukan untuk datang ke sekolah karena ingin selalu mengikuti pelajaran dari ibu guru barunya. Dan Alhamdulillah, rupanya strategi ini lumayan jitu. Lambat laun kelas sudah hampir terisi penuh, yang tidak hadir hanya tinggal satu dua orang saja. Itupun dengan alasan yang bisa diterima karena jarak rumahnya ke sekolah sangat jauh yaitu sekitar kurang lebih 25 km dan mereka tidak memiliki kendaraan pribadi. Yermias dan Fir’aun nama siswaku yang masih jarang hadir. Namun ketika hadir mereka sangat antusias untuk belajar. Dan menurut pengakuannya, Yermias harus turun gunung lagi untuk bisa ke sekolah.

Hari terus berlalu dan aku melaksanakan tugas dengan penuh suka cita. Di antara kami telah betul-betul terjalin keakraban dan rasa saling merindukan sehingga suasana sekolah terasa seperti dalam sebuah keluarga. Eko, siswaku yang paling sering tidak hadir dengan alasan membantu orang tua dengan bekerja sudah rajin ke sekolah dan bahkan minat belajarnya terlihat nyata (utamanya dalam pelajaran bahasa Inggris). Dalam setiap pertemuan dengan siswa-siswaku, aku selalu menyelipkan kata-kata motivasi untuk membangun semangat mereka untuk rajin belajar dan bercita-cita yang tinggi. Namun ada sebuah kalimat yang terlontar bukan Cuma dari seorang siswa saja namun dari beberapa siswa yang sering mengulang kalimat tersebut yaitu “torang tra mau rajin ke sekolah lagi kalau ibu guru dong su pulang ke Makassar”. Aku merayu mereka dengan mengatakan kalaupun ibu guru pulang nanti akan ada yang menggantikan kami lebih baik dan lebih cantik dari ibu guru..heheheh…

Pada bulan Mei 2012, kami pindah belajar ke gedung sekolah baru yang letaknya di atas gunung Wondif, agak terpencil namun kami patut bangga karena sekolah sudah tidak menumpang lagi di SMP Neg. 6 Oransbari sehingga jam belajar bukan lagi pada siang hari namun sudah mulai belajar di pagi hari seperti layaknya anak-anak sekolah yang lain. Tentu saja kepindahan ini tidak serta merta membuat siswa-siswaku merasa nyaman karena mereka masih harus membabat hutan yang akan mereka lewati untuk sampai di sekolah, begitu pula dengan halaman sekolah yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar. Kepala sekolah dan kami para guru-guru setiap sekali seminggu meluangkan waktu untuk melakukan kerja bakti dengan menghimbau siswa-siswi untuk ikut membantu. Dan senangnya karena mereka begitu antusias dan bersemangat membersihkan. Ketika aku tanyakan alasannya, Yermias mengatakan bahwa dengan pindah ke sekolah baru ini, torang tidak merasa meminjam sekolah lagi dan jaraknya sedikit berkurang dibandingkan ketika menumpang gedung sekolah.

Banyak hal yang harus dibenahi. Ruangan memang tersedia begitupula dengan bangku, namun tidak mencukupi dan yang aku takutkan adalah jangan sampai mereka akan mulai untuk tidak rajin lagi ke sekolah karena perpindahan ini. Sehingga lagi-lagi kami dituntut untuk bertindak lebih sigap dan kreatif. Misalnya siswa kelas XI IPS yang pada hari itu tidak memperoleh ruangan, aku arahkan untuk belajar di luar kelas. Dan ternyata mereka lebih menikmatinya bahkan materi yang diberikan lebih mudah diserap karena mereka belajar secara kontekstual dan mereka malah menginginkan untuk selalu belajar di luar ruangan saja..heheheeh…begitupula ketika giliran mereka tak menggunakan papan tulis, aku anggap itu bukanlah penghalang untuk belajar. Aku mempersiapkan kartu yang telah ditulisi materi yang sehubungan dengan kompetensi yang akan dicapai dan lagi-lagi mereka sangat senang belajar. Dan untuk pembelajaran dengan skill listening (mendengarkan), karena tak ada listrik dan sound sistem yang memadai aku memanfaatkan hape yang dimiliki oleh beberapa siswa dengan memindahkan hasil rekaman suara tentang materi yang akan diajarkan kepada siswa melalui bluetooth. Alhamdulillah…pembelajaran berlangsung dengan efektif dan menyenangkan pula. Dan ketika aku melakukan penilaian hasil belajar, hampir seluruhnya mencapai kompetensi yang diharapkan. Tentu saja aku tak mau tinggal diam dengan mereka yang belum mencapai ketuntasan belajar. Aku menanyakan kendala yang mereka alami ketika dalam pembelajaran, lalu aku meluangkan waktu buat mereka untuk memberikan pengayaan bahkan aku meminta kesediaan mereka untuk belajar bersama dan mengulang kembali materi yang belum tuntas. Yang pastinya aku pantang menyerah..

Ketika aku menanyakan kepada mereka tentang cita-citanya,yang laki-laki kebanyakan ingin menjadi tentara ataupun polisi dan yang perempuan ingin menjadi polwan dan diantara 38 orang siswaku, hanya 3 orang yang bercita-cita jadi guru. Tak apa-apa, yang pastinya mereka punya cita-cita dan keinginan untuk maju dan melanjutkan pendidikan agar bisa menjadi penerus di tanah Papua tercinta ini. Dan akhirnya, pada bulan Juni 2012,seluruh siswa kelas XII IPA dan IPS (38 orang )dinyatakan lulus Ujian Nasional.

Alhamdulillah, rupanya apa yang mereka impikan dan cita-citakan betul-betul ingin mereka raih. Aku mendengar kabar bahwa salah seorang siswaku yaitu Yohanis Don Bosco Hordembun telah menjadi polisi dan kini bertugas di Jayapura. Eka Parwi Dayat kini telah menjadi pegawai di salah satu bank ternama di Jayapura. Yunita Corina Wosiri melanjutkan kuliah di salah satu kampus negeri di Manokwari untuk menjadi perawat. Yunias dan Yan Markus Rumadas pun melanjutkan pendidikannya di UNIPA (Universitas Negeri Papua). Begitupula dengan Nehemia Semerbou yang melanjutkan pendidikannya di salah satu kampus taruna pelayaran di Jayapura. Sima Aulia yang bercita-cita menjadi guru pun kini juga sedang menjalani studinya dengan menjadi mahasiswa STKIP. Aku betul-betul sangat bersyukur karena mereka yang dulunya tak ingin melanjutkan pendidikan kini betul-betul serius dalam kuliah.

Juli 2012,
Tahun Ajaran baru kini dimulai, dengan siswa baru yang lucu-lucu dan menyenangkan membuat aku semakin betah mengajar di SMA Negeri Oransbari. Tak terasa kebersamaan kami dengan mereka hanya tersisa 4 bulan lagi. Ketakutan mereka akan ditinggalkan mulai terlihat. Mereka khawatir ketika masa kontrak kami di Oransbari selesai dan pulang ke Makassar takkan ada yang mengajar mereka lagi. Terutama siswa kelas XI IPS yang sangat terasa dekat dengan kami, begitu takut akan ditinggalkan. Apelek yang memberikan seekor bayi tupai kepadaku mengatakan bahwa aku harus memberinya nama seperti namanya agar aku tidak lupa kepadanya. Yohana Indowek, siswaku yang paling pemalu dan tidak pernah mau menunjukkan wajahnya jika berbicara dengan temannya dan juga kepada kami gurunya sudah mulai terlihat berubah. Dia sudah bergaul dengan teman kelasnya dan juga bercanda dengan mereka. Ya Allah…semoga kami betul-betul membawa perubahan bagi mereka ke arah yang lebih baik.amiin…

Dan ada seorang siswa yang kini telah membawaku kembali ke SMA Negeri Oransbari adalah Ninang. Jeritan dan tangisannya membuat hatiku merasa teriris ketika pamitan dengan mereka. Dia menangis begitu keras dan mengatakan “Ibu guru..torang trada yang ngajar lagi seperti ibu…ibu tega sampe meninggalkan kami..ibu jangan pulang.” Begitupula dengan Regina yang menghadang aku di depan kelasnya dan mengatakan kalau aku pulang mereka akan palang sekolah..ya ampun…aku harus membujuk mereka lagi agar aku bisa pulang dengan hati yang tenang. Lalu, siswa kelas X memintaku untuk berjanji pada mereka bahwa aku akan datang lagi begitu kuliah selesai. Dan tanpa pikir panjang, aku mengiyakan.

Selama di asrama, tak henti-hentinya mereka menghubungi aku dan meminta kesediaanku untuk datang lagi. Aku mengatakan pada mereka agar mendoakan aku supaya bisa lulus kuliah profesi dan bisa segera ke Oransbari untuk bisa mengajar dengan lebih baik lagi.

Alhamdulillah, pada bulan Januari 2014 aku telah memperoleh hasil dan bisa lulus PPG (Pendidikan Profesi Guru) Prajabatan dengan memperoleh gelar Gr. Yang berarti aku sudah dapat dikatakan sebagai guru profesional. Semoga aku betul-betul bisa mengaplikasikan ilmuku dan menjadi guru profesional.
Akhirnya, pada bulan Maret 2014 aku kembali memenuhi janjiku karena jeritan mereka dan memenuhi panggilan hatiku untuk mengabdikan diri di tanah hitam Papua Barat kabupaten Manokwari Selatan walaupun hanya sebagai guru sukarela namun aku betul-betul menikmati menjadi guru dengan niat mencerdaskan anak bangsa. Amiin… (baca kisah selanjutnya ‘Aku Kembali’)
pelita di malam hari

IMG00614-20140605-1103John

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s