Aku Kembali…(Sumber Air Su Tidak Dekat Lagi…)


Oransbari di malam hari…

Malam ini adalah malam pertama kami melelapkan mata di Oransbari dan berada di atas gunung Wondif dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang lumayan lebat namun di sekitar sekolah sudah ditebangi. Kami tinggal bertiga di dalam sebuah rumah yang dilengkapi dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Aku merasa sangat puas dengan kondisi rumah kami yang sederhana namun masih baru. Kepala sekolah kami, Pak Subari mengatakan bahwa rumah tersebut baru selesai dikerjakan sebulan sebelum kedatangan kami.

Suara binatang-binatang malam terdengar bersahut-sahutan. Ada suara burung, lolongan anjing malam, dan entah suara apalagi yang terdengar (karena aku juga kurang mengenal habitat alam sekitar…hehehehe). Namun ada sebuah suara yang sangat aku rindukan ketika malam hari dan hendak tidur dengan cepat yaitu suara kodok…hmmm..tak kutemukan suara itu..namun karena kelelahan setelah menempuh perjalanan melalui laut selama 4 hari, aku berharap bisa segera tertidur lelap. Aku melirik ke arah Theo yang sudah terlelap sejak tadi, lantas aku pun tak ingin ketinggalan kesempatan untuk mengistirahatkan mata dan badan yang kelelahan ini. Aku segera membaca do’a tidur dan kemudian menutup mata sambil membayangkan wajah orang-orang yang selalu kusayang dan kurindukan. Tuhan…lindungi aku dalam tidurku hingga bisa bangun esok hari dalam suasana yang ceria. Amiin….

Pagi, 11 Maret 2014

Pagi ini terasa lain, aku merasakan dingin menusuk dan punggung terasa sedikit sakit. Huffth…rupanya aku tidur hanya beralaskan selimut yang diberikan oleh kakakku tersayang. Yaahh..ini adalah rumah baru yang tentu saja belum memiliki tempat tidur dan juga kasur. Untung saja kakak dan mama membekali aku dengan sebuah bantal guling dan juga bantal kepala. Aku rela berbagi bantal tersebut kepada Idhan di kamar sebelah dan lebih memilih bantal guling karena aku berdua dengan Theo. Aku melirik ke samping dan mencari-cari Theo namun tak ada..yang terdengar hanyalah suara air yang sedang dibuang dari kamar mandi.

Aku bergegas bangun dan berjalan ke belakang, rupanya Theo sedang mencuci beras dan hendak memasak. Aku menanyai Theo darimana dia mengambil air tersebut mengingat di tempat kami ini belum ada sumber air. Lalu Theo menjawab bahwa airnya diambil dari ‘profil tank’ yang ada di depan rumah adik-adik SM-3T Jilid 3.

Oh iya, aku lupa bilang kalau perumahan kami ini terdiri dari dua kapel, satu kapel memiliki dua rumah yang bersebelahan dan dihuni oleh adik-adik SM-3T Jilid 3 dan yang disampingnya adalah rumah kepala sekolah namun beliau belum menempatinya dengan alasan belum ada sumber air. Sementara rumah kami berdampingan dengan rumah ibu Stince (guru agama Kristen) namun beliau juga belum menghuninya dengan alasan yang sama dengan kepala sekolah. Berarti, kami ini harus menuruni gunung Wondif guna mencari sumber air untuk mencuci dan juga mandi serta air untuk diminum..hmmm…sumber air su tidak dekat lagi…yeahhh…yang sabar dan semangat yaaahhh!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s