Harga PNS di Mata Cinta


Selama ini kita sering mendengar banyaknya orang-orang menyebutkan tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mungkin ada baiknya jika saya menuliskan pengertian PNS (Pegawai Negeri Sipil) yaitu pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Jika ada yang menyatakan bahwa PNS menjadi sebuah pilihan hidup, itu benar adanya. Dan jika ada pula yang mengatakan bahwa PNS bukanlah pilihan hidup, itupun benar adanya…aneh ya??yaaaa…karena saya tidak akan mengangkat tentang citra buruk para pegawai negeri sipil (PNS) kini menjadi sorotan tajam masyarakat, mulai dari kinerja yang tidak terukur, disiplin yang rendah, dan berbagai perbuatan tercela hingga perilaku korup yang menyeret PNS dari berbagai tingkatan semakin menjadi jadi. Yang akan saya angkat dalam catatan kali ini pun  bukanlah tentang banyaknya warga Indonesia yang berminat untuk menjadi PNS, bukan pula tentang kompetensi yang kurang dihargai oleh para PNS, korupsi yang begitu parah yang dilakukan oleh PNS, nepotisme yang sudah menjadi budaya  yang dilakukan oleh PNS (maaf…PNS yang ditulismiring itu adalah PNS yang melakukan hal tersebut bukan oleh PNS bersih seperti Bapak/Ibu,Saudara(i) yang membaca catatan saya ini)
Lantas…apa dong??yaahh…kali ini saya hanya akan menulis sebuah catatan yang judulnya seperti ini “Harga PNS di Mata Cinta”…

Mungkin sebelum membaca catatan ini, Anda akan bertanya-tanya seberapa besar ya? Saya menuliskan catatan ini terinspirasi dari obrolan dengan sahabatku kemarin..Baiklah …saya akan mengajak Anda menghitung seberapa besar harga PNS di mata cinta…walalupun ada yang beranggapan bahwa PNS bukanlah pilihan hidup, namun ternyata PNS mampu merampas sebuah ketulusan cinta dari seseorang menjadi tak bernilai dan tak dianggap. Ironis? Ah nggak juga…mengapa? Karena ada beberapa kasus yang bisa kita jadikan pertimbangan akan pernyataan ini..
Seorang wanita, memutuskan kekasihnya karena ternyata ada seorang PNS yang mengadakan pendekatan. Walaupun si wanita tahu jika kekasihnya ini sangat menyayanginya, namun karena kekasihnya ini hanyalah seorang karyawan swasta maka dia rela meninggalkannya hanya karena predikat PNS yang dimiliki oleh si lelaki yang menaksirnya ini (kasian banget nih cowok…diterima sama si cewe’ karena predikat yang disandangnya…bukan karena cinta)

Seorang pria, meninggalkan kekasih yang sangat mencintai dan menyayanginya karena ada seorang wanita berpredikat PNS mengubernya…(si cewe’nya yang ditinggalin gak usah dikasihani..karena untung aja dia bisa terbebas dari cowok macam ini..yang mendekati seorang wanita hanya dari sisi luarnya saja..)

Orangtua, rela kehilangan hartanya demi membayar mahal (uang suap) agar anaknya bisa menjadi PNS walaupun mereka belum bisa memastikan apakah anaknya akan menjadi anak yang berbakti jika sudah berhasil menjadi PNS.

Cinta sepasang kekasih harus terpisah karena anaknya berpacaran bukan dengan PNS…hmmm…

Nah sekarang…sebelum saya menutup catatan ini saya hanya ingin Anda sendiri yang menyimpulkan seberapa besar harga PNS di mata cinta…peace!

PPG adalah Proses Menuju Profesionalisme Guru yang Sesungguhnya!


Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan kesejahteraan guru, meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sertifikasi guru pun diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik.

Seperti kita ketahui sertifikasi guru sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio. Dalam pelaksanaan sertifikasi jalur portofolio ini tidak luput dari kecurangan –kecurangan guru dan oknum penyelenggara. Tidak sedikit guru rela memalsukan dokumen-dokumen yang dikirimkan tersebut misalnya sertifikat seminar, dokumen Silabus dan RPP, juga guru tidak tanggung-tanggung menempuh kuliah cepat untuk meninggkatkan pangkatnya sehingga semua itu dilakukan dengan alasan agar mendapatkan kenaikan gaji tetapi tidak meningkatkan profesinya dan mengembangkan ilmunya.

Ada beberapa hal yang juga patut dicermati dari program ini adalah, pertama secara psikologis seorang guru dihadapkan kepada berbagai persyaratan teknis, seperti mengumpulkan sertifikat yang dinilai dengan bobot tertentu bahkan banyak yang berusaha berlomba-lomba mencari sertifikat atau membuat sertifikat palsu.Memiliki sertifikat dimana waktunya bersamaan dengan jam mengajar yang dilaporkannya. Sebuah bentuk manipulasi yang katanya agar mereka dapat menjadi guru profesional namun justru hal ini merupakan kemerosotan mental seorang guru yang patut digugu dan ditiru. Kemudian, dari sisi LPTK bagi para asesor mereka seakan-akan mendapatkan proyek baru yaitu satu berkas portofolio yang dinilai sejumlah uang. Bahkan di antara asesor dan guru terjadi transaksi tersendiri agar mereka diluluskan. Jika tidak lulus portofolio maka harus mengikuti Pelatihan dan Pendidikan selama 10 hari yang disebut dengan istilah PLPG. Dan dengan adanya peminimalisiran sertifikasi jalur Portofolio maka guru tidak perlu merasa bingung mempersiapkan portofolio dengan seperangkat dokumen kelengkapannya, menyita waktu siang dan malam bahkan tidak jarang meninggalkan tugas mengajar untuk Portofolio.

Pemerintah berharap agar tujuan utama dari sertifikasi ini adalah peningkatan mutu pendidik agar dapat melahirkan guru profesional yang bermartabat dan juga cerdas namun ternyata jalur PLPG masih juga belum bisa menghasilkan guru profesional seperti yang diimpikan oleh pemerintah. Proses yang dialami dalam PLPG belum sepenuhnya bisa dikatakan sebagai proses menuju profesionalisme. LPTK dengan beraninya menandatangani sertifikat yang menyatakan bahwa mereka profesional hanya dengan 10 hari pelatihan. Ketika para guru tersebut tidak lulus sertifikasi, mereka mesti mengikuti program pelatihan yang penyelenggaraannyapun terkesan formalitas belaka. Satu hal yang sangat pelik adalah orientasi para guru yang berpersepsi bahwa jika lulus sertifikasi maka akan mendapatkan tunjangan yang lebih. Iming-iming nominal inilah yang lagi-lagi membuat orientasi pendidikan kita menjadi lebih materialis.

Lantas pemerintah kemudian berusaha untuk meningkatkan keprofesionalitasan tenaga pendidik dimana seorang guru atau lulusan keguruan kalau ingin di akui sebagai tenaga professional maka harus menempuh pendidikan profesi atau lebih dikenal dengan PPG. Memanglah pro dan kontra selalu menghiasi setiap kebijakan pemerintah yang dilontarkan. Kemendikbud kemudian meluncurkan sebuah program yang dikenal dengan nama “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI)” yang telah melahirkan sosok-sosok guru masa depan yang selama ini mereka impikan melalui salah satu program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan,Terluar dan Tertinggal) yang melakukan pengabdian mereka di daerah 3T selama setahun.
DIKTI lantas menorehkan harapan besar kepada para alumni SM-3T dengan memberikan PPG (Pendidikan Profesi Guru) Prajabatan dengan melihat pada ketidakmampuan sertifikasi dengan jalur portofolio dalam memberikan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Begitupula dengan PLPG yang hingga saat ini masih dibayangi pertanyaan dan rasa tidak percaya bahwa PLPG adalah proses menuju profesonalisme. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan profesional hanya dengan 10 hari pelatihan?Siapa yang dapat mempercayai hal ini?membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam kurun waktu seminggu.Oleh karenanya PPG Prajabatan SM-3T diharapkan menjadi sebuah benteng pertahanan untuk menghasilkan guru profesional yang harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi kepribadian,kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

PPG Prajabatan SM3T dilaksanakan oleh 12 LPTK penyelenggara yaitu UNM,UNJ,UNY,UNNES,UNESA,UPI,UM,UNIMED,UNP,UNG,UNDIKSHA, dan UNIMA. PPG Prajabatan SM3T 2013 angkatan I telah usai dengan menghadirkan berbagai polemik di dalamnya. Di antaranya banyaknya angka ketidak lulusan dari jurusan PGSD, Fisika dan Bahasa Inggris terutama pada salah satu LPTK penyelenggara. Banyak yang kecewa dengan keadaan ini karena sudah tak ada lagi kesempatan bagi jurusan PGSD untuk mengikuti UTN atau pengulangan agar mereka dapat memperoleh gelar “Gr” atau guru profesional. Begitu banyak tawar menawar dalam proses keputusan untuk menentukan tentang ketidaklulusan dan tidak adanya kesempatan bagi mereka,namun hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi walaupun dengan berbagai dalih karena jika tetap dilakukan, maka apalagi yang akan tersisa?lalu apa bedanya dengan PLPG dan Portofolio? PPG angkatan berikutnya akan menjadi taruhan, dan akan terdengar kalimat “ah, tidak usah terlalu serius kawan! Dijamin semua peserta PPG pasti akan lulus” Bukankah ini sebuah malapetaka besar untuk masa depan bangsa. Jika dianggap sepele maka akibatnya visi besar PPG ini akan gagal, nasibnya akan sama dg portofolio dan PLPG, tdk akan mengubah apapun kecuali. Lalu apa gunanya bersusah2 di 3T? Berasrama? Bubarkan saja, itu pakai uang rakyat, kita punya tanggungjawab moral.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan PPG sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan keprofesionalan kita menjadi seorang guru yang profesional pada empat kompetensi sehingga apa yang menjadi harapan pemerintah untuk melahirkan sosok guru masa depan yang dapat maju bersama mengantarkan Indonesia menjadi lebih cerdas dapat terwujud..yakin pasti bisa!*)sebagian teks adalah hasil percakapan dengan salah seorang petinggi DIKTI