PPG adalah Proses Menuju Profesionalisme Guru yang Sesungguhnya!


Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan kesejahteraan guru, meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sertifikasi guru pun diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik.

Seperti kita ketahui sertifikasi guru sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio. Dalam pelaksanaan sertifikasi jalur portofolio ini tidak luput dari kecurangan –kecurangan guru dan oknum penyelenggara. Tidak sedikit guru rela memalsukan dokumen-dokumen yang dikirimkan tersebut misalnya sertifikat seminar, dokumen Silabus dan RPP, juga guru tidak tanggung-tanggung menempuh kuliah cepat untuk meninggkatkan pangkatnya sehingga semua itu dilakukan dengan alasan agar mendapatkan kenaikan gaji tetapi tidak meningkatkan profesinya dan mengembangkan ilmunya.

Ada beberapa hal yang juga patut dicermati dari program ini adalah, pertama secara psikologis seorang guru dihadapkan kepada berbagai persyaratan teknis, seperti mengumpulkan sertifikat yang dinilai dengan bobot tertentu bahkan banyak yang berusaha berlomba-lomba mencari sertifikat atau membuat sertifikat palsu.Memiliki sertifikat dimana waktunya bersamaan dengan jam mengajar yang dilaporkannya. Sebuah bentuk manipulasi yang katanya agar mereka dapat menjadi guru profesional namun justru hal ini merupakan kemerosotan mental seorang guru yang patut digugu dan ditiru. Kemudian, dari sisi LPTK bagi para asesor mereka seakan-akan mendapatkan proyek baru yaitu satu berkas portofolio yang dinilai sejumlah uang. Bahkan di antara asesor dan guru terjadi transaksi tersendiri agar mereka diluluskan. Jika tidak lulus portofolio maka harus mengikuti Pelatihan dan Pendidikan selama 10 hari yang disebut dengan istilah PLPG. Dan dengan adanya peminimalisiran sertifikasi jalur Portofolio maka guru tidak perlu merasa bingung mempersiapkan portofolio dengan seperangkat dokumen kelengkapannya, menyita waktu siang dan malam bahkan tidak jarang meninggalkan tugas mengajar untuk Portofolio.

Pemerintah berharap agar tujuan utama dari sertifikasi ini adalah peningkatan mutu pendidik agar dapat melahirkan guru profesional yang bermartabat dan juga cerdas namun ternyata jalur PLPG masih juga belum bisa menghasilkan guru profesional seperti yang diimpikan oleh pemerintah. Proses yang dialami dalam PLPG belum sepenuhnya bisa dikatakan sebagai proses menuju profesionalisme. LPTK dengan beraninya menandatangani sertifikat yang menyatakan bahwa mereka profesional hanya dengan 10 hari pelatihan. Ketika para guru tersebut tidak lulus sertifikasi, mereka mesti mengikuti program pelatihan yang penyelenggaraannyapun terkesan formalitas belaka. Satu hal yang sangat pelik adalah orientasi para guru yang berpersepsi bahwa jika lulus sertifikasi maka akan mendapatkan tunjangan yang lebih. Iming-iming nominal inilah yang lagi-lagi membuat orientasi pendidikan kita menjadi lebih materialis.

Lantas pemerintah kemudian berusaha untuk meningkatkan keprofesionalitasan tenaga pendidik dimana seorang guru atau lulusan keguruan kalau ingin di akui sebagai tenaga professional maka harus menempuh pendidikan profesi atau lebih dikenal dengan PPG. Memanglah pro dan kontra selalu menghiasi setiap kebijakan pemerintah yang dilontarkan. Kemendikbud kemudian meluncurkan sebuah program yang dikenal dengan nama “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI)” yang telah melahirkan sosok-sosok guru masa depan yang selama ini mereka impikan melalui salah satu program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan,Terluar dan Tertinggal) yang melakukan pengabdian mereka di daerah 3T selama setahun.
DIKTI lantas menorehkan harapan besar kepada para alumni SM-3T dengan memberikan PPG (Pendidikan Profesi Guru) Prajabatan dengan melihat pada ketidakmampuan sertifikasi dengan jalur portofolio dalam memberikan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Begitupula dengan PLPG yang hingga saat ini masih dibayangi pertanyaan dan rasa tidak percaya bahwa PLPG adalah proses menuju profesonalisme. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan profesional hanya dengan 10 hari pelatihan?Siapa yang dapat mempercayai hal ini?membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam kurun waktu seminggu.Oleh karenanya PPG Prajabatan SM-3T diharapkan menjadi sebuah benteng pertahanan untuk menghasilkan guru profesional yang harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi kepribadian,kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

PPG Prajabatan SM3T dilaksanakan oleh 12 LPTK penyelenggara yaitu UNM,UNJ,UNY,UNNES,UNESA,UPI,UM,UNIMED,UNP,UNG,UNDIKSHA, dan UNIMA. PPG Prajabatan SM3T 2013 angkatan I telah usai dengan menghadirkan berbagai polemik di dalamnya. Di antaranya banyaknya angka ketidak lulusan dari jurusan PGSD, Fisika dan Bahasa Inggris terutama pada salah satu LPTK penyelenggara. Banyak yang kecewa dengan keadaan ini karena sudah tak ada lagi kesempatan bagi jurusan PGSD untuk mengikuti UTN atau pengulangan agar mereka dapat memperoleh gelar “Gr” atau guru profesional. Begitu banyak tawar menawar dalam proses keputusan untuk menentukan tentang ketidaklulusan dan tidak adanya kesempatan bagi mereka,namun hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi walaupun dengan berbagai dalih karena jika tetap dilakukan, maka apalagi yang akan tersisa?lalu apa bedanya dengan PLPG dan Portofolio? PPG angkatan berikutnya akan menjadi taruhan, dan akan terdengar kalimat “ah, tidak usah terlalu serius kawan! Dijamin semua peserta PPG pasti akan lulus” Bukankah ini sebuah malapetaka besar untuk masa depan bangsa. Jika dianggap sepele maka akibatnya visi besar PPG ini akan gagal, nasibnya akan sama dg portofolio dan PLPG, tdk akan mengubah apapun kecuali. Lalu apa gunanya bersusah2 di 3T? Berasrama? Bubarkan saja, itu pakai uang rakyat, kita punya tanggungjawab moral.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan PPG sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan keprofesionalan kita menjadi seorang guru yang profesional pada empat kompetensi sehingga apa yang menjadi harapan pemerintah untuk melahirkan sosok guru masa depan yang dapat maju bersama mengantarkan Indonesia menjadi lebih cerdas dapat terwujud..yakin pasti bisa!*)sebagian teks adalah hasil percakapan dengan salah seorang petinggi DIKTI

One thought on “PPG adalah Proses Menuju Profesionalisme Guru yang Sesungguhnya!

  1. Pingback: Kurikulum 2013 & Sertifikasi Guru Akan Dievaluasi - Website Sekolah Dasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s