Jangan Paksa Aku Belajar, Mama!


Pagi itu di bawah pohon Trembesi terlihat sekelompok siswa kelas 5 sedang bersantai. Ada yang bermain kejar-kejaran dengan temannya, ada yang duduk di bawah pohon menikmati jajanannya.

Sementara tidak jauh dari mereka terlihat seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir sedang membuka-buka bukunya. Dia duduk di sebuah bangku taman yang sepertinya merupakan tempat favoritnya dikala beristirahat. Rupanya dia sedang belajar. Terlihat dari tingkahnya yang sesekali menunduk ke buku tulisnya kemudian bicara sendiri lalu menunduk lagi. Anak itu memang jarang bermain dan bersantai dengan teman-teman sebayanya.

Dia bernama Eva.

Eva, gadis kecil yang berpostur bagus. Badannya lebih bongsor dibanding anak seusianya dengan tinggi kurang lebih 158 cm dan berat 45 kg membuat semua orang yang melihatnya akan terkesan bahwa anak itu ciri seorang anak sehat. Ya, memanglah Eva seorang anak yang sangat sehat, pintar dan rajin.

Tak ada mata pelajaran yang ingin dilewatkan oleh Eva. Semua bidang ilmu yang diajarkan di kelasnya akan dilahapnya dengan cepat. Sungguh Eva adalah potret seorang peserta didik yang sangat ideal.

Selain pintar, baik, dan rajin, dia pun cantik. Eva terlahir dari perpaduan Jawa-Padang dan lahir serta besar di Papua Barat.

Eva, terlihat amat penasaran dengan tingkah kawan-kawannya yang sangat asyik bermain sambil tertawa-tawa. Dia pun menggumam, “Ah, seandainya saja aku bisa sebebas mereka bermain, tentu aku sudah ikut bergabung dengan mereka!” “Ingin sekali rasanya!”

Ibu Ira, guru mapel Bahasa Inggris yang saat itu tiba-tiba melintas di belakangnya mendengarkan gumamannya yang lebih terkesan sebagai sebuah keluhan. Lalu tanpa disadari oleh Eva, ibu gurunya itu sudah duduk di sampingnya dan menanyainya, “Mengapa kak Eva merasa tidak bisa seperti teman-temannya,Nak?” “Apakah ada yang melarang kak Eva untuk bermain dan bergabung dengan mereka?”

“Ayo Nak, Kak Eva ceritakan saja pada Ibu kalau ada yang mengganjal!” Eva menjawab, “Ah, tidak Bu! Tidak ada apa-apa!” sambil tersenyum seakan-akan mengisyaratkan bahwa dia kuat dan sedang baik-baik saja. Namun di balik senyumnya yang indah itu, terlihat ada sebuah genangan air yang siap mengalir dari kedua kelopak matanya.

Perlahan, ibu guru yang selalu memanggil siswanya dengan sebutan “Kak” lalu mendekatinya dan menepuk bahunya dengan lembut sambil berkata, “Kak Eva gak usah takut! Ibu akan menjaga kerahasiaannya jika kak Eva tidak mau orang lain tahu!”

Lalu, tanpa diduga oleh ibu gurunya, Eva berbicara sesenggukan. Sambil berusaha membendung genangan air matanya..”Bu, aku ingin seperti teman-temanku yang lain, bebas bermain di saat beristirahat, bisa dapat nilai merah jika memang hanya angka itu yang aku peroleh! Apakah aku harus menjadi seorang anak dengan nilai yang sempurna? Jika aku pulang sekolah dan tak memperoleh nilai 100, maka mama tidak akan menganggap itu sebagai sebuah pencapaian..Apakah mama hendak menyiksaku?

Bu…aku ingin bebas berkata pada mama untuk tidak memaksa aku belajar!” Aku lelah,Bu!

Dan akhirnya, buliran bening hangat itupun telah menitik dari bulu mata Eva yang lentik. Gunung es yang telah menjulang di dalam hatinya seketika pecah seiring dengan isakannya.

Ibu Ira sesaat terpaku. Refleks tak bisa berkata-kata. Rupanya Eva telah lama memendam perasaannya sendirian. Dia telah tak berani mengungkapkan keinginannya untuk bisa menikmati kebahagiaan masa kanak-kanaknya. Dia harus terus berjuang dalam kerangkeng “nilai sempurna” demi memenuhi permintaan mamanya. Sungguh kasihan, hal ini tak bisa dibiarkan terjadi terus menerus. Bisik bu Ira dalam hatinya seakan telah berupaya menenangkan hati Eva. Kemudian dia pun berusaha menenangkan murid terpandai dalam mata pelajarannya itu. “Tenanglah, Kak Eva! Yakinlah apa yang dilakukan dan diinginkan oleh mamanya kak Eva bukan berarti tak menyayangimu, sayang! Namun ini adalah salah satu wujud dari kepedulian mamanya untuk bisa lebih unggul dibandingkan dengan teman-teman lain di kelasnya.”

“Tapi Bu, aku merasa seperti hidup dalam penjara. Tak bebas bermain, harus selalu membaca buku dan belajar!” Tidak Bu! Mama terlalu memaksaku untuk belajar! Aku ingin bebas,Bu! Tolong aku!”

“Baik, Nak! Ibu akan menemui mama kak Eva dan membicarakan mengenai kesedihan kak Eva!”

“Jangan,Bu! kumohon jangan! aku takut nanti mama marah!” Seru Eva sambil duduk merunduk dan menarik kedua pergelangan tangan ibu gurunya.

Lalu bu Ira berusaha kembali membujuknya sambil mengatakan, “Tenang kak Eva sayang! Ibu janji tak akan membuat kak Eva dimarahi kembali!

Keesokan harinya, bu Ira melakukan misinya sesuai janjinya pada Eva.

Nah…kira-kira ada yang tahu, apa dan bagaimana kisah selanjutnya?nahh…silakan tunggu di episode selanjutnya..

Advertisements