PENTINGNYA KECAKAPAN LITERASI BACA-TULIS ABAD KE-21


 

Literasi berasal dari bahasa Latin yaitu “litteratus (littera)”, dalam bahasa Inggris kata ini sebanding dengan kata “letter” yang bermakna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Sedangkan dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Berbicara tentang kualitas hidup erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan teknologi. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah berada pada abad ke-21 dimana dalam meningkatkan kualitas hidup tersebut dibutuhkan berbagai kecakapan, diantaranya adalah kecakapan Literasi Baca-Tulis. Kecakapan Literasi Baca-Tulis ini merupakan fondasi literasi yang bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat untuk mampu memaknai informasi dalam membaca, memahami dan menggunakan bahasa tulisan. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Hal ini sejalan dengan deklarasi UNESCO yang menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia yang menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Abad ke-21 merupakan era teknologi informasi. Kita dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan.  Oleh karena itu, diperlukan kecapakan untuk memiliki kemampuan membaca dalam memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif. Dengan kemampuan yang baik dalam membaca dan memahami tulisan, maka tentu saja tidak akan menyesatkan kita dalam berperilaku dan bertindak. Mengapa? Karena dengan pemahaman yang baik tersebut akan membuat kita mudah melakukan sebuah tindakan yang sesuai dengan hasil analisis dan refleksi dari teks yang dibaca tersebut. Sebagai contoh, ketika di sebuah media sosial terdapat berita hoaks atau berita palsu yang dibuat seolah-olah benar adanya dengan judul bacaan yang ditulis secara menarik, nah bagi masyarakat awam yang kurang/tidak memiliki kecakapan baca-tulis maka serta merta berita hoaks tersebut langsung dibagikan ke khalayak ramai tanpa membaca keseluruhan isi berita dan juga tidak menganalisanya dengan cermat. Bukankah hal ini telah menjadikan kita sesat dalam bertindak? Tanpa berpikir panjang langsung bertindak dan tidak lagi memperhatikan unsur kebenaran berita yang dibagikan tersebut.

Kejadian tersebut di atas merupakan salah satu akibat dari kurangnya kecakapan literasi baca-tulis yang dimiliki oleh seseorang. Lalu, apakah ada dampak buruk dari tindakan yang telah dilakukan bagi seseorang yang kurang memiliki kecakapan dalam literasi baca-tulis? Tentu saja ada! Dengan tersebarnya berita hoaks alias palsu tersebut kepada orang lain yang juga kurang/tidak memikili kecakapan literasi akan mengakibatkan mereka meyakini bahwa berita yang dibacanya adalah betul-betul terjadi. Hal ini pun bisa jadi menyebabkan pertentangan, perselisihan pendapat karena kurangnya pemahaman akan informasi yang telah mereka peroleh tanpa dianalisa dan direfleksikan dengan baik.

Saat ini kita berada di dalam kehidupan yang serba canggih. Perkembangan teknologi yang pesat akan membuat kita ketinggalan dan menjadi ‘udikan’ ketika kita tidak membarenginya dengan kemampuan membaca dan menulis yang baik. Sesederhana dan semudah apapun alat komunikasi yang kita miliki akan menjadi tak berguna ketika kita tak bisa mengoperasikannya karena petunjuk penggunaannya tak bisa kita pahami apatah lagi jika alat komunikasi tersebut merupakan alat yang canggih yang memerlukan pemahaman akan beberapa petunjuk pemakaian alat/benda tersebut.

Literasi baca-tulis merupakan kunci untuk membuka pintu pengetahuan. Muara pendidikan sepanjang hayat terletak pada literasi baca-tulis. Hal ini erat kaitanya dengan peserta didik seperti yang tertuang dalam buku ‘Design Induk Gerakan Literasi Sekolah’,  menurut ‘Word Economic Forum (2016)’ dijelaskan bahwa peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad 21 di antaranya adalah literasi dasar yaitu baca-tulis. Kedua kemampuan ini memiliki hubungan yang erat dalam penguasaan kosa kata dan juga kemampuan berbahasa. Seorang peserta didik dapat memeroleh ide ataupun gagasan melalui membaca dan setelah itu ide tersebut dapat dikeluarkan melalui sebuah tulisan. Tulisan yang baik tentu didukung oleh sebuah gagasan yang menarik dan diperkaya dengan kosakata yang saling terkait dan mudah dipahami. Peserta didik yang terbiasa membaca dan menulis akan dengan mudahnya menemukan pilihan kata atau istilah yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal sehingga akan membuat komunikasi dapat berjalan dengan baik pula.

Jika peserta didik dapat memiliki kecakapan literasi baca-tulis ini maka mereka akan dapat menyerap informasi dari bacaan serta meningkatkan imajinasi dan kreativitas yang semakin luas karena terbentuknya pola pikir yang lebih tajam dan terstruktur sehingga mereka mampu memahami sumber bacaan dengan lebih simpel dan menarik. Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang mumpuni maka akan mampu membentuk karakter yang mulia sehingga tidak mudah terombang-ambing dalam gejolak beragam informasi yang muncul begitu saja di hadapan kita , baik melalui media cetak online dan offline ataaupun audio visual. Selain itu, dengan kecakapan literasi baca-tulis yang memadai maka mereka akan mudah meraih kemajuan dan kesuksesan serta keunggulan kualitas diri. Maka tidaklah mengherankan ketika UNESCO menyatakan bahwa kemampuan literasi baca-tulis merupakan titik pusat kemajuan. Seperti yang ditegaskan di dalam Vision Paper UNESCO (2004) bahwa kemampuan literasi baca-tulis menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis dan ekonomis pada zaman modern.

Setelah memahami pentingnya kecakapan literasi baca-tulis yang tersebut di atas, maka kita patut untuk memacu diri dan peserta didik untuk lebih meningkatkan kecakapan literasi baca-tulis tersebut agar dapat menjadi insan yang unggul, berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain.  Bukan sebagai insan yang hidup dalam keterbatasan dan bahkan menghadapi banyak persoalan yang tak mampu diselesaikan. Kualitas hidup yang baik dapat ditumbuhkan dengan adanya kemampuan baca-tulis. Oleh karena itu, mari kita memperkenalkan, menanamkan dan membiasakan kecakapan literasi baca-tulis dalam kehidupan sehari-hari. (2019)

 

Bimtek Pembatik Level 3 Prov. Papua Barat tahun 2018


Pelaksanaan Bimtek Pembatik (Pembelajaran Berbasis TIK) Level 3 Provinsi Papua Barat yang dilaksanakan oleh Pustekkom Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan tahapan yang harus dilewati dalam rangka pemilihan Duta Rumah Belajar tahun 2018.

Kegiatan Pembatik ini dihadiri oleh 30 orang peserta yang telah melewati level 2 dimana pada level tersebut calon Duta Rumah Belajar membuat video pembelajaran berbasis TIK dan dibagikan ke media sosial terutama di Youtube. Para peserta juga melewati tahap ujian online yang diselenggarakan selama 3 hari dan diakses melalui website : http://simpatika.belajar.kemdikbud.go.id/pembatik

Dengan adanya kegiatan Pembatik ini diharapkan dapat meningkatan kompetensi TIK guru dalam memanfaatkan e-Pembelajaran.

Penguatan Pendidikan Karakter


GSH, 11 Desember 2016
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh : Dr. Latipun

Konsep Dasar

  • Karakter
  • Sikap, perilaku, skill, motivasi sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi tantnanga. Karakter sebagai hasil dari olah piker, olah hati, olah raga dan rasa serta karsa.
  • Sebagai isi dari proses pendidikan dan menjadi ‘generator’ bagi individu dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan nyata.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Definisi:

“ Gerakan Pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa(estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan public dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

photogrid_14814637739641Urgensi :

  1. Kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti
  2. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa.
  3. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, dan Kompetensi 4c (creative, communication, critical thinking & cooperation).

Rasional ( Landasan Hukum):

  1. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangs, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Agenda Nawacita No.8 : Penguatan revolusi karakter bangsa melalui bdi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
  3. Trisakti : Mewujudkan generasi yang berkepribadian dalam Kebudayaan (Trisakti: berdulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara social budaya).
  4. RPJMN 2015 – 2019 : Penguatan Pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memprkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan dan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”
  5. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 : yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.
  6. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud : untuk memperkuat pendidikan karakter.

Mendikbud menyampaikan bahwa Penguatan Pendidikan karakter merupakan poros utama perbaikan pendidikan nasional yang berkaitan erat dengan program prioritas pemerintah.

Pengembangan Nilai-nilai Karakter:

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara :

  • Olah Hati (Etika)
  • Olah Raga (Kinestetika)
  • Olah Pikir (Literasi)
  • Olah Karsa (Estetika)

Nilai-nilai Karakter :

  • Religius
  • Jujur
  • Toleransi
  • Kerja keras
  • Kreatif
  • Mandiri
  • Demokratis
  • Rasa ingin tahu
  • Semangat kebangsaan
  • Cinta tanah air
  • Menghargai prestasi
  • Bersahabat/komunkatif
  • Cinta damai
  • Gemar membaca
  • Peduli lingkungan
  • Peduli social
  • Tanggung jawab
  • Dan lain-lain.

KRISTALISASI NILAI-NILAI

Dari nilai-nilai karakter tersebut di atas, maka terdapat 5 kristalisasi nilai yang disebut Nilai Utama yang terdiri dari:

  • Religius
  • nasionalis
  • integritas
  • mandiri
  • gotong royong

Fokus Penguatan Pendidikan Karakter

  1. Struktur Program
  • Jenjang dan Kelas
  • Ekosistem Sekolah
  • Penguatan kapasitas guru
  1. Struktur Kurikulum
  • PPK melalui kegiatan intra-kurikuler dank o-kurikuler
  • PPK melalui kegiatan Ekstra-kurikuler
  • PPK melalui kegaitan non-kurikuler

Pendidikan Karakter Berbasis Kelas:

  • Integrasi dalam mata pelajaran
  • Optimalisasi muatan local
  • Manajemen kelas

Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

  • Pembiasaan nilai-nilai dalam kesehrian sekolah
  • Keteladanan Pendidik
  • Ekosistem sekolah
  • Norma, peraturan dan tradisi sekolah

Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

  • Orang tua
  • Komite Sekolah
  • Dunia usah
  • Akademisi, penggiat pendidikan
  • Pelaku Seni & Budaya, Bahasa & Sastra
  • Pemerintah & Pemda

Keluaran

  • Pembentukan individu yang memiliki karakter dan kompetensi abad 21

Hasil :

  • Olah Pikir ; Individu yang memiliki keunggulan academia sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat.
  • Olah hati, Individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa
  • Olah rasa dan karsa: Individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan.
  • Olah raga, Individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga Negara.

Materi yang disampaikan oleh Bapak Dr. Latipun tersebut di atas merupakan salah satu materi Bimbingan Teknis Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang berlangsung sejak 11-12 Desember 2016 sebanyak 8 jam pelajaran (selama 2 hari).  Pada sesi pertama materi Penguatan Pendidikan Karakter ini menciptakan suasana diskusi yang hangat diantara peserta Bimtek.

Semoga dengan mengikuti Bimtek PKB yang diikuti oleh 546 Calon Guru Garis Depan (GGD) tahun 2016 ini adalah peserta gelombang ke-3 dari 6926 peserta yang ada. Peserta sejumlah 546 peserta Calon GGD ini termasuk pepada GGD merupakan alumni PPG Prajabatan Dikti yang terdiri dari PPG SM-3T, PPG PGSD Berasrama, PPGT, PPG SMK Kolaboratif, dan PPG Basic Science. Para Calon GGD ini telah memiliki sertifikat pendidik sebagai salah satu persyaratan khusus untuk mengikuti serangkaian SCASN (Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara) dimana sebelumnya mereka telah mengabdikan diri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di seluruh wilayah Indonesia. Guru Garis Depan Indonesia melahirkan Guru yang Penyayang, Inspiratif dan Mendidik dengan hati dan juga akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai utama yang telah dibahas di atas.

Bimtek Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Tahun 2016


Sesuai amanat Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa Profesi guru dan tenaga kependidikan harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Guru dan tenaga kependidikan merupakan tenaga professional yang mempunyai peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan 2025 yaitu ‘ Menciptakan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif’. Oleh karena itu, guru yang professional wajib terus belajar dan melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan sehingga sesuai dengan amanant Undang-undang ( Direktur Pembinaan Guru Dikdas,2016).
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah sebuah program yang mulai dilaksanakan oleh Kemendikbud dalam rangka meningkatkan kompetensi guru sesuai amanat undang-undang melalui pelatihan yang telah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengembangan dan peningkatan professional guru, dimana guru diharapkan dapat menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pembelajar yang aktif dan professional sesuai UU . PKB merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan secara sistematik untuk meningkatkan kompetensi calon guru secara professional sehingga dapat meningkatkan proses belajar dan mengajar di sekolah yang akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Adapun dasar hukum pelaksanaan PKB dikembangkan dengan memperhatikan beberapa peraturan sebagai berikut :
1.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SIstim Pendidikan Nasional.
2.Peraturan Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Guru dan Angka Kreditnya.
3.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
4.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Prubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
5.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
6.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2012 tentang Uji Kompetensi Guru.
Tujuan diadakannya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ini adalah untuk :
1.Memberikan penguatan pendidikan karakter
2.Memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan;
3.Memberikan pemahaman lintas Sosio-Budaya;
4.Membekali kompetensi dalam penulisan Best Practice dan penggunaan E-Monev (Evaluasi Diri);
5.Memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai Pengembangan Instrument Penilaian;
6.Memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai penskoran evaluasi hasil belajar;
7.Memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai review soal.
( Panduan Bimtek PKB, 2016)
Kegiatan PKB ini dilaksanakan secara bertahap sejak tanggal 30 November hingga 24 Desember bagi 6926 Calon Guru Garis Depan (GGD) di beberapa tempat di Jakrta dan Tangerang.

Presentasi GP Moda Daring

Presentasi GP Moda Daring

Kiprah MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia) dalam Dunia Pendidikan menuju Usia Satu Tahun


MSI atau Masyarakat SM-3T Indonesia adalah sebuah komunitas yang memiliki loyalitas terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia khususnya di wilayah 3T (Terdepan,Terluar dan Tertinggal). MSI merupakan wadah yang memfasilitasi para pengabdi pendidikan untuk menyalurkan hasrat nurani mereka di wilayah 3T yang mencakup Papua-Papua Barat, NTT dan Bali, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

Adapun wilayah 3T tersebut telah berada dalam sebuah ikatan yang dinamai “Simpul 9” dimana setiap pulau memiliki koordinator yang berasal dari alumni PPG SM-3T dan merupakan bagian dari Masyarakat SM-3T Institute (MSI).

Sebagai sebuah komunitas yang bergerak penuh semangat untuk maju bersama mencerdaskan bangsa, MSI telah berkiprah besar di usianya yang terbilang masih sangat muda. Diantaranya adalah terlaksananya berbagai Program Kemanusiaan di bidang Pendidikan yaitu SM-3T Peduli, Lubuk Hati, SM-3T Merchandise serta pendirian Base Care (Base Camp of Agus Susilohadi Education Care) pada setiap wilayah di Simpul 9 Kekuatan Base Care ditandai dengan adanya perangkat sekretariat bersama penggiat SM-3T yang di dalamnya memuat tanggung jawab keaktifan literasi (taman baca/perpustakaan), ruang diskusi, elaborasi dan pengembangan pembelajaran, serta sebagai wadah persambungan aktivitas SM-3T Peduli yang mendapat arahan dan bimbingan dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Melalui MSI pula, sebuah program rintisan perekrutan Guru Masa Depan telah sukses dilaksanakan dengan telah diselenggarakannya perekrutan Guru Garis Depan (GGD) pada tahun 2015 yang merupakan guru-guru profesional dan telah bersertifikat pendidik sesuai dengan amanah UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005. Dan Pola Perekrutan Guru melalui GGD ini pun akan berlangsung untuk tahapan kedua (GGD 2016), dimana tentu saja para potensi pendaftarnya adalah mereka para alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah memiliki sertifikat pendidik dan merupakan lulusan dari PPG SM-3T, PPG SMK KOLABORATIF, PPG PGSD BERASRAMA, PPG BASIC SCIENCE, dan PPGT.

Tak sedikit alumninya yang mengabdikan diri kembali di daerah 3T, baik itu sebagai Guru PNS , Kontrak ataupun Sukarela. Hal ini terlaksana karena keterpanggilan jiwa mereka yang telah diyakini sebagai sebuah jalan untuk entitas marwah SM-3T yang telah melekat dalam diri mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Irawati, salah satu alumni PPG SM-3T Angkatan 2014 dari LPTK UNM prodi Bahasa Inggris bahwa kedatangannya kembali ke kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat karena keterpanggilan hati ketika mendengarkan rengekan siswa-siswinya yang sangat membutuhkan guru Bahasa Inggris. Begitupula dengan saudara-saudaranya Irmawati dan Jusbiah yang saat ini mengabdi di negeri di atas awan tanpa signal dan listrik.
Begitupula halnya dengan Ritayati, yang memilih untuk mendaftar CPNS Guru di kabupaten Supiori Biak dan akhirnya betul-betul menjadi pengabdi sejati di sana. Ada Aprisal yang memilih kabupaten Sumba Timur sebagai tempat pengabdiannya dalam GGD 2015, dimana sebelumnya telah menjalankan marwah SM-3T di Biak, Papua namun karena rasa keIndonesiaannya bahwa Sumba pun Indonesia sehingga pilihannya sangatlah tepat.
Ada Alfred asal Luwuk yang juga ingin menuangkan segala ilmu yang telah diperolehnya selama PPG dan membagikannya kepada anak didiknya di Rote Ndao. Tentu saja, jika Penulis hendak menuliskan nama mereka satu persatu maka blog ini tentu akan penuh karena begitu banyaknya alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah kembali mengabdikan dirinya di daerah 3T.

Pada bulan ini, Juni yang merupakan Hari lahir MSI, telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk semakin meningkatkan minat belajar para peserta didik baik itu melalui SM-3T Peduli serta donasi pemberian buku melalui Program Lubuk Hati pada sekolah-sekolah yang membutuhkan dan juga bantuan lainnya berupa pemberian alat tulis dan peralatan sekolah yang dapat meningkatkan motivasi siswa ke sekolah. Begitupula pelaksanaan lomba-lomba di bidang pendidikan yang diadakan oleh MSI dan berlangsung mulai tanggal 23-26 Juni 2016.
Menurut Akhiruddin, Direktur MSI bahwa apa yang telah dilakukan saat ini tidak terlepas dari peranan alumni dan peserta PPG Prajabatan Dikti yang melaksanakannya dengan penuh sukacita dan keikhlasan.

Lalu, nantinya pada tanggal 26 Juni 2016, yang merupakan puncak pelaksanaan kegiatan MSI dan merupakan Hari Lahirnya Masyarakat SM-3T Indonesia akan diadakan sebuah TalkShow dimana akan melibatkan para pembicara di antaranya Pencetus SM-3T yaitu Bapak Agus Susilohadi, dan Ibu Prof. Luthfiyah Nurlaila sebagai Penggagas MBMI serta Bapak Abdullah Pandang, Direktur P3G LPTK UNM. Talk Show ini dilaksanakam demi menguatkan peran Masyarakat SM-3T Indonesia dan program SM-3T/PPG SM-3T dalam penanganan Pendidikan Daerah Tertinggal dan penyiapan Guru Masa Depan Indonesia.

Semoga dengan pelaksanaan Hari Lahir Masyarakat SM-3T Indonesia akan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk menghadirkan Guru Masa Depan Indonesia sesuai dengan yang dicita-citakan dan kelak melahirkan Generasi Emas Indonesia..Amiin Ya Rabbal Alamin.
Memanglah usia setahun bagaikan seorang balita yang masih belajar berjalan namun selalu ingin mencari tahu. Bagi kami, usia MSI boleh muda namun spirit para penggiatnya adalah spirit 45…
SALAM MBMI!

Saya, dari Simpul 9 wilayah Papua-Papua Barat mengucapkan Selamat Hari Lahir yang ke-1, semoga kami sebagai bagian dari MSI akan dapat selalu mengabdikan diri dan bukan hanya sebagai guru biasa di 3T namun menjadi Pendidik yang selalu dapat menginspirasi serta bermanfaat bagi semuanya.
Happy Birthday, MSI!
We Love You!

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android

Beasiswa S1 Teruna Papua


Tentang Beasiswa S1 Teruna Papua
Memahami pentingnya pengembangan sumberdaya manusia yang mumpuni dalam bidang kewirausahaan menjadi salah satu perhatian yang diberikan oleh Bank Papua. Untuk meningkatkan kemampuan dalam efektifitas program tersebut, Bank Papua bekerjasama dengan Prasetiya Mulya School of Business and Economics melalui kegiatan pelatihan kewirausahaan kepada pengajar (dosen/guru), pelatihan kewirausahaan terhadap pengusaha-pengusaha lokal dari wilayah Papua dan pemberian beasiswa pendidikan strata sarjana (S1) kepada siswa-siswi berprestasi asal Papua dan Papua Barat melalui program Beasiswa S1 Teruna Papua.

Program Beasiswa S1 Teruna Papua ini dikhususkan bagi siswa-siswi SMA sederajat yang merupakan putra/i asal Papua, yang terlahir dari ayah dan ibu berasal dari asli suku/kereth/ bermarga yang berada di Provinsi Papua dan Papua Barat. Penerima beasiswa ini diharapkan bisa membangun daerah tempat asalnya untuk lebih maju dan mampu bersaing di kancah nasional dan internasional saat lulus nanti melalui bidang kewirausahaan yang ditekuni.
Untuk penerimaan tahun 2015, tes seleksi yang akan diadakan di Jayapura dan Sorong bersamaan dengan tes seleksi Beasiswa Teruna Indonesia Timur.

Kegiatan Beasiswa S1 Teruna Papua
•Seleksi terdiri atas rangkaian seleksi administratif dan tes potensi akademik, psikotes, diskusi kelompok serta wawancara. Seluruh proses menggunakan sistem gugur.
•Pemenang akan mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di program S1 Business Prasetiya Mulya.
•Beasiswa yang diberikan oleh Bank Papua mencakup biaya pendidikan, tunjangan hidup dan buku. Beasiswa ini akan diberikan bagi 2 orang siswa/i terbaik.

Jadwal Seleksi Beasiswa S1 Teruna Papua
Pendaftaran akan dibuka pada 1 Februari 2015.
JADWAL
Penutupan Pendaftaran Online
Jayapura: Jumat, 6 Maret 2015
Sorong : Jumat, 6 Maret 2015

Batas Penyerahan Berkas *sistem gugur
Jayapura : Jumat, 6 Maret 2015
atau Selasa, 10 Maret 2015
(dengan perjanjian)
Sorong : Jumat, 6 Maret 2015
atau Kamis, 12 Maret 2015
(dengan perjanjian)

Tempat Seleksi Tes
1.Jayapura : SMAK Kalam Kudus SMA YPK St.Agustinus
Selasa, 10 Maret 2015
Tes Seleksi Tahap 1 :08.00 – 12.00 WIT
(Tes Tertulis)
Tes Seleksi Tahap 2 : 13.00 – 15.00 WIT
(Diskusi Kelompok, Presentasi, & Wawancara)

2. Sorong : Kamis, 12 Maret 2015
Tes Seleksi Tahap 1 Pukul 08.00 – 12.00 WIT
(Tes Tertulis)
Tes Seleksi Tahap 2 Pukul 13.00 – 15.00 WIT
(Diskusi Kelompok, Presentasi, & Wawancara)

Pengumuman Pemenang Beasiswa Senin, 30 Maret 2015 (tentatif)
* Berkas dapat diserahkan langsung ditempat tes dengan perjanjian sebelumnya dan sudah lengkap sesuai persyaratan.

Syarat Pendaftaran Beasiswa S1 Teruna Papua
1.Pendaftar adalah siswa/i yang di tahun 2015 duduk di kelas XI / XII SMA atau maksimum lulusan tahun 2013
2.Siswa/i adalah putra/i asal Papua, yang terlahir dari ayah dan ibu berasal dari asli suku/kereth/bermarga yang berada di Provinsi Papua dan Papua Barat.
3.Melakukan pendaftaran secara online di http://www.pmsbe.ac.id/youngscholar. Peserta seleksi beasiswa tidak adakan dikenakan biaya keikutsertaan tes dengan melampirkan surat rekomendasi dari sekolah.
4.Memberikan surat rekomendasi dari sekolah. File bisa diunduh disini.
5.Melengkapi berkas-berkas pendaftaran yaitu:
*1 lembar fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/Paspor/ Kartu Pelajar/NIS)
*1 set fotokopi rapor kelas X – XII (bagi yg duduk di kelas XII) / Fotokopi raport Kelas X – XI (bagi yang duduk di kelas XI). Raport dilegalisir oleh sekolah.
*Bukti Ijazah Kelulusan SMA bagi lulusan SMA/sederajat angkatan 2013/2014
*Pas photo berwarna terbaru ukuran 3×4 (3 lembar)
6.Membuat essay dalam bahasa Indonesia dengan tema : Aku dan Mimpiku. (Format: panjang essay 1 halaman A4, spasi 1.5, font Times New Roman 12pt)
7.Membuat karya tulis dengan pilihan tema: Peran serta aksi nyata dalam membangun negeriku ATAU Menjadi generasi muda, penerus cita-cita pembangunan daerah. (Format : minimal 4 halaman A4, spasi 1.5, font Times New Roman 12pt).
8.Menyerahkan / mengirimkan melalui kurir / pos tercatat berkas-berkas persyaratan diatas secara lengkap sebelum batas waktu yang ditentukan ke Bagian Admission Prasetiya Mulya Kampus BSD. Berkas persyaratan dapat juga diserahkan langsung saat penyelenggaraan tes, dengan perjanjian sebelumnya kepada bagian Admission.
9.Kartu tes seleksi dapat dicetak melalui http://www.pmsbe.ac.id/youngscholar/registration/cetak.php.

Sumber :www.pmsbe.ac.id/youngscholar/index.php?id=59

PPG adalah Proses Menuju Profesionalisme Guru yang Sesungguhnya!


Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan kesejahteraan guru, meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sertifikasi guru pun diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik.

Seperti kita ketahui sertifikasi guru sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk portofolio. Dalam pelaksanaan sertifikasi jalur portofolio ini tidak luput dari kecurangan –kecurangan guru dan oknum penyelenggara. Tidak sedikit guru rela memalsukan dokumen-dokumen yang dikirimkan tersebut misalnya sertifikat seminar, dokumen Silabus dan RPP, juga guru tidak tanggung-tanggung menempuh kuliah cepat untuk meninggkatkan pangkatnya sehingga semua itu dilakukan dengan alasan agar mendapatkan kenaikan gaji tetapi tidak meningkatkan profesinya dan mengembangkan ilmunya.

Ada beberapa hal yang juga patut dicermati dari program ini adalah, pertama secara psikologis seorang guru dihadapkan kepada berbagai persyaratan teknis, seperti mengumpulkan sertifikat yang dinilai dengan bobot tertentu bahkan banyak yang berusaha berlomba-lomba mencari sertifikat atau membuat sertifikat palsu.Memiliki sertifikat dimana waktunya bersamaan dengan jam mengajar yang dilaporkannya. Sebuah bentuk manipulasi yang katanya agar mereka dapat menjadi guru profesional namun justru hal ini merupakan kemerosotan mental seorang guru yang patut digugu dan ditiru. Kemudian, dari sisi LPTK bagi para asesor mereka seakan-akan mendapatkan proyek baru yaitu satu berkas portofolio yang dinilai sejumlah uang. Bahkan di antara asesor dan guru terjadi transaksi tersendiri agar mereka diluluskan. Jika tidak lulus portofolio maka harus mengikuti Pelatihan dan Pendidikan selama 10 hari yang disebut dengan istilah PLPG. Dan dengan adanya peminimalisiran sertifikasi jalur Portofolio maka guru tidak perlu merasa bingung mempersiapkan portofolio dengan seperangkat dokumen kelengkapannya, menyita waktu siang dan malam bahkan tidak jarang meninggalkan tugas mengajar untuk Portofolio.

Pemerintah berharap agar tujuan utama dari sertifikasi ini adalah peningkatan mutu pendidik agar dapat melahirkan guru profesional yang bermartabat dan juga cerdas namun ternyata jalur PLPG masih juga belum bisa menghasilkan guru profesional seperti yang diimpikan oleh pemerintah. Proses yang dialami dalam PLPG belum sepenuhnya bisa dikatakan sebagai proses menuju profesionalisme. LPTK dengan beraninya menandatangani sertifikat yang menyatakan bahwa mereka profesional hanya dengan 10 hari pelatihan. Ketika para guru tersebut tidak lulus sertifikasi, mereka mesti mengikuti program pelatihan yang penyelenggaraannyapun terkesan formalitas belaka. Satu hal yang sangat pelik adalah orientasi para guru yang berpersepsi bahwa jika lulus sertifikasi maka akan mendapatkan tunjangan yang lebih. Iming-iming nominal inilah yang lagi-lagi membuat orientasi pendidikan kita menjadi lebih materialis.

Lantas pemerintah kemudian berusaha untuk meningkatkan keprofesionalitasan tenaga pendidik dimana seorang guru atau lulusan keguruan kalau ingin di akui sebagai tenaga professional maka harus menempuh pendidikan profesi atau lebih dikenal dengan PPG. Memanglah pro dan kontra selalu menghiasi setiap kebijakan pemerintah yang dilontarkan. Kemendikbud kemudian meluncurkan sebuah program yang dikenal dengan nama “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI)” yang telah melahirkan sosok-sosok guru masa depan yang selama ini mereka impikan melalui salah satu program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan,Terluar dan Tertinggal) yang melakukan pengabdian mereka di daerah 3T selama setahun.
DIKTI lantas menorehkan harapan besar kepada para alumni SM-3T dengan memberikan PPG (Pendidikan Profesi Guru) Prajabatan dengan melihat pada ketidakmampuan sertifikasi dengan jalur portofolio dalam memberikan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Begitupula dengan PLPG yang hingga saat ini masih dibayangi pertanyaan dan rasa tidak percaya bahwa PLPG adalah proses menuju profesonalisme. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan profesional hanya dengan 10 hari pelatihan?Siapa yang dapat mempercayai hal ini?membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam kurun waktu seminggu.Oleh karenanya PPG Prajabatan SM-3T diharapkan menjadi sebuah benteng pertahanan untuk menghasilkan guru profesional yang harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi kepribadian,kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

PPG Prajabatan SM3T dilaksanakan oleh 12 LPTK penyelenggara yaitu UNM,UNJ,UNY,UNNES,UNESA,UPI,UM,UNIMED,UNP,UNG,UNDIKSHA, dan UNIMA. PPG Prajabatan SM3T 2013 angkatan I telah usai dengan menghadirkan berbagai polemik di dalamnya. Di antaranya banyaknya angka ketidak lulusan dari jurusan PGSD, Fisika dan Bahasa Inggris terutama pada salah satu LPTK penyelenggara. Banyak yang kecewa dengan keadaan ini karena sudah tak ada lagi kesempatan bagi jurusan PGSD untuk mengikuti UTN atau pengulangan agar mereka dapat memperoleh gelar “Gr” atau guru profesional. Begitu banyak tawar menawar dalam proses keputusan untuk menentukan tentang ketidaklulusan dan tidak adanya kesempatan bagi mereka,namun hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi walaupun dengan berbagai dalih karena jika tetap dilakukan, maka apalagi yang akan tersisa?lalu apa bedanya dengan PLPG dan Portofolio? PPG angkatan berikutnya akan menjadi taruhan, dan akan terdengar kalimat “ah, tidak usah terlalu serius kawan! Dijamin semua peserta PPG pasti akan lulus” Bukankah ini sebuah malapetaka besar untuk masa depan bangsa. Jika dianggap sepele maka akibatnya visi besar PPG ini akan gagal, nasibnya akan sama dg portofolio dan PLPG, tdk akan mengubah apapun kecuali. Lalu apa gunanya bersusah2 di 3T? Berasrama? Bubarkan saja, itu pakai uang rakyat, kita punya tanggungjawab moral.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan PPG sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan keprofesionalan kita menjadi seorang guru yang profesional pada empat kompetensi sehingga apa yang menjadi harapan pemerintah untuk melahirkan sosok guru masa depan yang dapat maju bersama mengantarkan Indonesia menjadi lebih cerdas dapat terwujud..yakin pasti bisa!*)sebagian teks adalah hasil percakapan dengan salah seorang petinggi DIKTI