PENTINGNYA KECAKAPAN LITERASI BACA-TULIS ABAD KE-21


 

Literasi berasal dari bahasa Latin yaitu “litteratus (littera)”, dalam bahasa Inggris kata ini sebanding dengan kata “letter” yang bermakna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Sedangkan dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Berbicara tentang kualitas hidup erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan teknologi. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah berada pada abad ke-21 dimana dalam meningkatkan kualitas hidup tersebut dibutuhkan berbagai kecakapan, diantaranya adalah kecakapan Literasi Baca-Tulis. Kecakapan Literasi Baca-Tulis ini merupakan fondasi literasi yang bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat untuk mampu memaknai informasi dalam membaca, memahami dan menggunakan bahasa tulisan. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Hal ini sejalan dengan deklarasi UNESCO yang menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia yang menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Abad ke-21 merupakan era teknologi informasi. Kita dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan.  Oleh karena itu, diperlukan kecapakan untuk memiliki kemampuan membaca dalam memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif. Dengan kemampuan yang baik dalam membaca dan memahami tulisan, maka tentu saja tidak akan menyesatkan kita dalam berperilaku dan bertindak. Mengapa? Karena dengan pemahaman yang baik tersebut akan membuat kita mudah melakukan sebuah tindakan yang sesuai dengan hasil analisis dan refleksi dari teks yang dibaca tersebut. Sebagai contoh, ketika di sebuah media sosial terdapat berita hoaks atau berita palsu yang dibuat seolah-olah benar adanya dengan judul bacaan yang ditulis secara menarik, nah bagi masyarakat awam yang kurang/tidak memiliki kecakapan baca-tulis maka serta merta berita hoaks tersebut langsung dibagikan ke khalayak ramai tanpa membaca keseluruhan isi berita dan juga tidak menganalisanya dengan cermat. Bukankah hal ini telah menjadikan kita sesat dalam bertindak? Tanpa berpikir panjang langsung bertindak dan tidak lagi memperhatikan unsur kebenaran berita yang dibagikan tersebut.

Kejadian tersebut di atas merupakan salah satu akibat dari kurangnya kecakapan literasi baca-tulis yang dimiliki oleh seseorang. Lalu, apakah ada dampak buruk dari tindakan yang telah dilakukan bagi seseorang yang kurang memiliki kecakapan dalam literasi baca-tulis? Tentu saja ada! Dengan tersebarnya berita hoaks alias palsu tersebut kepada orang lain yang juga kurang/tidak memikili kecakapan literasi akan mengakibatkan mereka meyakini bahwa berita yang dibacanya adalah betul-betul terjadi. Hal ini pun bisa jadi menyebabkan pertentangan, perselisihan pendapat karena kurangnya pemahaman akan informasi yang telah mereka peroleh tanpa dianalisa dan direfleksikan dengan baik.

Saat ini kita berada di dalam kehidupan yang serba canggih. Perkembangan teknologi yang pesat akan membuat kita ketinggalan dan menjadi ‘udikan’ ketika kita tidak membarenginya dengan kemampuan membaca dan menulis yang baik. Sesederhana dan semudah apapun alat komunikasi yang kita miliki akan menjadi tak berguna ketika kita tak bisa mengoperasikannya karena petunjuk penggunaannya tak bisa kita pahami apatah lagi jika alat komunikasi tersebut merupakan alat yang canggih yang memerlukan pemahaman akan beberapa petunjuk pemakaian alat/benda tersebut.

Literasi baca-tulis merupakan kunci untuk membuka pintu pengetahuan. Muara pendidikan sepanjang hayat terletak pada literasi baca-tulis. Hal ini erat kaitanya dengan peserta didik seperti yang tertuang dalam buku ‘Design Induk Gerakan Literasi Sekolah’,  menurut ‘Word Economic Forum (2016)’ dijelaskan bahwa peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad 21 di antaranya adalah literasi dasar yaitu baca-tulis. Kedua kemampuan ini memiliki hubungan yang erat dalam penguasaan kosa kata dan juga kemampuan berbahasa. Seorang peserta didik dapat memeroleh ide ataupun gagasan melalui membaca dan setelah itu ide tersebut dapat dikeluarkan melalui sebuah tulisan. Tulisan yang baik tentu didukung oleh sebuah gagasan yang menarik dan diperkaya dengan kosakata yang saling terkait dan mudah dipahami. Peserta didik yang terbiasa membaca dan menulis akan dengan mudahnya menemukan pilihan kata atau istilah yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal sehingga akan membuat komunikasi dapat berjalan dengan baik pula.

Jika peserta didik dapat memiliki kecakapan literasi baca-tulis ini maka mereka akan dapat menyerap informasi dari bacaan serta meningkatkan imajinasi dan kreativitas yang semakin luas karena terbentuknya pola pikir yang lebih tajam dan terstruktur sehingga mereka mampu memahami sumber bacaan dengan lebih simpel dan menarik. Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang mumpuni maka akan mampu membentuk karakter yang mulia sehingga tidak mudah terombang-ambing dalam gejolak beragam informasi yang muncul begitu saja di hadapan kita , baik melalui media cetak online dan offline ataaupun audio visual. Selain itu, dengan kecakapan literasi baca-tulis yang memadai maka mereka akan mudah meraih kemajuan dan kesuksesan serta keunggulan kualitas diri. Maka tidaklah mengherankan ketika UNESCO menyatakan bahwa kemampuan literasi baca-tulis merupakan titik pusat kemajuan. Seperti yang ditegaskan di dalam Vision Paper UNESCO (2004) bahwa kemampuan literasi baca-tulis menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis dan ekonomis pada zaman modern.

Setelah memahami pentingnya kecakapan literasi baca-tulis yang tersebut di atas, maka kita patut untuk memacu diri dan peserta didik untuk lebih meningkatkan kecakapan literasi baca-tulis tersebut agar dapat menjadi insan yang unggul, berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain.  Bukan sebagai insan yang hidup dalam keterbatasan dan bahkan menghadapi banyak persoalan yang tak mampu diselesaikan. Kualitas hidup yang baik dapat ditumbuhkan dengan adanya kemampuan baca-tulis. Oleh karena itu, mari kita memperkenalkan, menanamkan dan membiasakan kecakapan literasi baca-tulis dalam kehidupan sehari-hari. (2019)

 

Advertisements