Penguatan Pendidikan Karakter


GSH, 11 Desember 2016
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh : Dr. Latipun

Konsep Dasar

  • Karakter
  • Sikap, perilaku, skill, motivasi sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi tantnanga. Karakter sebagai hasil dari olah piker, olah hati, olah raga dan rasa serta karsa.
  • Sebagai isi dari proses pendidikan dan menjadi ‘generator’ bagi individu dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan nyata.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Definisi:

“ Gerakan Pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa(estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan public dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

photogrid_14814637739641Urgensi :

  1. Kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti
  2. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa.
  3. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, dan Kompetensi 4c (creative, communication, critical thinking & cooperation).

Rasional ( Landasan Hukum):

  1. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangs, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Agenda Nawacita No.8 : Penguatan revolusi karakter bangsa melalui bdi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
  3. Trisakti : Mewujudkan generasi yang berkepribadian dalam Kebudayaan (Trisakti: berdulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara social budaya).
  4. RPJMN 2015 – 2019 : Penguatan Pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memprkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan dan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”
  5. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 : yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.
  6. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud : untuk memperkuat pendidikan karakter.

Mendikbud menyampaikan bahwa Penguatan Pendidikan karakter merupakan poros utama perbaikan pendidikan nasional yang berkaitan erat dengan program prioritas pemerintah.

Pengembangan Nilai-nilai Karakter:

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara :

  • Olah Hati (Etika)
  • Olah Raga (Kinestetika)
  • Olah Pikir (Literasi)
  • Olah Karsa (Estetika)

Nilai-nilai Karakter :

  • Religius
  • Jujur
  • Toleransi
  • Kerja keras
  • Kreatif
  • Mandiri
  • Demokratis
  • Rasa ingin tahu
  • Semangat kebangsaan
  • Cinta tanah air
  • Menghargai prestasi
  • Bersahabat/komunkatif
  • Cinta damai
  • Gemar membaca
  • Peduli lingkungan
  • Peduli social
  • Tanggung jawab
  • Dan lain-lain.

KRISTALISASI NILAI-NILAI

Dari nilai-nilai karakter tersebut di atas, maka terdapat 5 kristalisasi nilai yang disebut Nilai Utama yang terdiri dari:

  • Religius
  • nasionalis
  • integritas
  • mandiri
  • gotong royong

Fokus Penguatan Pendidikan Karakter

  1. Struktur Program
  • Jenjang dan Kelas
  • Ekosistem Sekolah
  • Penguatan kapasitas guru
  1. Struktur Kurikulum
  • PPK melalui kegiatan intra-kurikuler dank o-kurikuler
  • PPK melalui kegiatan Ekstra-kurikuler
  • PPK melalui kegaitan non-kurikuler

Pendidikan Karakter Berbasis Kelas:

  • Integrasi dalam mata pelajaran
  • Optimalisasi muatan local
  • Manajemen kelas

Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

  • Pembiasaan nilai-nilai dalam kesehrian sekolah
  • Keteladanan Pendidik
  • Ekosistem sekolah
  • Norma, peraturan dan tradisi sekolah

Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

  • Orang tua
  • Komite Sekolah
  • Dunia usah
  • Akademisi, penggiat pendidikan
  • Pelaku Seni & Budaya, Bahasa & Sastra
  • Pemerintah & Pemda

Keluaran

  • Pembentukan individu yang memiliki karakter dan kompetensi abad 21

Hasil :

  • Olah Pikir ; Individu yang memiliki keunggulan academia sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat.
  • Olah hati, Individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa
  • Olah rasa dan karsa: Individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan.
  • Olah raga, Individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga Negara.

Materi yang disampaikan oleh Bapak Dr. Latipun tersebut di atas merupakan salah satu materi Bimbingan Teknis Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang berlangsung sejak 11-12 Desember 2016 sebanyak 8 jam pelajaran (selama 2 hari).  Pada sesi pertama materi Penguatan Pendidikan Karakter ini menciptakan suasana diskusi yang hangat diantara peserta Bimtek.

Semoga dengan mengikuti Bimtek PKB yang diikuti oleh 546 Calon Guru Garis Depan (GGD) tahun 2016 ini adalah peserta gelombang ke-3 dari 6926 peserta yang ada. Peserta sejumlah 546 peserta Calon GGD ini termasuk pepada GGD merupakan alumni PPG Prajabatan Dikti yang terdiri dari PPG SM-3T, PPG PGSD Berasrama, PPGT, PPG SMK Kolaboratif, dan PPG Basic Science. Para Calon GGD ini telah memiliki sertifikat pendidik sebagai salah satu persyaratan khusus untuk mengikuti serangkaian SCASN (Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara) dimana sebelumnya mereka telah mengabdikan diri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di seluruh wilayah Indonesia. Guru Garis Depan Indonesia melahirkan Guru yang Penyayang, Inspiratif dan Mendidik dengan hati dan juga akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai utama yang telah dibahas di atas.

Advertisements

Kiprah MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia) dalam Dunia Pendidikan menuju Usia Satu Tahun


MSI atau Masyarakat SM-3T Indonesia adalah sebuah komunitas yang memiliki loyalitas terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia khususnya di wilayah 3T (Terdepan,Terluar dan Tertinggal). MSI merupakan wadah yang memfasilitasi para pengabdi pendidikan untuk menyalurkan hasrat nurani mereka di wilayah 3T yang mencakup Papua-Papua Barat, NTT dan Bali, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

Adapun wilayah 3T tersebut telah berada dalam sebuah ikatan yang dinamai “Simpul 9” dimana setiap pulau memiliki koordinator yang berasal dari alumni PPG SM-3T dan merupakan bagian dari Masyarakat SM-3T Institute (MSI).

Sebagai sebuah komunitas yang bergerak penuh semangat untuk maju bersama mencerdaskan bangsa, MSI telah berkiprah besar di usianya yang terbilang masih sangat muda. Diantaranya adalah terlaksananya berbagai Program Kemanusiaan di bidang Pendidikan yaitu SM-3T Peduli, Lubuk Hati, SM-3T Merchandise serta pendirian Base Care (Base Camp of Agus Susilohadi Education Care) pada setiap wilayah di Simpul 9 Kekuatan Base Care ditandai dengan adanya perangkat sekretariat bersama penggiat SM-3T yang di dalamnya memuat tanggung jawab keaktifan literasi (taman baca/perpustakaan), ruang diskusi, elaborasi dan pengembangan pembelajaran, serta sebagai wadah persambungan aktivitas SM-3T Peduli yang mendapat arahan dan bimbingan dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Melalui MSI pula, sebuah program rintisan perekrutan Guru Masa Depan telah sukses dilaksanakan dengan telah diselenggarakannya perekrutan Guru Garis Depan (GGD) pada tahun 2015 yang merupakan guru-guru profesional dan telah bersertifikat pendidik sesuai dengan amanah UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005. Dan Pola Perekrutan Guru melalui GGD ini pun akan berlangsung untuk tahapan kedua (GGD 2016), dimana tentu saja para potensi pendaftarnya adalah mereka para alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah memiliki sertifikat pendidik dan merupakan lulusan dari PPG SM-3T, PPG SMK KOLABORATIF, PPG PGSD BERASRAMA, PPG BASIC SCIENCE, dan PPGT.

Tak sedikit alumninya yang mengabdikan diri kembali di daerah 3T, baik itu sebagai Guru PNS , Kontrak ataupun Sukarela. Hal ini terlaksana karena keterpanggilan jiwa mereka yang telah diyakini sebagai sebuah jalan untuk entitas marwah SM-3T yang telah melekat dalam diri mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Irawati, salah satu alumni PPG SM-3T Angkatan 2014 dari LPTK UNM prodi Bahasa Inggris bahwa kedatangannya kembali ke kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat karena keterpanggilan hati ketika mendengarkan rengekan siswa-siswinya yang sangat membutuhkan guru Bahasa Inggris. Begitupula dengan saudara-saudaranya Irmawati dan Jusbiah yang saat ini mengabdi di negeri di atas awan tanpa signal dan listrik.
Begitupula halnya dengan Ritayati, yang memilih untuk mendaftar CPNS Guru di kabupaten Supiori Biak dan akhirnya betul-betul menjadi pengabdi sejati di sana. Ada Aprisal yang memilih kabupaten Sumba Timur sebagai tempat pengabdiannya dalam GGD 2015, dimana sebelumnya telah menjalankan marwah SM-3T di Biak, Papua namun karena rasa keIndonesiaannya bahwa Sumba pun Indonesia sehingga pilihannya sangatlah tepat.
Ada Alfred asal Luwuk yang juga ingin menuangkan segala ilmu yang telah diperolehnya selama PPG dan membagikannya kepada anak didiknya di Rote Ndao. Tentu saja, jika Penulis hendak menuliskan nama mereka satu persatu maka blog ini tentu akan penuh karena begitu banyaknya alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah kembali mengabdikan dirinya di daerah 3T.

Pada bulan ini, Juni yang merupakan Hari lahir MSI, telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk semakin meningkatkan minat belajar para peserta didik baik itu melalui SM-3T Peduli serta donasi pemberian buku melalui Program Lubuk Hati pada sekolah-sekolah yang membutuhkan dan juga bantuan lainnya berupa pemberian alat tulis dan peralatan sekolah yang dapat meningkatkan motivasi siswa ke sekolah. Begitupula pelaksanaan lomba-lomba di bidang pendidikan yang diadakan oleh MSI dan berlangsung mulai tanggal 23-26 Juni 2016.
Menurut Akhiruddin, Direktur MSI bahwa apa yang telah dilakukan saat ini tidak terlepas dari peranan alumni dan peserta PPG Prajabatan Dikti yang melaksanakannya dengan penuh sukacita dan keikhlasan.

Lalu, nantinya pada tanggal 26 Juni 2016, yang merupakan puncak pelaksanaan kegiatan MSI dan merupakan Hari Lahirnya Masyarakat SM-3T Indonesia akan diadakan sebuah TalkShow dimana akan melibatkan para pembicara di antaranya Pencetus SM-3T yaitu Bapak Agus Susilohadi, dan Ibu Prof. Luthfiyah Nurlaila sebagai Penggagas MBMI serta Bapak Abdullah Pandang, Direktur P3G LPTK UNM. Talk Show ini dilaksanakam demi menguatkan peran Masyarakat SM-3T Indonesia dan program SM-3T/PPG SM-3T dalam penanganan Pendidikan Daerah Tertinggal dan penyiapan Guru Masa Depan Indonesia.

Semoga dengan pelaksanaan Hari Lahir Masyarakat SM-3T Indonesia akan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk menghadirkan Guru Masa Depan Indonesia sesuai dengan yang dicita-citakan dan kelak melahirkan Generasi Emas Indonesia..Amiin Ya Rabbal Alamin.
Memanglah usia setahun bagaikan seorang balita yang masih belajar berjalan namun selalu ingin mencari tahu. Bagi kami, usia MSI boleh muda namun spirit para penggiatnya adalah spirit 45…
SALAM MBMI!

Saya, dari Simpul 9 wilayah Papua-Papua Barat mengucapkan Selamat Hari Lahir yang ke-1, semoga kami sebagai bagian dari MSI akan dapat selalu mengabdikan diri dan bukan hanya sebagai guru biasa di 3T namun menjadi Pendidik yang selalu dapat menginspirasi serta bermanfaat bagi semuanya.
Happy Birthday, MSI!
We Love You!

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android

Aku Kembali….Takut!!!


Kamis, 13 Maret 2014….
Aktivitas kembali dijalankan…
Ke sekolah sejak pagi hingga siang hari…sore hari ke kali dan malam hari duduk bercengkrama dengan adik-adik di luar rumah. Dan malam ini tidak seperti malam kemarin…
Malam ini malam Jum’at…selalu dikaitkan dengan mitos bahwa malam Jum’at adalah malam keramat. Namun kami sebagai generasi pendidik pantang untuk mempercayai mitos tersebut. Kami duduk-duduk di honai tanpa penerangan dan malam lumayan gelap apalagi di sekeliling kami suara burung-burung malam dan juga jangkrik hutan meramaikan acara duduk-duduk kami. Sambil main gitar, Idhan menyanyi dan akupun turut mengikuti lagu yang dinyanyikan olehnya walaupun dengan suara sumbang dan sengaja dibuat tak terlalu jelas karena aku tak hafal lirik lagunya…hehehehe….
Tiba-tiba darahku terkesiap ketika kudengar Idhan menanyakan mengapa kabel yang terbentang dari ruangan laboratorium ke rumah adik-adik yang saat itu mereka sedang duduk-duduk di depan rumahnya terlihat lebih tebal dan sepertinya bergerak-gerak. ..ya ampun…aku segera berdiri dan mendekat ke arah Theo…aku takut…karena yang terbayang di benakku adalah ular dan memang betul bahwa itu ular. Idhan segera memberi tahu mereka bahwa ada ular di kabel menuju ke rumahnya. Mereka segera mengambil kayu dan memukul ular tersebut hingga jatuh ke tanah dan kemudian memukulinya. Aku menjerit dan menahan mereka untuk tidak membunuhnya. Aku lalu menangis ketakutan..dan mereka bilang bahwa tidak usah menangis kanda..Namun ketakutanku saat ini betul-betul tak bisa kubendung. Aku menangis seperti anak kecil. Aku seperti tak menguasai diriku, berdiri di tengah jalan sambil menangis dan menutup mata tapi telinga ini tetap mendengar mereka masih mengurusi ular tersebut. Terdengar suara Ancu yang mengatakan ularnya masih hidup, ekornya bergerak-gerak padahal kepalanya sudah dipisah dari badannya..ohh…aku makin ketakutan. Idhan yang melihatku ketakutan bukannya berusaha menenangkan aku tapi malah memarahiku. Dia mengatakan,”kenapa ngana ini,Ira?seharusnya ngana yang pernah tinggal di sini lama sudah terbiasa dengan binatang melata seperti itu.” Kalau ngana terus manangis bagitu,kita pulang jo.” Lalu Theo pun datang membujuk aku dan berusaha menenangkan diriku. Aku katakan padanya jangan jauh-jauh dariku karena perasaan takut ini semakin menghantui. Setiap bergerak sedikit ataupun melihat benda-benda yang bentuknya panjang pikiran ini selalu menganggapnya bahwa itu adalah ular. Sungguh…aku telah terperangkap dalam ketakutan. Hikkzz…
Akhirnya Theo mengajakku untuk segera beristirahat. Namun setiap mata ini berusaha kupejamkan yang terbayang hanyalah ular dan ular. Malam ini aku betul-betul tersiksa dengan ketakutan akan binatang melata tersebut.
Larut Malam….
Kuambil hape dan kulihat waktu telah menunjukkan pukul 02.15 dan aku belum bisa tertidur sedikitpun. Yang bisa aku lakukan hanyalah berguling ke kiri dan ke kanan. Kulirik ke arah Theo, huffthhh…betapa pulas tidurnya…lalu aku mencoba mendengarkan lantunan ayat suci dari hapeku. Aku tak peduli walaupun hape ini akan lowbat namun yang terpenting adalah agar aku bisa tertidur..dan memang mujarab…aku bisa tertidur hingga beberapa menit kemudian akhirnya tak bisa tertidur lagi karena mendengar suara Idhan yang mengigau dari kamar sebelah dan Theo berusaha membangunkanku dengan mengguncang-guncang badanku.huuffthhh…aku kaget setengah hidup padahal sebenarnya aku sedari tadi sudah mendengar suara igauan Idhan. Akhirnya kembali kuambil hape dan kumatikan mp3nya lalu membuka halaman yang tak pernah absen dari keseharianku yaitu ‘Facebook’. Terlihat masih banyak yang menyala lampu hijaunya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 03.05. Sebenarnya aku ingin bangun untuk mengadu kepadaNya namun syaitan menggangguku dengan mengatakan tak ada air dan juga dia menanyaiku apakah kamu tidak takut kalau begitu jalan ke kamar kecil tiba-tiba di dalam sudah ada ular ataupun lipan?aduhhh…ternyata keinginan ini dikalahkan oleh bujukan syaitan…Astagafirullah!!!
Pukul 03.15…
Aku berusaha keras memejamkan mata agar bisa beristirahat dengan baik. Aku lantas melaksanakan pesan mama dan kakak yang katanya jika kamu dalam dalam keadaan takut atau tak bisa tidur berdzikirlah…lalu akupun berdzikir dalam hati sehingga tak terasa fajar sudah tiba…

Jum’at, 14 Juni 2014
Pagi ini terasa kurang segar bangunnya karena semalaman kurang tidur. Tapi kami bersegera mempersiapkan diri untuk mandi di kali karena hari ini kami berencana untuk lebih cepat ke sekolah. Malu juga jika dilihat oleh siswa-siswa kami dalam keadaan baru pulang dari kali yang otomatis tangan penuh dengan jinjingan berupa jerigen dan juga pakaian basah yang telah dicuci di kali.
Setelah mandi, Theo bergegas untuk sarapan. Dia memanggil Idhan dan juga aku, namun aku masih memiliki rasa malas untuk sarapan sepagi ini. Aku kurang terbiasa sarapan di pagi hari kecuali kalau dipaksa oleh mama selama berada di rumah. Akhirnya Idhan menuruti panggilan Theo dan aku hanya meneguk beberapa tegukan air putih yang membuat aku sudah merasa full tangki…hehehehe…
Kami bersiap-siap untuk ke sekolah. Terdengar pak Kasno sudah ada di kantor. Pak guru yang satu ini adalah guru teladan yang paling disiplin soal waktu. Beliau selalu tiba di sekolah sebelum siswa-siswa yang berada di sekolah. Lalu disusul oleh bunda Sarah dan Ibu Yuli, bu Faridah dan juga bu Stince. Dalam hati aku bergumam bahwa sedikit lagi pak Dwi Purnomo akan menyusul tiba di kantor (koq yakin begitu sih, Ira? Ya iyalahhh…abis suara motornya sudah terdengar dari dekat…heheheheh). Dan tidak lama berselang ketiga personil SM3T Jilid 3 pun sudah menduduki meja mereka masing-masing. Yang belum hadir pagi ini adalah pak Sahrullah, ibu Eva, pak Yesra Kandami dan juga akar alias bapak kepala sekolah…Kami biasa menggunakan istilah tersebut jika sedang bercanda dengan teman-teman di kantor. Yang masih muda-muda dipanggil pucuk dan yang separuh baya dipanggil daun…hehehehe…
Akhirnya, aku telah menyelesaikan mengabsen secara terselubung…hihihiee…gak ada yang meminta ataupun menyuruh koq…aku hanya sedang tidak ada kerjaan setelah menyapu ruangan kantor.
Pukul 09.15 WIT…
Rasa lapar mulai menyerang kampung tengah. Aku bersegera menuju ke rumah mumpung peserta UAS pun sedang istirahat. Lalu aku berjalan menuju ke belakang dan membuka rice cooker juga mengambil piring (lebih tepatnya mangkok plastik karena piring yang aku bawa hanya 3 buah dan semuanya kotor karena belum dicuci). Setelah itu, aku mengambil sayur dan menuangkannya ke dalam mangkok dan juga abon ikan buatanku kemarin. Setiap suapan aku begitu menikmatinya sambil tak lupa melihat ke arah makananku. Entah mengapa pagi ini aku merasa was-was dan sedikit merasa ketakutan. Mungkin karena pengaruh semalam melihat ular.
Lalu pada suapan ketiga aku memekik ketakutan kembali dan segera menaruh mangkok yang aku tempati makan karena di atas sendok yang berisi makanan dan hendak aku masukkan ke dalam mulut terdapat lipan hitam yang panjangnya sebesar jari kelingking. Aku memekik ketakutan dan juga ngeri membayangkan seekor lipan sudah hampir aku gigit..oh Ya Allah!aku sangat takut dan juga jijik. Untung saja sebelum memasukkan makanan ke mulut aku melihatnya terlebih dahulu. Aku pun tak tahu darimana datangnya lipan tersebut. Kalau dikatakan bahwa sudah ada di mangkok sebelum aku makan , tidak mungkin juga karena aku selalu waspada dengan hal-hal seperti itu sejak mengetahui bahwa di tempat ini banyak binatang melata. Ataukah mungkin tiba-tiba jatuh dari atas dan langsung bertengger di sendok makanku?ahhh…aku tak mau tahu sumbernya…yang pastinya hari ini lagi-lagi aku ketakutan dan shock tingkat tinggi atau orang bule bilang ‘hypershock’.
Oh iya, lanjut…ketika aku memekik ketakutan segera kulemparkan mangkok yang aku pegang dan berlari keluar rumah sambil duduk menangis memegang lututku sehingga Idhan dan Amin yang duduk di honai kaget dan berlari menghampiriku. Mereka menanyakan apa yang sedang terjadi, disangkanya aku sedang bertengkar dengan Theo sehingga aku menangis. Sambil menangis sesenggukan, aku menunjuk ke arah mangkok yang tadi kulempar dan anehnya makanannya tidak berserakan dan lipan tersebut masih bertengger di sendok itu. Bagus juga sih…agar mereka betul-betul percaya bahwa apa yang aku takuti itu nyata bukan halusinasi. Lalu mereka menyingkirkan lipan tersebut dan aku tidak tahu langkah apa yang selanjutnya mereka lakukan terhadap lipan itu..huuffthhh…aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk mengatasi ketakutan ini…setiap melangkah, aku merasakan bahwa ada lipan yang sedang merayap di lantai..hikkzz…mama…aku takuuutt!

Dengan kejadian beruntun yang membuat aku ketakutan dan hypershock tersebut, ingin rasanya aku segera berlari pulang dan melupakan niatku untuk mengabdi di sini..aku ingin lari ke pelukan mama dan menceritakan apa yang aku alami..

Aku Kembali…(Panggilan Hati Membuatku Harus Keluar dari Zona Nyaman!)


Pukul 05.30 Waktu Oransbari…

Karena hari ini adalah hari kedua kami di Oransbari, maka kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kamar mandi.Kamar mandi besar yang airnya mengalir tiada henti dan sangat bening serta dihiasi oleh batu-batu kali..hehehe….inilah aku…bermain dengan fantasiku…aku membayangkan bahwa aku akan mandi di sebuah kamar mandi yang lengkap dengan shower dan bak besar padahal tempat yang nyatanya adalah sebuah kali yang airnya mengalir dari pegunungan ke sepanjang kali hingga tiba di Transito..yahh..nama kali tersebut adalah ‘Kali Transito’ yang sealiran dengan Kali Sindang Jaya.

Aku lantas membangunkan Idhan untuk segera ke kali agar kami nantinya bisa tiba di rumah sebelum anak-anak kelas XII yang sedang Ujian Akhir Sekolah datang ke sekolah. Sambil memanggil Idhan, aku mempersiapkan peralatan mandi dan juga ember yang bisa kami gunakan untuk mengangkat air setelah mandi nanti. Theo pun telah siap dengan alat mandinya dan juga telah mengangkat nasi yang sudah matang dari atas kompor serta telah memastikan bahwa kompor tersebut telah padam.

Pasti ada yang berpikir bahwa rumah tersebut telah dilengkapi alat-alat dapur..hmmm…tidak..dan belum…alat-alat dapur tersebut aku bawa dari rumah, mulai dari kompor, panci, wajan, baskom, piring,sendok, gelas dan sebagainya. Sementara untuk bahan-bahan di dapur seperti beras, gula pasir,abon daginng bahkan ikan dan bumbu-bumbu lainnya pun telah tersedia. Itu semua berkat mama dan kakak-kakakku yang telah mempersiapkannya buat aku..Terima kasih buat keluargaku yang selalu mendukung dan mengikhlaskan aku untuk jauh dari mereka. Theo pun telah mengeluarkan ‘Rice Cooker’nya..hehehehe…aku teringat ketika pertama kali datang ke Oransbari (saat mengabdi SM-3T dahulu) membawa ‘Rice Cooker’ padahal listrik tak ada..tak apa-apa Theo…kita bisa menggunakannya ketika ‘Genset’ dihidupkan nantinya.

Huffthh…Idhan terasa lama..belum juga bangun…padahal kami telah bersiap-siap untuk segera ke kali. Aku lantas menggedor pintu kamarnya hingga dia segera keluar kamar dan muncul dengan mata sipitnya..hehehehe….kasian…mungkin dia masih mengantuk. Tapi aku segera melirik jam pada hapeku..gawat waktu sudah menunjukkan pukul 06.03 dan aku segera mengomandoi mereka berdua lagi-lagi agar segera bergegas ke kali. Lalu Idhan berjalan ke luar pintu dengan menenteng ember berukuran sedang ( 20 liter air ) untuk diisi di kali.

Kami pun berjalan menyusuri semak-semak dan menuruni gunung Wondif melewati kantor distrik Oransbari yang terlihat masih lengang walaupun hari sudah terang. Sambil bercanda di sepanjang jalan, kami melangkah dengan agak cepat karena takut didahului oleh siswa untuk tiba di di sekolah.

Kurang lebih sepuluh menit, akhirnya kami pun tiba di pinggir jalan raya beraspal dan sesekali mendapati siswa SMP yang hendak ke sekolah dan mereka menyapa kami dengan ramahnya begitupula para penduduk pribumi yang lewat di samping kami. Di perempatan jalan, tepatnya di jembatan Transito, kami mendengar gemericik suara air yang mengalir dengan tenang dan airnya terlihat dari atas jalanan raya. Hmm…akhirnya kami pun tiba di kali Transito.

Air kali Transito begitu bening dan dingin. Cuaca pagi hari yang dingin tidak terasa karena melihat air yang begitu jernih. Theo pun mengalami hal yang sama denganku. Kami ingin segera berendam di dalam air tersebut. Mengingat bahwa kami tidak hanya berdua saja, namun ada Idhan yang berbeda jenis kelamin dengan kami…hehehee…akhirnya, kami meminta Idhan agar dia mandi agak jauh dari kami walaupun kami mandi dengan pakaian lengkap…ahhh…segarnya…

Setelah mandi (lebih tepatnya berendam selama kurang lebih 10 menit, akhirnya kami segera mengambil sarung dan berganti pakaian kemudian selanjutnya pulang ke rumah. Aku berjalan membawa pakaian basah di dalam kantong plastik dan tas ransel di pundak seperti hendak melakukan perjalanan jauh begitupula dengan Theo dan Idhan. Namun Idhan memiliki lebih banyak bawaan dibandingkan kami berdua karena dia membawa air kali dengan menggunakan ember yang kami bawa tadi. Kami berjalan dan sesekali berhenti karena kasihan pada Idhan yang membawa air untuk kami gunakan nanti mencuci piring. Setiap sekitar 15 meter kami berhenti karena bukan Cuma Idhan yang ngos-ngosan tapi aku dan Theo pun kecapean karena perjalanan yang kami tempuh harus menanjak dan melewati jalanan penuh batu-batu kecil sehingga terasa agak lama.

Untuk mengurangi kelelahan yang ada, aku memulai candaan dengan mengatakan bahwa anggap saja kita ini adalah pendaki profesional..heheheh…sehingga setiap pemberhentian kami beri nama ‘Pos 1 dan seterusnya hingga mencapai Pos 12’ untuk sampai di rumah. Ketika tiba di depan rumah adik-adik SM-3T jilid 3, mereka mencandai kami dengan mengatakan ‘kasihan…SM-3T jilid 4 sekarang harus berburu air’.hikkzz…tak apalah…daripada kami tak mandi…mereka masih merasa sedikit lega karena masih ada air di bak penampungannya sehingga mereka tidak harus ke kali seperti kami..ahh…tapi tak apa-apa…keringat di pagi hari itu membuat badan sehat (menenangkan diri karena telah habis mandi air di kali tapi begitu tiba di rumah mandi keringat….hehehehe)..yang semangat ya,Ira!!!iyyaa lahh…membayangkan senyuman bahagia anak-anak SMA Negeri Oransbari melihat kedatanganku kembali ke sekolah ini telah membuat semua rasa cape’ itu hilang…

Pukul 07.05…

Theo dan Idhan sarapan..tapi aku tidak terbiasa untuk sarapan di pagi hari. Biasanya Cuma minum segelas air putih di saat baru bangun tidur. Dan pagi ini aku pun hanya meneguk segelas air putih sebelum berangkat ke sekolah yang letaknya sangat dekat hanya sekitar 5 langkah dari rumah (mirip sebuah lagu ya??? :D).

Hari ini adalah hari kedua UAS untuk siswa kelas XII SMA Negeri Oransbari. Aku segera menyiapkan diri untuk menuju ke sekolah walaupun belum mendapat tugas untuk mengajar ataupun mengawas ujian. Taraaammm…Bunda Sarah, Mama Noel dan Pak Kasno yang melihatku terlihat kaget bercampur senang karena kedatanganku dan juga teman-teman..hal ini pun pasti dikarenakan rasa yang sama yaitu rindu akan kebersamaan ketika dulu masih di sini..(hehehe…sapa bilang,Ra?).. Mereka satu persatu menanyakan kabar dan kapan tiba di Oransbari..aku pun menjawab dengan sabarnya pertanyaan mereka..hehehee…tapi aku tak mau ketinggalan kesempatan untuk memperkenalkan Theo dan Idhan yang datang bersama denganku ke Oransbari. Tak lupa pula mereka menanyakan tentang kabar ketiga orang adik-adikku (masih ingat Srikandi SM-3T di Oransbari kan?hehehe) yaitu, Tytin, Hae dan Umra. Lalu aku menyampaikan salam kangen dari mereka kepada seluruh personil SMA Negeri Oransbari..dan mengatakan bahwa mereka belum sempat datang..hmmm…rasanya berada di sekolah ini seperti sedang reunian…

MAKNAI KEGAGALAN SEBAGAI SEBUAH KEBAIKAN


Berbicara tentang kemenangan dan kegagalan, berarti membahas tentang sebuah kompetisi atau persaingan dimana hal ini sering kita alami dalam kehidupan ini. Keberhasilan dan kegagalan bagaikan sisi yang ada pada sebuah koin, jika kita melemparkannya ke atas akan terlihat permukaan kemenangan berarti saat itu kita ada di sisi kemenangan dan sedang memenangkan sebuah kompetisi, begitu pula sebaliknya.

Jika aku flashback dalam kehidupanku, maka ada beberapa kegagalan dan kekalahan yang aku temukan, namun tak sedikit pula kemenangan yang aku peroleh. Ketika aku mengalami kegagalan, aku tak lantas berputus asa walaupun kecewa dan sedih sudah pasti ada, wajar dan manusiawi, tpi rasa itu bukan untuk terus dituruti sehingga menjadi penyesalan atas takdir yang telah Allah gariskan. Jika telah Allah tuliskan bahwa aku harus gagal hari ini, bisa jadi kegagalan ini adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidup aku hari ini. Begitupula jika aku mengalami kemenangan, aku tak ingin hal ini menjadikanku sombong, namun aku hanya menjadikannya pemicu semangatku agar bias lebih maju dan berkarya dalam berbuat kebaikan.
Aku pernah membaca sebuah artikel tentang bersyukur di saat menemui kegagalan. Menurut artikel tersebut seorang ustadz berkata bahwa tujuan kita hidup di dunia ini hanya untuk melakukan kebaikan, beribadah pada Allah dengan sebaik-baiknya. Kita tidak ditugaskan untuk selalu menang..

Hal ini mengingatkan aku pada apa yang telah kualami sekitar satu setengah tahun yang lalu, ketika hendak mendaftar kuliah PPG (Pendidikan Profesi Guru) Dalam Jabatan di Universitas Negeri Makassar, dimana ketika itu aku berhasil mendapatkan Nomor Registrasi Pendaftaran secara online yang menjadi acuan untuk langkah selanjutnya. Saat itu aku berpikir bahwa aku akan menang dan akan berhasil, mengingat ada beberapa teman yang pada waktu itu mendaftar online, namun gagal. Lalu, aku segera mengurus segala kelengkapan administrasinya dan mengajukannya ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten untuk mendapatkan persetujuan dari Kepala Dinasnya. Namun ternyata, jawaban yang aku peroleh dari kantor tersebut sempat membuat aku down dan kurang semangat. Aku tidak mendapatkan lampu hijau dari salah satu staf di kantor tersebut untuk memperoleh tandatangan Kepala Dinasnya. Hari itu aku pulang ke rumah dan merenung bahwa hari ini nasib baik tidak berpihak padaku. Aku telah mencoba berbagai cara yang aku anggap bisa membuat aku memenangkan kompetisi itu, jujur aku akui kalau aku sangat ingin mengikuti PPG. Namun, aku tak boleh melalaikan tugasku yaitu mengabdi sebagai tenaga pengajar sukarela di sebuah sekolah dasar. Aku harus fokus untuk mengajar saja dan harus mengambil keputusan bahwa aku gagal untuk bisa mengikuti Pendidikan Profesi Guru.

Namun, tidak lama berselang kemudian, aku membaca sebuah Koran Harian yang membahas tentang pelaksanaan tes Program SM-3T (Sarjana Mengabdi di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) yang diadakan oleh Kemdiknas bekerjasama dengan DIKTI untuk merekrut para lulusan Sarjana Pendidikan. Aku lihat hari itu rupanya tesnya sedang berlangsung, aku pun berpikir bahwa ini bukan lagi kemenanganku, karena aku terlambat mendapatkan informasinya. Tetapi, kalaulah rezeki tidak akan kemana…ternyata setelah tes tersebut masih ada perpanjangan penerimaan lagi karena masih ada kuota yang lowong. Lalu, aku pun mendaftar dan mengikuti serangkaian tes dan akhirnya LOLOS…aku berangkat ke Papua Barat sebuah daerah terpencil yang sangat membutuhkan guru. Aku berada di sana selama sebelas bulan, mengabdikan diri untuk kebaikan, dan masih ada lagi kebaikan lain yang akan menanti yaitu kuliah PPG dan mendapatkan beasiswa penuh dari DIKTI. Sungguh suatu hal yang tidak bisa aku bayangkan sebelumnya.

Ternyata inilah kebaikan yang telah diatur oleh Allah buat aku dan juga buat orang-orang yang ada di Papua Barat, khususnya di SMA Negeri Oransbari, distrik Oransbari-Manokwari Selatan. Waktu itu aku tidak lolos (tidak punya kesempatan untuk mengikuti PPG Dalam Jabatan) mungkin karena itu kurang baik buatku (mengingat biaya PPG yang lumayan tinggi dan mahal untukku). Allah kemudian mengatur sebuah kemenangan bagi aku yaitu setelah melewati kegagalan dalam mendaftar PPG Dalam Jabatan maka aku memperoleh kesempatan mengikuti PPG Pra Jabatan yang merupakan beasiswa penuh dari pemerintah…sungguh aku sangat bersyukur akan hal ini.

Nah…mengapa aku kembali memposting catatan ini, karena aku ingin menunjukkan kepada saudara-saudaraku yang telah mengikuti tes apapun itu dan jg calon presiden untuk tetap tersenyum tulus walaupun nantinya tak mendapati namanya dalam pemilihan umum–tetaplah semangat.

Alhamdulillah…Insya Allah ini adalah hasil akhir yang terbaik. Setelah melewati serangkaian proses mulai dari pemasukan berkas hingga tes yang pastinya tidak gratis.Ini sebuah pengalaman yang luar biasa.

Memang mendapatkan kemenangan bisa menjadi sebuah kebaikan untuk kita, tapi itu bisa jadi keburukan untuk org lain. Maka saat kita gagal dan orang lain menang, itu berarti kita telah menjadi jalan bagi kebaikan org lain. Kita gagal maka orang lain menang. Dan jika kita menang, berarti orang lain gagal. Saat kita gagal dan mungkin mendapat keburukan, bersyukur saja, maka seketika keburukan itu akan berubah menjadi kebaikan, jadi ibadah, bersyukur atas takdir Allah adalah kebaikan dan ibadah.
TETAP SEMANGAT…PEACE!!!