#INAElectionObserverSOS apakah itu?


Saat ini di dunia media sosial lazim terlihat sebuah tagar yang bertuliskan #INAElectionObserverSOS

Tagar tersebut dituliskan di kolom komentar ketika ada sebuah berita ataupun pernyataan menyangkut keberhasilan, keunggulan, prestasi dari salah seorang calon presiden yang ditampilkan oleh media berita online.

Lalu, apakah sebenarnya makna dan tujuan dari tagar #INAElectionObserverSOS tersebut? apakah seluruh kaum netizen sudah memahami betul pengertian dari tagar itu sendiri atau hanya sekedar membuat penandaan untuk dapat dikatakan sebagai seorang netizen kekinian yang paham betul akan permasalahan/topik yang sedang hangat dalam masa-masa panas kampanye menjelang Pilpres 2019? dan apapula tujuan dibuatnya tagar tersebut? Hmm…let’s see!

Baiklah, mari kita bahas bersama tentang tagar #INAElectionObserverSOS tersebut. Tagar ini

Trending Topik Pemilu 2019


Trending topic terdiri dari dua kata yaitu “trending” dan “topic”, kedua kata ini berasal dari bahasa Inggris yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti mudahnya untuk memahami

The Right Man on the Right Place


“Orang yang tepat pada tempat yang tepat” Begitulah kira-kira arti dari judul tulisan di atas.

Pada beberapa tempat yang merupakan pelayanan umum, sering kita menemukan ketidakpuasan akan pelayanan dari petugas di tempat tersebut.

Sebagai contoh, di sebuah instansi pemerintahan dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah sedang mengadakan sebuah proses rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Untuk proses penerimaan dokumen fisik yang dimasukkan melalui BKD tentu saja diperlukan beberapa orang sebagai Panitia Pelaksana Penerimaan CPNS.

Semua pasti berharap agar proses rekrutmen ini berjalan dengan baik dan sesuai prosedur (ini akan terjadi jika orang yang bekerja di dalamnya adalah orang yang tepat).

Pada sebuah kasus di beberapa tempat, terjadi ketidaksinkronan antara Jika saja

Nasabah adalah Raja


Dahulu, istilah ini masih sangat diagung-agungkan oleh rakyat Indonesia khususnya bagi para pekerja-pekerja di bank ataupun di tempat umum (nasabah diganti pelanggan/tamu). Namun saat ini yang terjadi adalah adanya pertukaran tempat dari kalimat “nasabah adalah raja” menjadi “petugas adalah raja”.

Mengapa saya menyatakan demikian? Hal ini didasari pada banyak kasus laporan/pengaduan pada beberapa tempat umum yang mengeluhkan akan ketidakpuasan pengunjung/pelanggan akan pelayanan petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. Keluhan serupa sering ditemukan pada beberapa bank yang kredibilitas perusahaannya tidak diragukan lagi.

Pada dasarnya keluhan yang timbul ini bukan karena manajemen dari bank tersebut tidak baik akan tetapi kembali pada ‘person’nya.

Seorang pekerja bank yang telah digembleng, dan diberikan ilmu dan instruksi untuk menghadapi nasabah dengan ramah, baik, sopan dan menyenangkan tentunya diharapkan agar dapat bersikap seperti yang diinginkan atasan untuk menciptakan iklim kerja yang baik serta pelayanan yang memuaskan. Akan tetapi, sedalam apapun hal itu ditanamkan kepada mereka tetap saja akan tidak berfungsi dengan baik jika dari hatinya tak menghendaki adanya kebaikan dan ketulusan untuk menciptakan pelayanan yang memuaskan tersebut.

Sebagai contoh, Becce (bukan nama sebenarnya) di bank B telah mengikuti training dan diklat untuk peningkatan mutu pelayanan *kantor (*baca bank) selama 1 bulan.

Setelah itu dia pun kembali melaksanakan tugas yang seharusnya sesuai dengan tupoksinya terlebih lagi Becce telah mengikuti diklat, namun apa yang terjadi? ternyata ketika dia didatangi Acce (bukan pula nama sebenarnya) yang merupakan nasabahnya, tak dihiraukannya dan malah asyik memencet gawainya (baca hape).

Nah, sebagai manusia biasa tentu saja perlakuan seperti ini dianggap Acce sebagai sebuah pembiaran, suatu bentuk pelayanan yang tak memuaskan dari Becce sebagai seorang pegawai bank.

Apakah Becce mengetahui perasaan Acce? mungkin ya dan mungkin pula tidak. Jika jawabannya ya, maka hal ini dikarenakan Becce tak mengindahkan sebuah prinsip “Nasabah adalah Raja”. Sebagai seorang nasabah selayaknyalah Acce dilayani dengan baik, didengarkan keluhannya dan direspon apa yang menjadi keinginannya sehingga Acce merasa dipedulikan, dan puas dengan pelayanan Becce. Sehingga sekembalinya dari bank dia akan memiliki persepsi positif dan baik tentang bank tersebut. Tapi kenyataannya berbanding terbalik kan?

Lalu jika jawabannya ‘tidak’, apakah penyebabnya? Tentu saja karena Becce terlalu asyik dan sibuk dengan gawainya sehingga tidak menyadari bahwa ada nasabah yang sedang menantikan pelayanannya. Dia pun mengabaikan segala bentuk pelatihan dan diklat yang telah diterimanya. Jika ini terjadi maka takkan dipungkiri lagi bahwa tentu saja Acce akan menganggap dirinya tak dihiraukan dan tidak dilayani dengan baik sebagai seorang nasabah.

Prinsip ‘Nasabah adalah Raja’ telah pudar. Dan bagaimana dengan kenyataan yang ada saat ini? Lagi-lagi, saya mengatakan bahwa semua itu ‘back to the person’ kembali pada orangnya. Bukan banknya, atau lembaganya.

Mengapa saya menyatakan demikian? Saya pernah mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Acce tersebut. Kala itu, saya memasuki sebuah teras bank ‘Anu’ yang tidak jauh dari tempat tinggal saya dan ketika bertanya tentang pemotongan gaji suami saya, Baco selaku rekan Becce melayani saya dengan baik dan ramah lalu mengatakan bahwa untuk pengaduan dan keluhan seperti ini ditangani oleh Becce, silakan ibu menuju ke mejanya. Singkat cerita, saya pun menuju ke meja Becce tapi rupanya dia hendak keluar (padahal kedatangan saya adalah jam kerja), lalu saya mengatakan padanya tentang keluhan saya dan tanpa menghiraukan saya, dia bergegas menuju ke motornya pun tanpa memberikan sepatah dua kata. Lalu saya mengikutinya dari belakang dan bertanya, ‘Bu, apakah saya harus menunggu Ibu atau bagaimana?”. Dia tetap diam sambil menghidupkan mesin motornya dan setelah itu sambil membelokkan motor, Becce mengatakan “masuk saja ke dalam, bertanya pada Baco”, kemudian sambil setengah berteriak (karena motornya sudah mulai menjauh), saya berkata “justru pak Baco yang mengarahkan saya untuk bertemu Ibu”.

Hmm…sayang sungguh sayang! Suara saya hanya didengar oleh angin lalu. Becce dengan keangkuhannya telah menjauh dari bank. Tinggallah saya dengan kekecewaan yang tersisa karena pengaduan saya tidak dilayani olehnya. Namun walaupun demikian, saya tidak menyalahkan banknya yang tidak melayani saya dengan baik, akan tetapi saya hanya kecewa dengan sikap Becce yang menurut saya maaf *kurang etika yang baik sebagai seorang pegawai bank.

Nah dengan ulasan yang panjang kali lebar kali tinggi ini akan menjadikan disiplin setiap aparatur kantor terutama di bidang pelayanan publik akan menjadi lebih baik dan bermutu. Semoga prinsip “Nasabah adalah Raja” akan tetap membudaya dalam masyarakat Indonesia.

PENTINGNYA KECAKAPAN LITERASI BACA-TULIS ABAD KE-21


 

Literasi berasal dari bahasa Latin yaitu “litteratus (littera)”, dalam bahasa Inggris kata ini sebanding dengan kata “letter” yang bermakna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Sedangkan dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, Literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Berbicara tentang kualitas hidup erat kaitannya dengan perkembangan informasi dan teknologi. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah berada pada abad ke-21 dimana dalam meningkatkan kualitas hidup tersebut dibutuhkan berbagai kecakapan, diantaranya adalah kecakapan Literasi Baca-Tulis. Kecakapan Literasi Baca-Tulis ini merupakan fondasi literasi yang bermuara pada pembelajaran sepanjang hayat untuk mampu memaknai informasi dalam membaca, memahami dan menggunakan bahasa tulisan. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Hal ini sejalan dengan deklarasi UNESCO yang menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia yang menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Abad ke-21 merupakan era teknologi informasi. Kita dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan.  Oleh karena itu, diperlukan kecapakan untuk memiliki kemampuan membaca dalam memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif. Dengan kemampuan yang baik dalam membaca dan memahami tulisan, maka tentu saja tidak akan menyesatkan kita dalam berperilaku dan bertindak. Mengapa? Karena dengan pemahaman yang baik tersebut akan membuat kita mudah melakukan sebuah tindakan yang sesuai dengan hasil analisis dan refleksi dari teks yang dibaca tersebut. Sebagai contoh, ketika di sebuah media sosial terdapat berita hoaks atau berita palsu yang dibuat seolah-olah benar adanya dengan judul bacaan yang ditulis secara menarik, nah bagi masyarakat awam yang kurang/tidak memiliki kecakapan baca-tulis maka serta merta berita hoaks tersebut langsung dibagikan ke khalayak ramai tanpa membaca keseluruhan isi berita dan juga tidak menganalisanya dengan cermat. Bukankah hal ini telah menjadikan kita sesat dalam bertindak? Tanpa berpikir panjang langsung bertindak dan tidak lagi memperhatikan unsur kebenaran berita yang dibagikan tersebut.

Kejadian tersebut di atas merupakan salah satu akibat dari kurangnya kecakapan literasi baca-tulis yang dimiliki oleh seseorang. Lalu, apakah ada dampak buruk dari tindakan yang telah dilakukan bagi seseorang yang kurang memiliki kecakapan dalam literasi baca-tulis? Tentu saja ada! Dengan tersebarnya berita hoaks alias palsu tersebut kepada orang lain yang juga kurang/tidak memikili kecakapan literasi akan mengakibatkan mereka meyakini bahwa berita yang dibacanya adalah betul-betul terjadi. Hal ini pun bisa jadi menyebabkan pertentangan, perselisihan pendapat karena kurangnya pemahaman akan informasi yang telah mereka peroleh tanpa dianalisa dan direfleksikan dengan baik.

Saat ini kita berada di dalam kehidupan yang serba canggih. Perkembangan teknologi yang pesat akan membuat kita ketinggalan dan menjadi ‘udikan’ ketika kita tidak membarenginya dengan kemampuan membaca dan menulis yang baik. Sesederhana dan semudah apapun alat komunikasi yang kita miliki akan menjadi tak berguna ketika kita tak bisa mengoperasikannya karena petunjuk penggunaannya tak bisa kita pahami apatah lagi jika alat komunikasi tersebut merupakan alat yang canggih yang memerlukan pemahaman akan beberapa petunjuk pemakaian alat/benda tersebut.

Literasi baca-tulis merupakan kunci untuk membuka pintu pengetahuan. Muara pendidikan sepanjang hayat terletak pada literasi baca-tulis. Hal ini erat kaitanya dengan peserta didik seperti yang tertuang dalam buku ‘Design Induk Gerakan Literasi Sekolah’,  menurut ‘Word Economic Forum (2016)’ dijelaskan bahwa peserta didik memerlukan 16 keterampilan agar mampu bertahan di abad 21 di antaranya adalah literasi dasar yaitu baca-tulis. Kedua kemampuan ini memiliki hubungan yang erat dalam penguasaan kosa kata dan juga kemampuan berbahasa. Seorang peserta didik dapat memeroleh ide ataupun gagasan melalui membaca dan setelah itu ide tersebut dapat dikeluarkan melalui sebuah tulisan. Tulisan yang baik tentu didukung oleh sebuah gagasan yang menarik dan diperkaya dengan kosakata yang saling terkait dan mudah dipahami. Peserta didik yang terbiasa membaca dan menulis akan dengan mudahnya menemukan pilihan kata atau istilah yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal sehingga akan membuat komunikasi dapat berjalan dengan baik pula.

Jika peserta didik dapat memiliki kecakapan literasi baca-tulis ini maka mereka akan dapat menyerap informasi dari bacaan serta meningkatkan imajinasi dan kreativitas yang semakin luas karena terbentuknya pola pikir yang lebih tajam dan terstruktur sehingga mereka mampu memahami sumber bacaan dengan lebih simpel dan menarik. Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang mumpuni maka akan mampu membentuk karakter yang mulia sehingga tidak mudah terombang-ambing dalam gejolak beragam informasi yang muncul begitu saja di hadapan kita , baik melalui media cetak online dan offline ataaupun audio visual. Selain itu, dengan kecakapan literasi baca-tulis yang memadai maka mereka akan mudah meraih kemajuan dan kesuksesan serta keunggulan kualitas diri. Maka tidaklah mengherankan ketika UNESCO menyatakan bahwa kemampuan literasi baca-tulis merupakan titik pusat kemajuan. Seperti yang ditegaskan di dalam Vision Paper UNESCO (2004) bahwa kemampuan literasi baca-tulis menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis dan ekonomis pada zaman modern.

Setelah memahami pentingnya kecakapan literasi baca-tulis yang tersebut di atas, maka kita patut untuk memacu diri dan peserta didik untuk lebih meningkatkan kecakapan literasi baca-tulis tersebut agar dapat menjadi insan yang unggul, berkualitas dan bermanfaat bagi orang lain.  Bukan sebagai insan yang hidup dalam keterbatasan dan bahkan menghadapi banyak persoalan yang tak mampu diselesaikan. Kualitas hidup yang baik dapat ditumbuhkan dengan adanya kemampuan baca-tulis. Oleh karena itu, mari kita memperkenalkan, menanamkan dan membiasakan kecakapan literasi baca-tulis dalam kehidupan sehari-hari. (2019)

 

#INAElectionObserverSOS Apakah Itu?


Saat ini di dunia media sosial lazim terlihat sebuah tagar yang bertuliskan #INAElectionObserverSOS

Tagar tersebut dituliskan di kolom komentar ketika ada sebuah berita ataupun pernyataan menyangkut keberhasilan, keunggulan, prestasi dari salah seorang calon presiden yang ditampilkan oleh media berita online.

Lalu, apakah sebenarnya makna dan tujuan dari tagar #INAElectionObserverSOS tersebut? apakah seluruh kaum netizen sudah memahami betul pengertian dari tagar itu sendiri atau hanya sekedar membuat penandaan untuk dapat dikatakan sebagai seorang netizen kekinian yang paham betul akan permasalahan/topik yang sedang hangat dalam masa-masa panas kampanye menjelang Pilpres 2019? dan apapula tujuan dibuatnya tagar tersebut? Hmm…let’s see!

Baiklah, mari kita bahas bersama tentang tagar #INAElectionObserverSOS tersebut. Tagar ini terdiri dari 4 kata yaitu :
INA = Indonesia
Election = Pemilihan
Observer = Pengamat
SOS = Save Our Souls
Nah jika kita artikan secara menyeluruh bahwa tagar #INAElectionObserverSOS adalah pengamat pemilihan Indonesia meminta bantuan atau bisa pula berarti Indonesia membutuhkan bantuan dari pengamat pemilihan (baca dari luar Indonesia).
SOS merupakan tanda darurat internasional dalam kode (· · · — — — · · ·), biasanya dipakai oleh kapal untuk minta tolong yang biasanya diartikan secara populer sebagai kependekan save our souls ‘selamatkan jiwa kami.
Baiklah…kita kembali pada tujuan dibuatnya tagar tersebut, untuk mengetahui secara pasti tujuan dibuatnya tagar #INAElectionObserverSOS ini adalah terlebih dahulu memastikan pembuat TT (Trending Tagar) ini siapa?apakah dari kalangan rakyat Indonesia yang pro pada salah satu capres ataukah dibuat oleh kaum netralitas (di luar kampret dan cebong) *maaf…saya meminjam istilah ini karena sering terbaca di mana-mana namun jarang digunakan sebagai tagar.
Terlepas dari siapapun pembuat tagar tersebut, maka kita patut prihatin dengan kondisi saat ini dikarenakan adanya jiwa-jiwa yang merasa perlu diselamatkan bahkan hingga meminta bantuan ke dunia internasional. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah memang betul situasi pemilihan yang akan kita laksanakan pada bulan April mendatang dalam kondisi darurat? Jika ya, maka layaklah tagar tersebut kita jadikan trending topic, namun jika sebaliknya, maka tentulah kaum netizen selayaknya lebih bijak menggunakan tagar yang sesuai dengan kondisi yang betul-betul riil bukan hoaks.
Diakhir tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk lebih memperokokoh rasa persatuan dan kesatuan untuk ketentraman bangsa ini. Sebaiknya sudahi saja panggilan tak etis di antara sesama kita. Pilihan boleh berbeda namun kebersamaan harus tetap bersatu. Mari kita kembalikan kejayaan kalimat indah, “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”! Hiduplah Indonesia Raya!