PembaTIK Melahirkan Guru Inovatif


PembaTIK melahirkan guru inovatif?Iya! Saya berani menyatakan demikian, karena melalui PembaTIK di Level 4 ini, para Sahabat Rumah Belajar melakukan webinar untuk berbagi. Ada yang tampil secara tunggal, dan ada pula yang berkolaborasi dengan nama yang unik dan ide yang cemerlang nan kreatif.

Kemampuan untuk tampil dalam sebuah webinar lahir dengan begitu terstruktur dan masif. Setiap Sahabat Rumah Belajar yang ingin berbagi, difasilitasi oleh Pusdatin Kemdikbud melalui sebuah meeting conference yang menggunakan fasilitas Cisco Webex Meeting dan Zoom Meeting.

Saya sendiri pun melakukan 2 kali webinar dengan menggunakan kedua fasilitas tersebut, dan selebihnya berbagi TIK menggunakan fasilitas media sosial Facebook, Telegram, dan Whatsapp.

Pada media sosial Facebook, saya menggunakan fasilitas “forum” untuk berkomunikasi daring dengan rekan guru dan berbagi TIK namun pada saat berdiskusi tidak dapat berbagi file seperti pada media Zoom dan Cisco Webex Meeting.

Lain halnya dengan media sosial Telegram dengan membuat channel atau saluran untuk berbagi. Pada media ini saya tidak menggunakan video conference ataupun fasilitas audio visual lainnya. Akan tetapi, saya hanya melakukan proses berbagi melalui pesan teks dan diikuti oleh 50 subscriber.

Dalam penggunaan media sosial Whatsapp, saya menggunakan fasilitas audio visual dan juga pesan teks baik di dalam sebuah grup maupun perorangan.

Selain tatap maya, saya pun melakukan tatap muka namun pesertanya dibatasi dalam setiap kali pertemuan mengingat protokol kesehatan yang harus dipatuhi.

Dalam berbagai kegiatan tersebut, saya memperkenalkan dan membagikan tentang aplikasi videoscribe, yaitu sebuah aplikasi yang digunakan untuk membuat animasi papan tulis. Nah, dalam penggunaan aplikasi tersebut maka untuk sumber belajarnya, saya menggunakan fitur sumber belajar dari https://belajar.kemdikbud.go.id.

Mengapa saya mengatakan bahwa PembaTIK melahirkan guru inovatif?Tentu saja karena saya sendiri pun merasakan bahwa melalui kegiatan PembaTIK ini, adrenalin Sahabat Rumah Belajar seakan dipicu dan didorong untuk mampu melakukan terobosan baru dalam pemanfaatan TIK dan membagikannya dengan senang hati kepada para pendidik lainnya.

Tentu saja ini suatu hal yang menggembirakan, karena sebelumnya masih sering ditemui pendidik yang gaptek dan cenderung menggunakan media pembelajaran yang itu-itu saja. Salah satu contohnya adalah pada diri saya sendiri, di mana sebelumnya saya kurang termotivasi dan kurang percaya diri untuk melakukan webinar dan hanya menggunakan platform Zoom dan Webex. Akan tetapi, dengan adanya kegiatan berbagi TIK ini, saya ingin merambah ke pelosok dan kepada mereka yang masih asing dengan aplikasi yang saya sebutkan di atas. Oleh karena itu, saya terinspirasi untuk menggunakan forum Facebook, Telegram, dan Whatsapp yang mana hampir seluruh penduduk di Indonesia yang menggunakan Android memanfaatkan ketiga platform tersebut.

Bagi saya, berbagi hal kecil untuk sebuah manfaat besar adalah menjadi tujuan untuk bermanfaat pula bagi orang lain.

Nah, Sahabat Rumah Belajar! Mari kita berbagi walaupun hanya sekecil biji sawi! Berimajinasi dan berinovasi adalah langkah awal untuk menjadi bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.aamiin.

pena.belajar.kemdikbud.go.id #PembaTIK2020 #RumahBelajar #DutaRumahBelajar2020 #PusdatinKemdikbud #BerbagiTIK #merdekabelajar

Memanfaatkan Bantuan Kuota dari Pemerintah


Belajar di era Pandemi membutuhkan inovasi kreativitas, dan keikhlasan. Pembelajaran Jarak Jauh membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, terutama orang tua.

Ketika keikhlasan untuk berbagi dan memperoleh ilmu telah dimiliki, maka kerbatasan sejatinya bukanlah penghalang untuk menjadi bermanfaat.
Belajar, bukan paksaan namun sebuah kebutuhan.

Jangan letih untuk bergerak dan jangan pernah menyesali sebuah tindakan jika itu untuk kebaikan!
Banyak jalan menuju Roma!
Banyak pilihan meraih harapan
Tentu banyak cara menjadi bermanfaat!

Menuju Transformasi Pendidikan dengan memanfaatkan Portal Rumah Belajar di https;//belajar.kemdiikbud.go.id bersama Komunitas Rumah Belajar Kemdikbud dan Rumah Belajar Kemdikbud, Rumah Belajar Papua Barat

“Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)*@yayang08

#PusdatinKemdikbud #PembaTIK2020 #BerbagiTIK #RumahBelajar #PendampingGuruPenggerak #GuruPembimbingKhusus

Continue reading

Merdeka Belajar dengan Portal Rumah Belajar


Merdeka Belajarnya! Rumah Belajar Portalnya! Maju Indonesia!

Slogan tersebut bukan hanya sekedar slogan, namun melalui Portal Rumah Belajar, para pendidik dapat mewujudkan merdeka belajar dan mewujudkan transformasi pendidikan. Mengapa? Karena di era pandemi saat ini, Pembelajaran Jarak Jauh bukan lagi menjadi tren akan tetapi, merupakan sebuah keharusan dan tuntutan.

Sekolah-sekolah ditutup dan mengharuskan kita melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh ini seyogyanya dilakukan sebagai upaya untuk menjaga jarak dan mencegah penularan Covid-19. Bukan upaya menjauhkan ikatan emosional antara pendidik dan peserta didiknya.

Melalui pembelajaran jarak jauh, pendidik diharapkan dapat mengimplementasikan merdeka belajar. Bukan menjajah pembelajar! Bukan hanya sekedar memberikan tugas namun tidak ada timbal balik ataupun interaksi antara pendidik dengan peserta didiknya. Lalu, aktivitas seperti apa yang membuat kita harus memerdekakan pembelajar?

Merdeka belajar adalah adanya perasaan bebas tanpa merasa terkekang selama proses belajar mengajar, bahkan diharapkan agar suasana merdeka belajar itupun masih melekat hingga selesai jam persekolahan. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah tidak melulu hanya mengerjakan tugas ataupun latihan dari buku PR ataupun buku latihan yang diberikan kepada peserta didik untuk selanjutnya dikerjakan di rumah dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Melalui Portal Rumah Belajar, peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran yang didownload dari https://belajar.kemdikbud.go.id. Pada portal tersebut, terdapat berbagai fitur yang dapat dimanfaatkan oleh para pendidik, di antaranya https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/. Selain itupula terdapat fitur https://kelasmaya.belajar.kemdikbud.go.id/. Ada bank soal, dan masih banyak fitur dari Portal Rumah Belajar yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis TIK.

Sebelum pembelajaran jarak jauh, saya mengajak orang tua peserta didik untuk dapat menggunakan Portal Rumah Belajar, Google Classroom, Zoom Meeting dan juga aplikasi media sosial lainnya.

SRB Papua Barat Berbagi


Sahabat Rumah Belajar atau biasa disingkat SRB adalah para peserta PembaTIK Level 4 di tahun 2020 yang melakukan kegiatan berbagi pemanfaatan TIK ataupun inovasi pembelajaran. Kegiatan berbagi TIK ini diawali oleh SRB Irawati sekaligus launching Program Berbagi dari Papua Barat yang dinamai “Gebrakan Betatas Merah”.

Gebrakan Betatas Merah adalah singkatan dari Gerakan Berani dalam Pendidikan, Belajar tanpa Batas Meraih Harapan. Program ini diinisiasi oleh DRB Papua Barat 2018, Dolfanweik Hukom dan DRB Papua Barat 2019, Djamal Jafar. Selain itu, Gebrakan Betatas Merah merupakan sebuah gerakan berbagi yang memanfaatkan Portal https://belajar.kemdikbud.go.id dalam pembelajaran.

Dalam kegiatan webinar perdana yang diadakan pada tanggal 06 Oktober 2020, Irawati membagikan inovasi pembelajaran dengan menggunakan aplikasi “Video Scribe” (White Board Animation) untuk animasi video pembelajaran. Adapun webinar yang digunakan melalui Cisco Webex Meeting dan dihadiri oleh kurang lebih 20 orang peserta.

Dalam webinar kali ini, DRB Kalimantan Selatan yang merupakan DRB Terbaik 2019 , Bang Deni. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi SRB ketika webinar yang dilakukan hari ini berjalan dengan baik dan dapat memberikan manfaat bagi peserta lainnya.

Semoga pada webinar selanjutnya dapat memotivasi para SRB dan Pendidik untuk dapat memanfaatkan inovasi pembelajaran melalui TIK.

Webinar ini dapat ditonton pada kanal “Gege Channel” https://www.youtube.com/watch?v=txzJV3UJPlk

Tol Langit “Ring Palapa”, Telah Terbuka!


Dibayar Berapa oleh XL untuk “mengendorse” layanannya?

Ah, Tidak koq! Aku melakukannya dengan senang hati dan tak mengharapkan imbalan.

Bukan pula karena layanan penyedia layanan jasa telekomunikasi ***k*msel yang sebelumnya setia menemani kami di pelosok tak memuaskan. Bukan! Ini semata hanya wujud dari rasa senang aku karena ketersediaan akses “provider” jastel lain yang turut menemani si abang dalam melayani masyarakat Mansel utamanya yang di pelosok dalam urusan telekomunikasi.

Ini sebuah kebanggaan tersendiri menyambut 2020. Sebuah bukti pemerataan tol langit melalui ‘Ring Palapa’ bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Dengan adanya kemudahan akses telekomunikasi dari berbagai penyedia layanan akan memberikan pilihan bagi pengguna jastel untuk dapat memanfaatkannya dengan baik.

Saat ini jaringan 4G, sudah dapat dinikmati di kawasan pelosok Mansel, bahkan provider selain Telkomsel pun telah merambah di Distrik (baca kecamatan) Momiwaren.

Distrik yang sebelumnya tak ada jaringan telekomunikasi terlebih lagi internet. Namun bukan Mansel namanya jika tak mampu menyaingi kabupaten pemekaran baru lainnya. Dengan adanya perhatian dari pemerintah, maka telah hadir pula penyedia layanan komunikasi selain Telkomsel, yaitu XL dengan jaringan internet 4G yang penuh.

Meningkatnya kemudahan mengakses informasi dan telekomunikasi di pelosok akan ikut memeratakan kualitas pendidikan dan kesejahteraan penduduk.

Semoga di tahun 2020, semua distrik yang ada di kabupaten Mansel telah dapat menikmati jaringan komunikasi demi pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

#INAElectionObserverSOS apakah itu?


Saat ini di dunia media sosial lazim terlihat sebuah tagar yang bertuliskan #INAElectionObserverSOS

Tagar tersebut dituliskan di kolom komentar ketika ada sebuah berita ataupun pernyataan menyangkut keberhasilan, keunggulan, prestasi dari salah seorang calon presiden yang ditampilkan oleh media berita online.

Lalu, apakah sebenarnya makna dan tujuan dari tagar #INAElectionObserverSOS tersebut? apakah seluruh kaum netizen sudah memahami betul pengertian dari tagar itu sendiri atau hanya sekedar membuat penandaan untuk dapat dikatakan sebagai seorang netizen kekinian yang paham betul akan permasalahan/topik yang sedang hangat dalam masa-masa panas kampanye menjelang Pilpres 2019? dan apapula tujuan dibuatnya tagar tersebut? Hmm…let’s see!

Baiklah, mari kita bahas bersama tentang tagar #INAElectionObserverSOS tersebut. Tagar ini

The Right Man on the Right Place


“Orang yang tepat pada tempat yang tepat” Begitulah kira-kira arti dari judul tulisan di atas.

Pada beberapa tempat yang merupakan pelayanan umum, sering kita menemukan ketidakpuasan akan pelayanan dari petugas di tempat tersebut.

Sebagai contoh, di sebuah instansi pemerintahan dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah sedang mengadakan sebuah proses rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Untuk proses penerimaan dokumen fisik yang dimasukkan melalui BKD tentu saja diperlukan beberapa orang sebagai Panitia Pelaksana Penerimaan CPNS.

Semua pasti berharap agar proses rekrutmen ini berjalan dengan baik dan sesuai prosedur (ini akan terjadi jika orang yang bekerja di dalamnya adalah orang yang tepat).

Pada sebuah kasus di beberapa tempat, terjadi ketidaksinkronan antara Jika saja

Nasabah adalah Raja


Dahulu, istilah ini masih sangat diagung-agungkan oleh rakyat Indonesia khususnya bagi para pekerja-pekerja di bank ataupun di tempat umum (nasabah diganti pelanggan/tamu). Namun saat ini yang terjadi adalah adanya pertukaran tempat dari kalimat “nasabah adalah raja” menjadi “petugas adalah raja”.

Mengapa saya menyatakan demikian? Hal ini didasari pada banyak kasus laporan/pengaduan pada beberapa tempat umum yang mengeluhkan akan ketidakpuasan pengunjung/pelanggan akan pelayanan petugas dalam melaksanakan pekerjaannya. Keluhan serupa sering ditemukan pada beberapa bank yang kredibilitas perusahaannya tidak diragukan lagi.

Pada dasarnya keluhan yang timbul ini bukan karena manajemen dari bank tersebut tidak baik akan tetapi kembali pada ‘person’nya.

Seorang pekerja bank yang telah digembleng, dan diberikan ilmu dan instruksi untuk menghadapi nasabah dengan ramah, baik, sopan dan menyenangkan tentunya diharapkan agar dapat bersikap seperti yang diinginkan atasan untuk menciptakan iklim kerja yang baik serta pelayanan yang memuaskan. Akan tetapi, sedalam apapun hal itu ditanamkan kepada mereka tetap saja akan tidak berfungsi dengan baik jika dari hatinya tak menghendaki adanya kebaikan dan ketulusan untuk menciptakan pelayanan yang memuaskan tersebut.

Sebagai contoh, Becce (bukan nama sebenarnya) di bank B telah mengikuti training dan diklat untuk peningkatan mutu pelayanan *kantor (*baca bank) selama 1 bulan.

Setelah itu dia pun kembali melaksanakan tugas yang seharusnya sesuai dengan tupoksinya terlebih lagi Becce telah mengikuti diklat, namun apa yang terjadi? ternyata ketika dia didatangi Acce (bukan pula nama sebenarnya) yang merupakan nasabahnya, tak dihiraukannya dan malah asyik memencet gawainya (baca hape).

Nah, sebagai manusia biasa tentu saja perlakuan seperti ini dianggap Acce sebagai sebuah pembiaran, suatu bentuk pelayanan yang tak memuaskan dari Becce sebagai seorang pegawai bank.

Apakah Becce mengetahui perasaan Acce? mungkin ya dan mungkin pula tidak. Jika jawabannya ya, maka hal ini dikarenakan Becce tak mengindahkan sebuah prinsip “Nasabah adalah Raja”. Sebagai seorang nasabah selayaknyalah Acce dilayani dengan baik, didengarkan keluhannya dan direspon apa yang menjadi keinginannya sehingga Acce merasa dipedulikan, dan puas dengan pelayanan Becce. Sehingga sekembalinya dari bank dia akan memiliki persepsi positif dan baik tentang bank tersebut. Tapi kenyataannya berbanding terbalik kan?

Lalu jika jawabannya ‘tidak’, apakah penyebabnya? Tentu saja karena Becce terlalu asyik dan sibuk dengan gawainya sehingga tidak menyadari bahwa ada nasabah yang sedang menantikan pelayanannya. Dia pun mengabaikan segala bentuk pelatihan dan diklat yang telah diterimanya. Jika ini terjadi maka takkan dipungkiri lagi bahwa tentu saja Acce akan menganggap dirinya tak dihiraukan dan tidak dilayani dengan baik sebagai seorang nasabah.

Prinsip ‘Nasabah adalah Raja’ telah pudar. Dan bagaimana dengan kenyataan yang ada saat ini? Lagi-lagi, saya mengatakan bahwa semua itu ‘back to the person’ kembali pada orangnya. Bukan banknya, atau lembaganya.

Mengapa saya menyatakan demikian? Saya pernah mengalami kejadian seperti yang dialami oleh Acce tersebut. Kala itu, saya memasuki sebuah teras bank ‘Anu’ yang tidak jauh dari tempat tinggal saya dan ketika bertanya tentang pemotongan gaji suami saya, Baco selaku rekan Becce melayani saya dengan baik dan ramah lalu mengatakan bahwa untuk pengaduan dan keluhan seperti ini ditangani oleh Becce, silakan ibu menuju ke mejanya. Singkat cerita, saya pun menuju ke meja Becce tapi rupanya dia hendak keluar (padahal kedatangan saya adalah jam kerja), lalu saya mengatakan padanya tentang keluhan saya dan tanpa menghiraukan saya, dia bergegas menuju ke motornya pun tanpa memberikan sepatah dua kata. Lalu saya mengikutinya dari belakang dan bertanya, ‘Bu, apakah saya harus menunggu Ibu atau bagaimana?”. Dia tetap diam sambil menghidupkan mesin motornya dan setelah itu sambil membelokkan motor, Becce mengatakan “masuk saja ke dalam, bertanya pada Baco”, kemudian sambil setengah berteriak (karena motornya sudah mulai menjauh), saya berkata “justru pak Baco yang mengarahkan saya untuk bertemu Ibu”.

Hmm…sayang sungguh sayang! Suara saya hanya didengar oleh angin lalu. Becce dengan keangkuhannya telah menjauh dari bank. Tinggallah saya dengan kekecewaan yang tersisa karena pengaduan saya tidak dilayani olehnya. Namun walaupun demikian, saya tidak menyalahkan banknya yang tidak melayani saya dengan baik, akan tetapi saya hanya kecewa dengan sikap Becce yang menurut saya maaf *kurang etika yang baik sebagai seorang pegawai bank.

Nah dengan ulasan yang panjang kali lebar kali tinggi ini akan menjadikan disiplin setiap aparatur kantor terutama di bidang pelayanan publik akan menjadi lebih baik dan bermutu. Semoga prinsip “Nasabah adalah Raja” akan tetap membudaya dalam masyarakat Indonesia.