Jangan Paksa Aku Belajar, Mama!


Pagi itu di bawah pohon Trembesi terlihat sekelompok siswa kelas 4 sedang bersantai. Ada yang bermain kejar-kejaran dengan temannya, ada yang duduk di bawah pohon menikmati jajanannya.

Sementara tidak jauh dari mereka terlihat seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir sedang membuka-buka bukunya. Rupanya dia sedang belajar. Terlihat dari tingkahnya yang sesekali menunduk ke buku tulisnya kemudian bicara sendiri lalu menunduk lagi. Anak itu memang jarang bermain dan bersantai dengan teman-teman sebayanya. Dia bernama Eva.

Eva, gadis kecil yang berpostur bagus. Badannya lebih bongsor dibanding anak seusianya dengan tinggi kurang lebih 150 cm dan berat 45 kg membuat semua orang yang melihatnya akan terkesan bahwa anak itu ciri seorang anak sehat. Ya, memanglah Eva seorang anak yang sangat sehat, pintar dan rajin.

Tak ada mata pelajaran yang ingin dilewatkan oleh Eva. Semua bidang ilmu yang diajarkan di kelasnya akan dilahapnya dengan cepat. Sungguh Eva adalah potret seorang pelajar yang sangat ideal. Selain pintar, baik, dan rajin, dia pun cantik. Eva terlahir dari perpaduan Jawa-Padang dan lahir serta besar di Papua Barat.

Eva,

Advertisements

Mereka Butuh Aksi Solidaritas!


Sebut saja namanya “Mereka”, Mereka saat ini sedang berada dalam penantian. Mereka tinggal di sebuah desa nan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Setahun yang lalu Mereka berikrar dalam sebuah ikatan suci, yaitu sebuah rasa yang akan selalu membubung di pelataran jiwa Mereka beserta saudara-saudaranya bahwa dia akan selalu ada untuk saudaranya yang tak serahim.

Lalu, tiba-tiba ikrar itu telah terhempas pada sebuah kenyataan ketika saudara Mereka pergi ke pelosok untuk menunaikan tugas. Mereka seakan ditinggalkan pergi oleh saudaranya, dia menangis dan merasa sedih karena Mereka seakan tak diingat lagi oleh saudara-saudaranya.

Mereka merasa ditindas, hati dan perasaan Mereka diinjak-injak. Mereka ditinggalkan oleh saudara sulungnya yang menjadi pemimpin dari Mereka hanya karena usia mereka sudah melewati 35 tahun.

Saat ini Mereka butuh aksi solidaritas dari saudara-saudaranya. Mereka ingin dibantu entah itu dengan cara lisan, tulisan ataupun aksi.

Aksi Solidaritas yang akan dilakukan saudara Mereka akan merupakan sebentuk perhatian dan kepedulian, sebuah empati serta simpati bukan nyinyiran ataupun sindiran. Dengan begitu Mereka akan merasa dianggap oleh saudaranya.

Puisi “Guruku Sahabatku”


Guruku Sahabatku

Guruku (Guru de)
Pelita Hidupku (Anjengke Dingon)
Engkau Sahabatku (Nani Agondut da)
Menemaniku saat belajar (Agwam bidda eio blajarti)
Membimbing dan Mendidikku (Agondudda ma ampudda)
Dikala Otakku sedang lapar (lew njab dinggum)

Guruku (Guru de)
Terimakasih atas jasamu(Dijem sijo bagnoni)
Dalam menerangi hidupku(Nani ajangke dingonti)

Guruku Sahabatku (Guru de na ngon dut da)

Oh my Teacher,
You are my light
You are my besy friend
Always with me
to lead and teach me
when my brain is hungry

Oh my Teacher,
Thanks for your kindness
For being my light
My Teacher, My Best Friend

Puisi karya kelas V Sdinpresnoldelapan Oransbari
Guruku Sahabatku dalam 3 versi Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah Papua (Atam), Bahasa Inggris

#kelasliterasi
#mulokbahasadaerah
#mulokbahasainggris
#pembelajaranabad21
#cintaIndonesiadanbudayanya

Hak Konstitusional Warga Negara telah dikebiri oleh UU ASN No.5 Tahun 2014 dan PP Nomor 11 Tahun 2017


Pembatasan usia menjadi CPNS dan Pengangkatan status sebagai PPPK (Pegawai Pemeringah dengan Perjanjian Kontrak) bagi ASN bagi saya merupakan pengebirian hak konstitusional yang tertuang dalam Pasal 28D ayat (3) UUD 1945 dinyatakan, “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.” Nah, merujuk kepada konstitusi, menjadi PNS itu merupakan salah satu bentuk hak warga negara untuk ikut serta dalam pemerintahan. Tidak hanyaitu, dalam Pasal 28C ayat (2) UUD 1945 juga dijelaskan, “Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.” Jadi, pembatasan usia menjadi CPNS tanpa alasan yang rasional adalah suatu bentuk peraturan yang merugikan hak konstitusional warga negara. Kalau usia di atas 35 tahun tidak layak lagi untuk diangkat menjadi CPNS, apakah mereka sudah tidak produktif lagi?
Mungkin belum banyak yang menyadari dan merasa dirugikan akan hal ini. Saya sangat sependapat dengan Nani Efendi seorang pemerhati hukum yang menyatakan bahwa “kebanyakan masyarakat hanya menerima saja ketentuan pembatasan usia perekrutan CPNS. Seolah-olah ketentuan itu merupakan ketentuan Tuhan. Padahal, ketentuan itu dibuat oleh manusia juga. Ketentuan batasan usia menjadi CPNS paling tinggi 35 tahun itu terdapat dalam Pasal 6 huruf b Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil. Jadi, ketentuan batasan usia 35 tahun untuk menjadi CPNS itu terdapat dalam Peraturan Pemerintah atau PP, bukan ketentuan Tuhan. Kemudian pada tahun 2014, diberlakukan sebuah UU Aparatur Sipil Negara yang memuat tentang Manajemen ASN terkait pembatasan usia sebagai Pegawai Negeri Sipil dan juga pengalihan sebagai PPPK dimana hal ini kembali diperkuat dalam PP Nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Kepegawaian.

Peraturan Pemerintah ini jelas bertentangan dengan hak azasi manusia dan juga asas pembentukan peraturan itu sendiri dimana pada pasal 2 poin j UU ASN disebutkan bahwa penyelenggaraan manajemen ASN berdasarkan pada asas “nondiskriminatif” dan dalam bagian pertimbangan dikatakan pula bahwa penerapan manajemen kepegawaian ini menggunakan sistem merit dimana pada bagian ke 22 dijelaskan bahwa Sistem Merit adalah kebijakan dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Nah…bukankah UU ASN ini mengalami cacat hukum?

Memang, dalam UU tersebut ada disebutkan “memenuhi syarat-syarat tertentu”. Tetapi, syarat-syarat tertentu itu tidak disebutkan bahwa usia harus paling tinggi 35 tahun. Jadi, selama ini, Peraturan Pemerintah-lah yang membatasi usia untuk menjadi CPNS. Selama ini, kebanyakan warga negara hanya menerima saja semua ketentuan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah-olah semua ketentuan itu baik, benar, dan adil bagi rakyat. Padahal, tidak semua peraturan yang dibuat oleh pemerintah itu adil bagi rakyat. Terkadang, peraturan yang dibuat oleh pemerintah justru membatasi hak-hak konstitusional warga negara yang bersifat azasi. Hal ini dibuktikan dengan ketidakadilan yang diberlakukan pada ASN antara PNS dan PPPK pada Bagian Kesatu tentang Hak PNS Pasal 21 diterangkan bahwa PNS berhak memperoleh: a. gaji, tunjangan, dan fasilitas; b. cuti; c. jaminan pensiun dan jaminan hari tua; d. perlindungan; dan e. pengembangan kompetensi dan pada Bagian Kedua Hak PPPK Pasal 22 dijelaskan pula bahwa PPPK berhak memperoleh: a. gaji dan tunjangan; b. cuti; c. perlindungan; dan d. pengembangan kompeten.

Apakah Pembaca bisa melihat/membaca ketidakadilan tersebut?pada pasal 23 UU ASN tersebut dijelaskan dengan terang bahwa kewajiban ASN (PNS dan PPPK) adalah sama namun hak yang mereka miliki tidaklah sama. Apakah ini adil? Apakah ini tidak diskriminatif?? Saya dengan tegas mengatakan bahwa peraturan tersebut sangat tidak adil dan telah mengebiri hak konstitusional rakyat Indonesia.

Pembatasan usia menjadi CPNS maksimal 35 tahun semestinya harus ada rasionalitashukumnya maupun landasan-landasan teori ilmiah (science; ilmu pengetahuan), seperti tinjauan dari ilmu psikologi, sosiologi, maupun disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Mengapa usia menjadi CPNS dibatasi sampai usia 35 tahun? Mengapa tidak pada batasan lain seperti 30, 40, atau 45 tahun, atau pada usia lainnya? Apa yang menjadi dasar penetapan menjadi 35 tahun? Persoalan ini harus ada penjelasannya, baik secara yuridis maupun tinjauan ilmiahnya. Jadi, pembatasan usia menjadi CPNS tanpa alasan yang rasional adalah suatu bentuk peraturan yang merugikan hak konstitusional warga negara. Kalau usia di atas 35 tahun tidak layak lagi untuk diangkat menjadi CPNS, mengapa dari tenaga honorer bisa diangkat menjadi CPNS di usia 46 tahun sebagaimana diatur dalam PP Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil? Inikan tidak adil? Jadi, sekali lagi, tidak ada rasionalitas hukum maupun argumentasi ilmiah yang diberikan oleh pemerintah dalam hal pembatasan usia CPNS. Mengapa harus 35 tahun?

Membatasi usia CPNS sampai usia 35 tahun dan mengangkat mereka menjadi PPPK adalah jelas telah merugikan dan mengebiri hak-hak konstitusional warga negara. Dengan adanya pembatasan usia itu, banyak orang-orang yang punya potensi SDM yang baik tidak bisa terakomodir menjadi PNS hanya karena usia mereka telah melewati 35 tahun. Dengan kata lain, pembatasan usia itu merupakan salah satu bentuk pembatasan akses terhadap warga negara untuk mengembangkan hidup dan kehidupan mereka. Padahal, sangat banyak orang-orang yang berusia di atas 35 tahun yang punya kemampuan SDM yang mumpuni untuk menjadi PNS. Malah, mereka lebih kaya dengan berbagai pengalaman dan kemampuan.

Mereka yang berusia 35 tahun dirugikan telah oleh peraturan perundang-undangan yang memberikan batasan usia 35 tahun. Dengan demikian, kesempatan mereka untuk berkompetisi menjadi PNS menjadi lebih sedikit. Ini jelas merupakan perlakuan yang tidak adil. Oleh karena itu, melihat kondisi yang ada sekarang, sangatlah tidak tepat kalau usia untuk menjadi CPNS dibatasi hanya pada usia 35 tahun. Kesempatan warga negara untuk ikut serta dalam pemerintahan haruslah diberikan seluas-luasnya dan seadil mungkin. Menjadi PNS merupakan pilihan hidup dari warga negara dalam rangka ikut serta dalam membangun negara sebagaimana yang dijamin oleh UUD 1945. Oleh karena itu, ketentuan tentang batasan usia untuk menjadi PNS perlu ditinjau ulang agar hak konstitusional warga negara untuk ikut serta dalam pemerintahan tidak ada yang terabaikan.

Penguatan Pendidikan Karakter


GSH, 11 Desember 2016
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh : Dr. Latipun

Konsep Dasar

  • Karakter
  • Sikap, perilaku, skill, motivasi sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi tantnanga. Karakter sebagai hasil dari olah piker, olah hati, olah raga dan rasa serta karsa.
  • Sebagai isi dari proses pendidikan dan menjadi ‘generator’ bagi individu dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan nyata.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Definisi:

“ Gerakan Pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa(estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan public dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

photogrid_14814637739641Urgensi :

  1. Kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti
  2. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa.
  3. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, dan Kompetensi 4c (creative, communication, critical thinking & cooperation).

Rasional ( Landasan Hukum):

  1. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangs, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Agenda Nawacita No.8 : Penguatan revolusi karakter bangsa melalui bdi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
  3. Trisakti : Mewujudkan generasi yang berkepribadian dalam Kebudayaan (Trisakti: berdulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara social budaya).
  4. RPJMN 2015 – 2019 : Penguatan Pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memprkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan dan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”
  5. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 : yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.
  6. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud : untuk memperkuat pendidikan karakter.

Mendikbud menyampaikan bahwa Penguatan Pendidikan karakter merupakan poros utama perbaikan pendidikan nasional yang berkaitan erat dengan program prioritas pemerintah.

Pengembangan Nilai-nilai Karakter:

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara :

  • Olah Hati (Etika)
  • Olah Raga (Kinestetika)
  • Olah Pikir (Literasi)
  • Olah Karsa (Estetika)

Nilai-nilai Karakter :

  • Religius
  • Jujur
  • Toleransi
  • Kerja keras
  • Kreatif
  • Mandiri
  • Demokratis
  • Rasa ingin tahu
  • Semangat kebangsaan
  • Cinta tanah air
  • Menghargai prestasi
  • Bersahabat/komunkatif
  • Cinta damai
  • Gemar membaca
  • Peduli lingkungan
  • Peduli social
  • Tanggung jawab
  • Dan lain-lain.

KRISTALISASI NILAI-NILAI

Dari nilai-nilai karakter tersebut di atas, maka terdapat 5 kristalisasi nilai yang disebut Nilai Utama yang terdiri dari:

  • Religius
  • nasionalis
  • integritas
  • mandiri
  • gotong royong

Fokus Penguatan Pendidikan Karakter

  1. Struktur Program
  • Jenjang dan Kelas
  • Ekosistem Sekolah
  • Penguatan kapasitas guru
  1. Struktur Kurikulum
  • PPK melalui kegiatan intra-kurikuler dank o-kurikuler
  • PPK melalui kegiatan Ekstra-kurikuler
  • PPK melalui kegaitan non-kurikuler

Pendidikan Karakter Berbasis Kelas:

  • Integrasi dalam mata pelajaran
  • Optimalisasi muatan local
  • Manajemen kelas

Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

  • Pembiasaan nilai-nilai dalam kesehrian sekolah
  • Keteladanan Pendidik
  • Ekosistem sekolah
  • Norma, peraturan dan tradisi sekolah

Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

  • Orang tua
  • Komite Sekolah
  • Dunia usah
  • Akademisi, penggiat pendidikan
  • Pelaku Seni & Budaya, Bahasa & Sastra
  • Pemerintah & Pemda

Keluaran

  • Pembentukan individu yang memiliki karakter dan kompetensi abad 21

Hasil :

  • Olah Pikir ; Individu yang memiliki keunggulan academia sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat.
  • Olah hati, Individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa
  • Olah rasa dan karsa: Individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan.
  • Olah raga, Individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga Negara.

Materi yang disampaikan oleh Bapak Dr. Latipun tersebut di atas merupakan salah satu materi Bimbingan Teknis Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang berlangsung sejak 11-12 Desember 2016 sebanyak 8 jam pelajaran (selama 2 hari).  Pada sesi pertama materi Penguatan Pendidikan Karakter ini menciptakan suasana diskusi yang hangat diantara peserta Bimtek.

Semoga dengan mengikuti Bimtek PKB yang diikuti oleh 546 Calon Guru Garis Depan (GGD) tahun 2016 ini adalah peserta gelombang ke-3 dari 6926 peserta yang ada. Peserta sejumlah 546 peserta Calon GGD ini termasuk pepada GGD merupakan alumni PPG Prajabatan Dikti yang terdiri dari PPG SM-3T, PPG PGSD Berasrama, PPGT, PPG SMK Kolaboratif, dan PPG Basic Science. Para Calon GGD ini telah memiliki sertifikat pendidik sebagai salah satu persyaratan khusus untuk mengikuti serangkaian SCASN (Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara) dimana sebelumnya mereka telah mengabdikan diri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di seluruh wilayah Indonesia. Guru Garis Depan Indonesia melahirkan Guru yang Penyayang, Inspiratif dan Mendidik dengan hati dan juga akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai utama yang telah dibahas di atas.

Rapat Koordinasi Penandatanganan Nota Kesepahaman Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Guru Garis Depan Tahun 2016


Jumat, 13 Mei 2016

Pada hari ini di Grand Sahid Hotel, Jakarta sedang berlangsung Rapat Koordinasi Penandatanganan Nota Kesepahaman Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Guru Garis Depan Tahun 2016.
Kegiatan berlangsung tanggal 13-15 Mei 2016 dengan dihadiri oleh 93 Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sasaran dimana Rapat Koordinasi ini menjadi Kunci Inti terkait Kuota Final Formasi GGD Tahun 2016.

Pada Rapat ini sedang berlangsung Paparan Rasionalisasi GGD Tahap II kepada Pemerintah Daerah Sasaran.

Semoga kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar. Dan mampu menghasilkan keputusan yang optimal teruntuk formasi GGD Tahun 2016.

Tentu saja para penanti GGD II dihimbau untuk terus berdoa dan berkarya. Semoga nantinya akan tembus pada quota 7000 dalam GGD II..Amiin…

Posted from WordPress for Android

10 Situs Tempat Anda Penjualan Foto Online


Punya hoby memotret dan mengupload foto di media sosial? Tentu saja menarik jika dengan berfoto-foto dan menguploadnya di dunia maya dan Anda bisa menghasilkan uang dengan cara menjual stok foto atau gambar yang Anda miliki.

Wahhh??emang bisa??yaa iyya lahh..
Caranya gampang banget..Anda tinggal meng-upload foto, jika foto Anda menarik dan diambil oleh orang, Anda dapat menerima uang.

Cara mendapatkan uang dari internet ini, merupakan cara mudah dan asyik bagi Anda yang memotret hanya sebagai hobi, apalagi bagi seorang profesional..daripada hasil jepretan kamera Anda memenuhi memori mengapa tidak mencoba untuk merogoh kocek?

Dan inilah 33 situs, tempat dimana Anda bisa menjual foto secara online:

1. Fotolia
Anda bisa menjadi kontributor di Fotolia untuk menjual karya foto Anda ke seluruh dunia. Sekali foto Anda terjual, maka sejumlah uang akan langsung dimasukkan ke akun Anda. Dan bagi pembeli, mereka akan mendapatkan foto bebas royalti dari situs ini.

2. Getty Images

Situs ini biasa tidak menerima stok foto yang mereka rasa sudah terlalu banyak mereka miliki, terutama untuk foto bertema alam (nature). Untuk itu, Anda harus lebih kreatif lagi agar bisa menjadi kontributor di Getty Images.

3. iStockPhoto
Ini salah satu yang terbaik dari yang ada. Di sini, Anda tidak hanya bisa menjual foto, tapi juga ilustrasi, audio dan video. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mencobanya.

4. ShutterStock
Manfaatkan kreativitas Anda bersama ShutterStock. Karya Anda akan dilihat jutaan orang yang mencari foto untuk berbagai keperluan mereka, dan akan dibayar antara $0,2 – $25 rata-rata per sekali download.

5. Bigstock

Anda bisa memperoleh hingga $3 per download. Selain itu mereka juga memiliki program lisensi khusus, dimana Anda bisa memperoleh bayaran mencapai $2.5 – $60 setiap kali foto Anda didownload. Sangat patut untuk diikuti.

6. eBay
Siapa yang tidak tahu eBay. Ini adalah salah satu situs belanja online paling terkenal. Di sini Anda bisa menjual apa saja, termasuk foto-foto yang Anda miliki. Jadi, mengapa tidak mencobanya dari sekarang?

7. Veer
Sekali Anda terdaftar sebagai kontributor di situ sini, maka setiap kali foto Anda didownload, Anda akan menerima royalti, yang akan dibayarkan setiap pertengahan bulan, dengan nilai minimum pembayaran sebesar $100. Bukankah itu bisa menjadi sumber passif income?

8. Alamy
Mereka berbagi keuntungan sebesar 60% untuk Anda dari setiap penjualan. Ini salah satu yang terbesar dibandingkan situs lain di industri sejenis. Selain itu, di Alamy Anda bebas menentukan sendiri lisensi hak cipta dan editorial foto-foto Anda.

9. Crestock
Situs menawarkan sistem pembayaran royalti yang sedikit berbeda. Mereka menggunakan bagi hasil tergantung dari seberapa banyak image Anda didownload. Seperti misalnya, untuk download sebanyak 1 – 49 kali Anda menerima 20%, 250 – 999 sebesar 25% dan seterusnya. Silakan lihat langsung untuk lebih rinci lagi.

Selain itu juga tersedia sistem pembayaran per download, jika foto Anda didownload oleh pembeli dengan cara berlangganan. Besarnya berkisar antara $0,25 – $ 0,40.

10. 123RF
Sebagai kontributor, Anda akan menerima bagi hasil sebesar 60% dari situ sini. Selain itu, Anda pun bisa mendapatkan uang dengan mereferensikan pembeli atau pun kontributor lain, yang masing-masing mendapatkan bagi hasil sebesar 10%-15%.

Posted from WordPress for Android