Penguatan Pendidikan Karakter


GSH, 11 Desember 2016
Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
Oleh : Dr. Latipun

Konsep Dasar

  • Karakter
  • Sikap, perilaku, skill, motivasi sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi tantnanga. Karakter sebagai hasil dari olah piker, olah hati, olah raga dan rasa serta karsa.
  • Sebagai isi dari proses pendidikan dan menjadi ‘generator’ bagi individu dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan nyata.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Definisi:

“ Gerakan Pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa(estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan public dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

photogrid_14814637739641Urgensi :

  1. Kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti
  2. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa.
  3. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, dan Kompetensi 4c (creative, communication, critical thinking & cooperation).

Rasional ( Landasan Hukum):

  1. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangs, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Agenda Nawacita No.8 : Penguatan revolusi karakter bangsa melalui bdi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
  3. Trisakti : Mewujudkan generasi yang berkepribadian dalam Kebudayaan (Trisakti: berdulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara social budaya).
  4. RPJMN 2015 – 2019 : Penguatan Pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memprkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan dan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”
  5. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 : yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.
  6. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud : untuk memperkuat pendidikan karakter.

Mendikbud menyampaikan bahwa Penguatan Pendidikan karakter merupakan poros utama perbaikan pendidikan nasional yang berkaitan erat dengan program prioritas pemerintah.

Pengembangan Nilai-nilai Karakter:

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara :

  • Olah Hati (Etika)
  • Olah Raga (Kinestetika)
  • Olah Pikir (Literasi)
  • Olah Karsa (Estetika)

Nilai-nilai Karakter :

  • Religius
  • Jujur
  • Toleransi
  • Kerja keras
  • Kreatif
  • Mandiri
  • Demokratis
  • Rasa ingin tahu
  • Semangat kebangsaan
  • Cinta tanah air
  • Menghargai prestasi
  • Bersahabat/komunkatif
  • Cinta damai
  • Gemar membaca
  • Peduli lingkungan
  • Peduli social
  • Tanggung jawab
  • Dan lain-lain.

KRISTALISASI NILAI-NILAI

Dari nilai-nilai karakter tersebut di atas, maka terdapat 5 kristalisasi nilai yang disebut Nilai Utama yang terdiri dari:

  • Religius
  • nasionalis
  • integritas
  • mandiri
  • gotong royong

Fokus Penguatan Pendidikan Karakter

  1. Struktur Program
  • Jenjang dan Kelas
  • Ekosistem Sekolah
  • Penguatan kapasitas guru
  1. Struktur Kurikulum
  • PPK melalui kegiatan intra-kurikuler dank o-kurikuler
  • PPK melalui kegiatan Ekstra-kurikuler
  • PPK melalui kegaitan non-kurikuler

Pendidikan Karakter Berbasis Kelas:

  • Integrasi dalam mata pelajaran
  • Optimalisasi muatan local
  • Manajemen kelas

Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

  • Pembiasaan nilai-nilai dalam kesehrian sekolah
  • Keteladanan Pendidik
  • Ekosistem sekolah
  • Norma, peraturan dan tradisi sekolah

Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

  • Orang tua
  • Komite Sekolah
  • Dunia usah
  • Akademisi, penggiat pendidikan
  • Pelaku Seni & Budaya, Bahasa & Sastra
  • Pemerintah & Pemda

Keluaran

  • Pembentukan individu yang memiliki karakter dan kompetensi abad 21

Hasil :

  • Olah Pikir ; Individu yang memiliki keunggulan academia sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat.
  • Olah hati, Individu yang memiliki kerohanian mendalam, beriman dan bertakwa
  • Olah rasa dan karsa: Individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan.
  • Olah raga, Individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga Negara.

Materi yang disampaikan oleh Bapak Dr. Latipun tersebut di atas merupakan salah satu materi Bimbingan Teknis Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang berlangsung sejak 11-12 Desember 2016 sebanyak 8 jam pelajaran (selama 2 hari).  Pada sesi pertama materi Penguatan Pendidikan Karakter ini menciptakan suasana diskusi yang hangat diantara peserta Bimtek.

Semoga dengan mengikuti Bimtek PKB yang diikuti oleh 546 Calon Guru Garis Depan (GGD) tahun 2016 ini adalah peserta gelombang ke-3 dari 6926 peserta yang ada. Peserta sejumlah 546 peserta Calon GGD ini termasuk pepada GGD merupakan alumni PPG Prajabatan Dikti yang terdiri dari PPG SM-3T, PPG PGSD Berasrama, PPGT, PPG SMK Kolaboratif, dan PPG Basic Science. Para Calon GGD ini telah memiliki sertifikat pendidik sebagai salah satu persyaratan khusus untuk mengikuti serangkaian SCASN (Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara) dimana sebelumnya mereka telah mengabdikan diri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di seluruh wilayah Indonesia. Guru Garis Depan Indonesia melahirkan Guru yang Penyayang, Inspiratif dan Mendidik dengan hati dan juga akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai utama yang telah dibahas di atas.

Kiprah MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia) dalam Dunia Pendidikan menuju Usia Satu Tahun


MSI atau Masyarakat SM-3T Indonesia adalah sebuah komunitas yang memiliki loyalitas terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia khususnya di wilayah 3T (Terdepan,Terluar dan Tertinggal). MSI merupakan wadah yang memfasilitasi para pengabdi pendidikan untuk menyalurkan hasrat nurani mereka di wilayah 3T yang mencakup Papua-Papua Barat, NTT dan Bali, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

Adapun wilayah 3T tersebut telah berada dalam sebuah ikatan yang dinamai “Simpul 9” dimana setiap pulau memiliki koordinator yang berasal dari alumni PPG SM-3T dan merupakan bagian dari Masyarakat SM-3T Institute (MSI).

Sebagai sebuah komunitas yang bergerak penuh semangat untuk maju bersama mencerdaskan bangsa, MSI telah berkiprah besar di usianya yang terbilang masih sangat muda. Diantaranya adalah terlaksananya berbagai Program Kemanusiaan di bidang Pendidikan yaitu SM-3T Peduli, Lubuk Hati, SM-3T Merchandise serta pendirian Base Care (Base Camp of Agus Susilohadi Education Care) pada setiap wilayah di Simpul 9 Kekuatan Base Care ditandai dengan adanya perangkat sekretariat bersama penggiat SM-3T yang di dalamnya memuat tanggung jawab keaktifan literasi (taman baca/perpustakaan), ruang diskusi, elaborasi dan pengembangan pembelajaran, serta sebagai wadah persambungan aktivitas SM-3T Peduli yang mendapat arahan dan bimbingan dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Melalui MSI pula, sebuah program rintisan perekrutan Guru Masa Depan telah sukses dilaksanakan dengan telah diselenggarakannya perekrutan Guru Garis Depan (GGD) pada tahun 2015 yang merupakan guru-guru profesional dan telah bersertifikat pendidik sesuai dengan amanah UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005. Dan Pola Perekrutan Guru melalui GGD ini pun akan berlangsung untuk tahapan kedua (GGD 2016), dimana tentu saja para potensi pendaftarnya adalah mereka para alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah memiliki sertifikat pendidik dan merupakan lulusan dari PPG SM-3T, PPG SMK KOLABORATIF, PPG PGSD BERASRAMA, PPG BASIC SCIENCE, dan PPGT.

Tak sedikit alumninya yang mengabdikan diri kembali di daerah 3T, baik itu sebagai Guru PNS , Kontrak ataupun Sukarela. Hal ini terlaksana karena keterpanggilan jiwa mereka yang telah diyakini sebagai sebuah jalan untuk entitas marwah SM-3T yang telah melekat dalam diri mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Irawati, salah satu alumni PPG SM-3T Angkatan 2014 dari LPTK UNM prodi Bahasa Inggris bahwa kedatangannya kembali ke kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat karena keterpanggilan hati ketika mendengarkan rengekan siswa-siswinya yang sangat membutuhkan guru Bahasa Inggris. Begitupula dengan saudara-saudaranya Irmawati dan Jusbiah yang saat ini mengabdi di negeri di atas awan tanpa signal dan listrik.
Begitupula halnya dengan Ritayati, yang memilih untuk mendaftar CPNS Guru di kabupaten Supiori Biak dan akhirnya betul-betul menjadi pengabdi sejati di sana. Ada Aprisal yang memilih kabupaten Sumba Timur sebagai tempat pengabdiannya dalam GGD 2015, dimana sebelumnya telah menjalankan marwah SM-3T di Biak, Papua namun karena rasa keIndonesiaannya bahwa Sumba pun Indonesia sehingga pilihannya sangatlah tepat.
Ada Alfred asal Luwuk yang juga ingin menuangkan segala ilmu yang telah diperolehnya selama PPG dan membagikannya kepada anak didiknya di Rote Ndao. Tentu saja, jika Penulis hendak menuliskan nama mereka satu persatu maka blog ini tentu akan penuh karena begitu banyaknya alumni PPG Prajabatan Dikti yang telah kembali mengabdikan dirinya di daerah 3T.

Pada bulan ini, Juni yang merupakan Hari lahir MSI, telah dilakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk semakin meningkatkan minat belajar para peserta didik baik itu melalui SM-3T Peduli serta donasi pemberian buku melalui Program Lubuk Hati pada sekolah-sekolah yang membutuhkan dan juga bantuan lainnya berupa pemberian alat tulis dan peralatan sekolah yang dapat meningkatkan motivasi siswa ke sekolah. Begitupula pelaksanaan lomba-lomba di bidang pendidikan yang diadakan oleh MSI dan berlangsung mulai tanggal 23-26 Juni 2016.
Menurut Akhiruddin, Direktur MSI bahwa apa yang telah dilakukan saat ini tidak terlepas dari peranan alumni dan peserta PPG Prajabatan Dikti yang melaksanakannya dengan penuh sukacita dan keikhlasan.

Lalu, nantinya pada tanggal 26 Juni 2016, yang merupakan puncak pelaksanaan kegiatan MSI dan merupakan Hari Lahirnya Masyarakat SM-3T Indonesia akan diadakan sebuah TalkShow dimana akan melibatkan para pembicara di antaranya Pencetus SM-3T yaitu Bapak Agus Susilohadi, dan Ibu Prof. Luthfiyah Nurlaila sebagai Penggagas MBMI serta Bapak Abdullah Pandang, Direktur P3G LPTK UNM. Talk Show ini dilaksanakam demi menguatkan peran Masyarakat SM-3T Indonesia dan program SM-3T/PPG SM-3T dalam penanganan Pendidikan Daerah Tertinggal dan penyiapan Guru Masa Depan Indonesia.

Semoga dengan pelaksanaan Hari Lahir Masyarakat SM-3T Indonesia akan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk menghadirkan Guru Masa Depan Indonesia sesuai dengan yang dicita-citakan dan kelak melahirkan Generasi Emas Indonesia..Amiin Ya Rabbal Alamin.
Memanglah usia setahun bagaikan seorang balita yang masih belajar berjalan namun selalu ingin mencari tahu. Bagi kami, usia MSI boleh muda namun spirit para penggiatnya adalah spirit 45…
SALAM MBMI!

Saya, dari Simpul 9 wilayah Papua-Papua Barat mengucapkan Selamat Hari Lahir yang ke-1, semoga kami sebagai bagian dari MSI akan dapat selalu mengabdikan diri dan bukan hanya sebagai guru biasa di 3T namun menjadi Pendidik yang selalu dapat menginspirasi serta bermanfaat bagi semuanya.
Happy Birthday, MSI!
We Love You!

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android

Aku Kembali…ISTIMEWA (Ingin Selalu Tahu Ilmu dan MEmbagikannya kepada sisWA)


Pukul 07.30…

Setelah melewati sesi cipika-cipiki dengan rekan-rekan guru selama beberapa menit (eitz…yg perempuan dengan perempuan lho…hehehhee) akhirnya bel tanda masuk pun berbunyi. Sesi melepas kerinduan pun telah berlalu. Para guru yang bertugas mengawas segera masuk ke ruangan kelas. Kami bertiga duduk di ruangan guru dan mencari tempat duduk masing-masing. Aku segera memilih meja yang berdekatan dengan Pak Yesra Kandami yang saat ini bertugas sebagai guru bahasa Inggris. Aku melihat di meja tersebut masih terdapat tempat tisu yang aku jadikan sebagai tempat pulpen dan bertuliskan “Irawati,S.Pd. SM-3T jilid I”. Hahahaa…dengan bangganya aku memperlihatkan tempat pulpen tersebut kepada Theo dan mengatakan bahwa masih terdapat sisa kenangan yang membuktikan bahwa aku pernah betul-betul akrab dengan sekolah ini. Yaa..sekolah ini telah mengukirkan berbagai pengalaman dan kenangan (sebenarnya aku ingin menggunakan kata ‘berjuta kenangan’ namun aku takut akan ada yang mengatakan bahwa aku terlalu berlebih karena waktu yang aku miliki selama berada di sini terbilang singkat..hanya setahun :D).

Aku melihat ke sekeliling ruangan ini..tak banyak yang berubah…posisi meja dan kursinya masih di tempat yang sama. hmm…hanya lemari yang sepertinya ada penambahan jumlah karena di sudut kiri menghadap ke luar terdapat 4 (empat) buah lemari. Aku bersyukur dalam hati karena sekolah ini mengalami perkembangan yang pesat ditandai dengan bertambahnya ruangan kelas dan laboratorium.

Aku segera berjalan keluar untuk memperhatikan suasana halaman sekolah yang hingga kini belum diratakan. Aku ingat ketika kami baru menempati sekolah ini pada sekitar bulan Mei 2012, kami Srikandi SM-3T dan juga rekan-rekan guru yang lain mengarahkan siswa untuk bekerja bakti setiap sekali seminggu. Walaupun di halaman sudah tak terdapat lagi pepohonan yang besar dan tinggi tetapi rumput-rumputnya terlihat agak lebat. Mungkin karena kesibukan mereka belajar sehingga agenda bekerja bakti setiap seminggu sekali sudah ditiadakan. Dan sampai sekarang pun belum terlihat tiang bendera merah putih yang menunjukkan bahwa di sini sudah pernah diadakan upacara bendera setiap hari senin ataupun perayaan hari-hari bersejarah nasional lainnya..hmmm…sepertinya ini yang harus segera berubah. Ketika aku menanyakan hal ini kepada rekan-rekan dan juga kepala sekolah, beliau mengatakan bahwa bagaimana mereka bisa melaksanakan upacara bendera sedangkan jika mereka berbaris saja akan ada yang terlihat lebih tinggi ataupun lebih pendek karena halaman sekolah masih dipenuhi gundukan-gundukan tanah dan juga beberapa lubang bekas pohon yang habis ditebang. Yah…halaman sekolah kami hingga saat ini masih belum rata dan yang sering upacara adalah sapi-sapi yang bebas berkeliaran di halaman karena sekolah kami ini belum memiliki pagar. Semoga saja apa yang menjadi harapan kami dan anak-anak bahwa setiap hari Senin akan ada upacara bendera sehingga mereka dapat mengerti dan merasakan nilai-nilai kebangsaan bukan hanya dalam teori namun juga dalam praktik dapat tercapai jika halaman sekolah sudah mengalami perbaikan (tanahnya diratakan).

Ahh…pandanganku seketika dibuyarkan oleh suara bel sekolah tanda istirahat untuk UAS jam pertama yang dibunyikan di sampingku…”belnya masih sama seperti dulu…disaat kami masih mengabdi di sini,” gumamku dalam hati.

Semoga kehadiranku di sini bersama teman-teman alumni SM-3T dan juga rekan-rekan guru yang ada di sekolah ini dapat membawa perubahan dalam memajukan pendidikan untuk kabupaten Manokwari Selatan dan tentu saja sekolah ini khususnya. Amiin…

Pukul 11.30…

Aku bergegas ke rumah untuk segera masak karena di sekolah tak ada lagi kegiatan. Aku tak ingin terlambat masak karena itu berarti bahwa kami pun akan terlambat untuk makan dan jika demikian maka berhati-hatilah…malaria akan mengintai. Begitu berjalan ke dapur dan hendak mengambil panci untuk mencuci beras, ternyata di meja , ada rice cooker yang sudah terisi nasi yang sudah matang..hehehee…rupanya Theo bergerak lebih lincah daripada aku…tadi katanya dia bersegera untuk memasak mumpung genset dihidupkan. Inilah keuntungan memiliki tempat tinggal yang dekat dari sekolah…setiap ada waktu luang (jika memiliki keperluan di rumah) bisa segera ke rumah. Hebat ya??di tengah keterbatasan lingkungan, sarana dan prasarana, kami masih dapat menikmati kecanggihan dengan memasak menggunakan rice cooker yang notabenenya konsumsi minyak tanah untuk hari ini bisa dikurangi. Alhamdulillah…dengan begitu, kami bisa menggunakan minyaknya untuk menghidupkan pelita di malam hari mengingat listrik di rumah kami belum ada.

Aku bersegera memasak sayur dan mengolah ikan ‘Pallu Ce’la’ (Ikan Sale) yang aku bawa dari rumah dengan memotong daging ikan menjadi kecil-kecil (disuwir-suwir) dan aku menamainya abon ikan istimewa…hehehee….yahhh..tak ada yang tak istimewa dalam kehidupan kami..semua serba istimewa…karena kami adalah orang-orang istimewa…hahaha…kalian tahu apa itu ISTIMEWA? (Ingin Selalu Tahu Ilmu dan MEmbagikannya kepada sisWA).

Siang hingga sore hari…

Karena kelelahan telah bercuap-cuap (hehehe…) di kantor dengan rekan-rekan guru dan juga sebagian siswa yang datang berkunjung ke honai, aku memutuskan untuk beristirahat dengan memilih tidur siang sebagai kegiatan yang lebih efektif, tidak mengeluarkan biaya dan menyenangkan…wkwkwkwk…

Tidur dulu ahhh…aku yakin…sebentar sore aktivitas kami sebagai tim pemburu air kali akan tetap berlangsung karena hingga saat ini kami belum memiliki penampungan air…zzzzzzhhhzzzzz…tidur yukkk!….zzzhhhhhzzzz…

Sore hari…pukul 15.05 WIT…

Aku terbangun…begitupula dengan Theo dan juga Idhan…hmmm….sepertinya kami sudah memiliki alarm hati yang bunyinya bertepatan untuk bergegas menunaikan kewajiban. Theo membuang rasa malunya dengan berjalan ke arah profil tank adik-adik SM3T Jilid 3 dan berteriak dari luar untuk meminta air yang hendak dipakai berwudhu. Sementara aku berjalan ke belakang untuk melihat-lihat, eh…lebih tepatnya mencari-cari botol ataupun kaleng yang bisa dimanfaatkan untuk dibuat pelita sebagai penerangan kami di malam hari. Idhan yang penasaran dengan kegiatan yang aku lakukan segera bertanya dengan logat Luwuknya yang dominan menunjukkan kalau dia orang Manado, “bikin apa ngana di situ,Ira?”. Lantas aku menjawab “lagi cari-cari botol kosong sama kaleng”. “Mau ba apa ngana dengan kaleng deng botol?”, lalu aku mengatakan hendak membuat pelita…dan lagi-lagi dengan logatnya yang tak bisa hilang dia mengatakan,”ngana bilang kamari jo,supaya kita bikin itu pelita.” Eheeheheh….dan akhirnya kami menemukan botol M-150 yang berada di sekitar rumah kami. Awalnya heran juga sih, kami bisa menemukan botol tersebut di sini,mengingat tak ada rumah di sekitar sini. Namun aku langsung teringat bahwa mungkin saja para pekerja yang dulunya mengerjakan rumah ini yang setelah mengkonsumsinya lalu membuang botol minuman suplemen tersebut di sini.

Idhan bilang kalau kita tidak bisa membuat pelita karena tak ada sumbu…

Aha…Idhan belum tahu bahwa kesigapan, kemandirian dan ketahanmalangan telah melekat di diri kami anak-anak SM-3T begitupula dengan diriku. Aku segera membantu Idhan dengan mengambil sumbu yang telah kami beli ketika baru tiba di kota Manokwari kemarin. Dan akhirnya…pelita sederhana kami telah selesai dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar kami. Kaleng minuman yang terbuat dari aluminium kami gunakan sebagai batang sumbu. Karena penasaran, aku segera mengisinya dengan minyak tanah pinjaman (lagi-lagi dari adik tetangga kami yaitu Herman, Ancu dan Amin= personil SM-3T Jilid 3).

Dan akhirnya…waktu berburu air telah tiba…

Ke kali…dengan membawa ember…mandi dan pulang dengan bersimbah keringat begitu sampai di rumah kembali.

Dan malampun kini telah tiba…pelita baru kami kini sudah dapat digunakan untuk menerangi rumah. Idhan sengaja membuat 3 (tiga) buah pelita di rumah kami. Masing-masingnya digunakan di kamar dan 1 di luar. Malam ini aku segera tidur agar segera bangun keesokan harinya…zhhzhzhzhzhhhh….

Rabu, 12 Maret 2014….

Pagi ini aku terbangun dengan badan yang terasa segar karena semua kelelahan kemarin telah hilang oleh istirahat tidur semalam. Aku segera ke kamar mandi untuk buang air kecil dan betapa kagetnya aku ketika *maaf…meludah ke lantai..ternyata warnanya hitam…aku ketakutan dan segera menyelesaikan urusan di kamar kecil untuk memeriksa apa yang terjadi dengan diriku pagi ini. Begitu aku masuk di kamar,aku melihat ke arah Theo dan dia bertanya apa yang sedang terjadi denganku. Tapi aku tak segera menjawabnya, aku malah balik bertanya kepadanya mengapa ada coretan hitam di bawah hidungnya..hahahaa….dia tertawa dan menunjuk pula ke arah hidungku. Dikatakannya kalau akupun memiliki coretan di atas hidung…ohhh…rupanya asap pelita itulah penyebabnya…itupulalah yang menyebabkan ludahku berwarna hitam..hmmm…sebentar malam kami sepakat untuk tidak menyalakan pelita di dalam kamar.

Dan hari ini…semua aktivitas berlangsung dengan normal dan baik-baik saja hingga malampun datang menjemput lagi…